Kabar Pelestarian Lingkungan Hidup: 6

Lika-Liku Pelaksanaan Program Tahap 2
***
Tahap kedua diadakan setelah rapat triwulan Mapala UI. Ada berbagai masukan soal isu keberlanjutan. Salah satunya dengan mengembangkan potensi yang ada pada masyarakat itu sendiri dan menggalang dukungan dari berbagai  pihak untuk upaya-upaya pelestarian lingkungan. Dan upaya untuk menjamin keberlanjutan dari program yang telah disusun adalah dengan mengorganisir masyarakat dan memberikan keterampilan untuk membantu jalannya program.
Beberapa kegiatan yang direncanakan yaitu TOT Keorganisasian Masyarakat dan Pembentukan Kelompok Tani dengan diselingi aksi penanaman pohon untuk lebih menegaskan tujuan pelestarian lingkungan dari pembentukan kelompok tani.
Kegiatan-kegiatan Pra Pelaksanaan Tahap 2
Temu Mapala Se-Jabodetabeka
Ditjen PHKA Departemen Kehutanan, ESP-USAID bersama Yayasan Prakarsa mempunyai rencana untuk memamerkan sekaligus mencanangkan program Model Desa Konservasi pada hari Rabu, 7 Mei 2008. Dalam keterkaitannya dengan kegiatan di desa konservasi, khususnya di Desa Cinagara dan Desa Tangkil yang juga turut dipamerkan, Mapala UI merasa perlu untuk turut serta dalam kegiatan itu. Mapala UI pun masuk membantu kepanitiaan untuk dokumentasi acara.
Event yang melibatkan berbagai pihak yang berkepentingan dalam pelestarian TNGGP dan taman nasional lainnya ini rasanya sayang kalau dilewatkan begitu saja. Mapala pun mencoba untuk membuat side-event dalam kegiatan ini. Membawa jaringan Mapala Se-Jabodetabeka dalam isu lingkungan rasanya jarang ada dalam pikiran anak-anak Mapala UI saat ini. Untuk mengisi kekosongan itu, kami pun menggandeng jaringan PID Mapala se-Jabodetabeka, salah satu produk dari TWKM Mapala se-Indonesia, untuk turut serta dalam kegiatan itu.
Saat menemui kawan-kawan PID Mapala Se-Jabodetabeka, mereka ternyata sedang mengadakan Rapat Triwulan untuk membahas kegiatan selama kepengurusan tahun ini. Hadir juga disana kawan-kawan Mapala UI yang lain yaitu Rekso dan Ojan yang sedang mengajukan program bersama Mapala Jakarta untuk pelatihan penanggulangan bencana, khususnya banjir Jakarta. Dalam pertemuan tersebut, Mapala se-Jabodetabeka itu sepertinya masih kebingungan mengenai kegiatan-kegiatan ke depannya. Hanya ada rencana aksi saja, entah hari bumi atau hari lingkungan, konsepnya pun belum ada sama sekali.
Kami mencoba mengisi kekosongan. Tanggal 5 Mei 2008 direncanakan akan diadakan rapat lanjutan di Mateksapala Poltekkes Jakarta II. Kami pun menyiapkan seluruh konsep yang telah dibahas di Mapala UI sebelumnya. Kami masuk dalam forum itu dengan cara yang cukup dapat diterima semua pihak. Kami tawarkan program-program mapala kepada mereka. Dan dengan berbagai argumen yang kami kira memang benar-benar mengena dengan ‘hati nurani’ mapala yang hadir, kami terus mencoba menarik kembali seluruh perhatian kawan-kawan saat itu untuk sepenuhnya mendukung program yang kami ajukan. Kami undang mereka agar hadir dalam acara di Departemen Kehutanan. Mereka pun sepakat.
