Mempertanyakan Profesi Pustakawan

“Di balik belenggu birokrasi ternyata ada persoalan fundamental yaitu pendekatan sektor yang telah mengkotak-kotakkan pemikiran dan aktivitas nyata di lapangan.”
Saya mohon tanggapannya Pak Putu:
“Pierce Butler menolak pustakawan sebagai profesi dan dia meragukan bahwa ilmu perpustakaan sebagai cabang ilmu pengetahuan karena miskin teori.
Pendapat itu didukung oleh William Goode yang mengatakan, kepustakawanan lemah terhadap kliennya. Hal itu berbeda dengan profesi dokter, apoteker, hakim, dan lainnya yang mampu memengaruhi kliennya.” (http://www.suaramerdeka.com/harian/0709/08/ked02.htm)
putubuku berkata
@Saca Firmansyah,
Berita di koran biasanya ditulis wartawan berdasarkan objek berita. Dalam hal ini objek beritanya adalah pidato pengukuhan Drs. Lasa Hs MSi. Saya belum membaca pidato pengukuhan tersebut, jadi tak bisa mengomentari apakah memang demikian maksudnya.
Tetapi, kata-kata yang ditulis wartawan mirip dengan teks di halaman 385 dari Encyclopaedia of Library History, di dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Peter J. Gilbert. Di akhir tulisan, disebutkan bahwa pada tahun 1951 Pierce Butler menyimpulkan kepustakawanan tidak akan jadi profesional karena kekurangan dukungan ilmu berdasarkan riset. Atau persisnya seperti ini
“..due primarily to an insufficiently strong theoritical knowledge base. A decade later William Goode came to much the same conclusion for much the same reason. The debate continues as to whether librarianship is destined to remain an occupation until it develops a scholarly basis for its centuries-old practical knowledge”
Kenapa Butler mengatakan demikian?
Sepengetahuan saya, Butler justru menulis sebuah buku tentang ilmu perpustakaan (Butler, P. (1933). An introduction to library science . Chicago, IL, University of Chicago Press.) dan dia antara lain mengatakan bahwa kepustakawanan adalah “transmission of the accumulated experience of society through the instrumentality of the book.” (Butler 1933)
Di bukunya pula ia menganjurkan sebuah pendidikan ilmu perpustakaan yang mengajarkan dan meneliti tentang kebutuhan informasi pengguna perpustakaan, penelitian sosiologi, psikologi, dan sejarah tentang pembaca dan kegiatan membaca.
Sebelum menulis buku itu, Butler dan kawan-kawannya juga mendirikan sekolah perpustakaan pertama di Amerika Serikat pada tahun 1927 dan menegaskan bahwa sebuah pendidikan tinggi akan benar-benar menjadikan para pustakawan pekerja profesional. Dalam kata-kata Butler, profesi pustakawan ini bukanlah semata-mata pelaksanaan kegiatan teknis sehari-hari di perpustakaan, melainkan sebuah “administration of the public trust”. Dengan kata lain, Butler justru menegaskan bahwa profesionalisme pustakawan adalah sebuah bentuk legitimasi dari kepercayaan yang diserahkan masyarakat kepada kelompok ini untuk mengelola bahan bacaan mereka.
Tetapi kemudian Butler dan kawan-kawan tersingkir dari sekolah yang mereka dirikan karena ada desakan dari pihak pustakawan praktisi yang kurang menghendaki pendidikan ilmiah bagi mahasiswa. Para praktisi ingin agar sekolah perpustakaan tak usah mengajarkan “ilmu”, melainkan mengajarkan “praktik” saja. Dalam konteks inilah kemudian Butler “menyerang” para praktisi dan mengatakan bahwa jika pendidikan tidak dilengkapi dengan penelitian akademik dan teoritis, maka lulusannya tidak akan menjadi profesional.
Sepuluh tahun kemudian perdebatan tentang “teori” versus “praktik” ini marak lagi ketika William Goode menganalisis profesi pustakawan dan membuat kesimpulan serupa dengan Butler.
Jadi, baik Butler maupun Goode sebenarnya tidak mengatakan bahwa pustakawan adalah kaum non-profesional, melainkan bahwa pustakawan tidak akan pernah menjadi profesional jika tidak didukung oleh ilmu yang berbasis penelitian dan teori. Kedua orang ini sedang berdebat dengan kaum praktisi yang terus menerus menampik pendidikan keilmuan dan mengutamakan pendidikan keterampilan.
Saya menduga wartawan Suara Merdeka hanya mengutip sebagian dari pidato pengukuhan Drs. Lasa, dan tidak mengaitkannya dengan keseluruhan perdebatan tentang profesionalisme pustakawan.
Cheers,
Putu Pendit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s