Acara di Departemen Kehutanan dilaksanakan pada tanggal 7 Mei 2008, di Ruang Irjen Dephut, Gedung Manggala Wanabakti Blok I Lantai 10, Jakarta, pada Pukul 14.00-1630 WIB. Acara tersebut kami bungkus dengan nama “Temu Mapala se-Jabodetabeka: Peningkatan Peran Universitas dan Mahasiswa Dalam Pengembangan Desa Konservasi di Daerah Penyangga Taman Nasional”. Tujuannya tidak lain adalah menindaklanjuti pertemuan-pertemuan sebelumnya dan meningkatkan kerjasama antar Mapala Se-Jabodetabeka dalam melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat, terutama yang terkait dengan permasalahan lingkungan hidup di Jabodetabeka dan sekitar kawasan TNGGP dan TNGHS sebagai tempat bermain utama Mapala di Jabodetabeka.
Alhamdulillah, Acara Temu Mapala Se-Jabodetabeka sudah terlaksana dengan segala keterbatasannya. Acara yang dihadiri oleh Bpk. Bambang Sukmananto dari Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGP) dan Bpk. Bambang Suprianto dari Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) serta tidak kurang dari 40 orang Mapala dari 20 Universitas ini telah menjadi awal yang cukup baik untuk membangun jaringan kerja bersama Mapala yang ada di Jabodetabeka. Hasil dari pertemuan lanjutan ini sendiri cukup mencerahkan beberapa anak Mapala dari beberapa universitas yang berbeda. Beberapa orang berniat memotori kegiatan-kegiatan bersama yang terkait dengan kegiatan Lingkungan Hidup dan pengembangan masyarakat daerah penyangga Taman Nasional di Bogor. Rencana tindak lanjut dari pertemuan ini adalah aksi lingkungan hidup tanggal 5 Juni 2008, bersih gunung gede pangrango, dan pengembangan desa konservasi di daerah TNGGP dan TNGHS dengan waktu dan tempat yang disesuaikan dengan hasil riset/yang dikehendaki Mapala UI setelah melalui mekanisme persetujuan PID Mapala se-Jabodetabeka.
Aksi Lingkungan Hidup Mapala Se-Jabodetabeka
Pasca pertemuan Mapala Se-Jabodetabeka di Departemen Kehutanan, nama Mapala UI -yang hingga kini tetap dianggap ‘eksklusif’ dalam pengertian yang tidak kami mengerti- mulai akrab lagi di telinga kawan-kawan Mapala se-Jabodetabeka. Terselenggaranya kegiatan itu membuat beberapa Mapala dari Universitas lain merapat ke Mapala UI. Oleh PID dan Panitia yang dibentuk untuk Aksi Mapala Se-Jabodetabeka, saya diminta untuk turut membantu mereka. Mereka sampai saat itu belum punya konsep yang jelas, hanya ada tenaga dan keinginan untuk bergerak.
Semangat seperti itu tentunya harus tetap dipelihara. Saya pun bersedia membantu. Tapi ditempatkan sebagai apa, belum jelas. Semua perangkat aksi sudah dibuat. Lalu kami tanyakan kepada mereka, apa yang sebenarnya ingin disampaikan dalam aksi ini? Tidak ada jawaban yang memuaskan. Kami tanyakan kembali apa bentuk aksi yang diinginkan? Jawabannya pun masih menunggu ide dari kawan-kawan lainnya.
Mengingat bahwa dalam aksi-aksi turun ke jalan yang paling penting adalah pembangunan dan penyampaian ‘pesan’, disertai juga dengan bentuk kegiatan yang unik untuk dapat disampaikan media massa dan diterima dengan baik oleh masyarakat, maka kami menyiapkan diri untuk mendapat posisi strategis dari aksi yang akan dilaksanakan. Posisi yang kami ambil tersebut adalah Juru Bicara Aksi Mapala Se-Jabodetabeka. Tidak hanya sekedar Juru Bicara, tetapi kami juga mencoba mencari isu apa yang tepat untuk disampaikan di Jakarta dan terkait dengan program desa konservasi di TNGGP. Bentuk aksi seperti apa pula yang unik dan mengena dengan pesan yang ingin disampaikan?
Melalui internet, saya dapatkan bahwa tahun ini, peringatan lingkungan hidup se-dunia lebih bertemakan perubahan perilaku dan gaya hidup hijau. Permasalahan yang nyata dirasakan di Jabodetabeka adalah udara dan air sungai yang tercemar, selain permasalahan sampah yang masih belum jelas pengelolaannya. Air dan udara bersih pada dasarnya terkait erat dengan daerah hulu, yaitu TNGP. Daerah hulu dapat menyuplai keduanya itu, melalui hutan-hutannya yang masih tersisa. Penduduk Jakarta dan sekitarnya sangat berhutang pada masyarakat hulu untuk itu semua. Tapi, tanpa sikap hidup sehat dan bersih, semuanya itu bisa saja hilang. Bahkan di daerah hulu sendiri. Perubahan gaya hidup hijau dan bersih memang perlu diwacanakan.
Ketika membaca hasil laporan TWKM, kami dapati bahwa usia TWKM tahun 2008 ini sudah 20 tahun! Hari-hari sebelumnya, telinga dan mata kita juga dipenuhi dengan perayaan-perayaan 100 tahun kebangkitan nasional dan 10 tahun reformasi. Tapi lihat bagaimana perkembangan lingkungan hidup kita? Kami pikir ini juga bisa diwacanakan. Setidaknya untuk refleksi juga bagi mapala sendiri dengan forum TWKM-nya. Maqom Maqol Walikulli Maqol Maqom – Disetiap Tempat ada Wacananya Masing-masing, dan Setiap Wacana Ada Tempatnya Masing-masing.
Dalam perjalanan pulang pada rapat-rapat perencanaan aksi terakhir yang dilaksanakan di Mapala UI, kami baru terpikir pula untuk membawa Ondel-Ondel sebagai simbol Jakarta dan Budayanya. Yah, akhirnya kami satukan saja seluruhnya itu dalam satu rangkaian aksi yang kami beri nama Aksi Damai Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia Mapala Se-Jabodetabeka “Alam Kita, Hidup Kita: Air dan Udara Bersih Untuk Indonesia Bangkit”. Bentuk aksi yang disepakati oleh kawan-kawan antara lain: aksi longmarch menggunakan masker dari FK UI Salemba – Kramat Raya – Tugu Tani – Medan Merdeka Selatan – Bundaran HI – UBK; iringan Ondel-Ondel dengan menggunakan masker; pembagian bibit pohon; pembagian masker dan stiker; teatrikal/happening art; penurunan baliho di HI/Jembatan Tosari.
Aksi ini dapat dikatakan cukup berhasil dalam membangun jaringan Mapala se-Jabodetabeka. Tercatat di daftar absen lebih dari 150 orang hadir hingga akhir longmarch di UBK, belum ditambah dengan mereka yang hanya ikut di Bundaran HI saja. Barangkali ada sekitar 300-an orang yang berkumpul. Dari Mapala UI sendiri hanya Firmansyah, Ardi Juardiman dan Ida Mayanti yang hadir. Kerabat Mapala yang ada di sekretariat saat itu, Fahmi (kini AM Wanadri) dan Wendi (Montana) juga turut serta. Selain diliput oleh beberapa terbitan harian dan radio, aksi ini juga diliput oleh beberapa stasiun televisi (TPI – MNC Group, dkk). Usaha-usaha untuk membangun isu dari kegiatan yang akan dilaksanakan Mapala UI ke mapala lainnya juga cukup sukses. Kami mencoba menerapkan ini dalam kegiatan lingkungan hidup di Mapala, yaitu mencoba membuat kegiatan lingkungan yang diusung Mapala UI menjadi kegiatan lingkungan hidup Mapala Se-Jabodetabeka, atau bahkan Mapala se-Indonesia, dengan berbagai dinamika di dalamnya. Isu lingkungan hidup tentunya bukan hanya milik Mapala bukan? Tujuan idealisnya adalah perubahan sikap di kalangan Mapala sendiri, walau akan memakan waktu yang panjang.
Ke depannya Mapala Se-Jabodetabeka akan ada aksi penanaman di daerah penyangga TNGP dan bersih gunung. Berikut saya informasikan beberapa berita internet (selain dari televisi dan radio) yang saya temukan terkait dengan peliputan kegiatan ini:
http://tv.kompas.com/content/view/2836/2/
http://images.kompas.com/detail_news.php?id=4154
http://vibizlife.com/info_details.php?pg=info&id=4432
http://www.suarapembaruan.com/News/2008/06/10/Kampus/kampus01.htm
http://mediainfo-online.com/index.php?option=com_content&task=view&id=1756&Itemid=40
http://www.elshinta.com/v2003a/readnews.htm?id=51175
Aksi Tanam Pohon Mapala Se-Jabodetabeka
Setelah beberapa persiapan yang dilakukan pasca aksi, akhirnya Sabtu – Minggu, tanggal 2-3 Agustus 2008, saya dan beberapa anggota Mapala UI lainnya bersama kawan-kawan Mapala Se-Jabodetabeka serta masyarakat setempat melakukan aksi penanaman pohon dan penyusunan rencana bakti lingkungan di desa penyangga TNGGP yaitu di Kampung Gunung Batu, Desa Tangkil, Kecamatan Caringin, Bogor – Jawa Barat. Selain aksi penanaman juga ada dialog antara kawan-kawan Mapala dengan masyarakat serta pemberian buku-buku pertanian dan bacaan anak yang ke depannya diharapkan dapat berkembang menjadi pusat belajar masyarakat kampung Gunung Batu (yang hampir 70% masih belum bisa membaca).
Acara yang dilakukan itu merupakan tindak lanjut dari aksi lingkungan Mapala Se-Jabodetabeka pada tanggal 5 Juni 2008 yang membawa isu air dan udara bersih. Sebagaimana telah diketahui banyak pihak, air dan udara bersih yang tersedia di Jakarta tentunya tidak terlepas dari daerah-daerah yang mendukung/mengelilinginya, diantaranya yaitu wilayah TNGGP yang dari hutannya dapat memberikan suplai oksigen dan juga menjadi daerah tangkapan air (hulu dari beberapa sungai yang mengalir ke Jakarta dan daerah sekitarnya). Hal inilah yang menjadi satu alasan dilakukannya kegiatan tersebut di samping memperkuat jaringan dan silaturahim antara Mapala se-Jabodetabeka.
Keseluruhan peserta berangkat pada hari Sabtu, 2 Agustus 2008 dengan menggunakan Bus Tronton. Anggota Mapala UI yang ikut serta adalah saya, Ardi Juardiman, dan Juki. Seluruh peserta bermalam di kediaman Bpk. Aman  (Kp. Cibeling). Pukul 20.00-22.—WIB diadakan briefing untuk penanaman pada hari berikutnya.
Minggu, 3 Agustus 2008, pada pukul 08.00-11.00 WIB diadakan penanaman pohon di lahan kritis warga yaitu di bukit yang menjadi perbatasan antara Kampung Cibeling (Desa Cinagara) dan Kampung Gunung batu (Desa Tangkil). Setelah istirahat, pukul; 13.00-15.00 WIB peserta dari Mapala dan peserta dari warga sekitar berkumpul di kediaman Bpk. Adang unguk saling berbagi pengalaman dan mengenal keadaan sosial masyarakat desa lebih dekat. Suasana santai dan penuh canda sangat terasa. Walaupun pada awal dan akhirnya agak kaku dengan adanya semacam seremoni pembuka dan penutup ala mahasiswa. Pukul 17.00 WIB peserta baru kembali ke Jakarta.
Singkat cerita, dalam kegiatan itu beberapa organisasi Mapala yang hadir telah berkomitmen untuk melakukan tindak lanjut kegiatan yang bertujuan mengembangkan masyarakat kampung Gunung Batu dan rehabilitasi lahan kritis di dalam kampung serta di wilayah TNGGP yang berbatasan langsung dengan kampung. Pengumpulan permasalahan masyarakat dan lingkungan di Kampung Gunung Batu sudah dilakukan dengan melibatkan partisipasi masyarakat itu sendiri. Sementara untuk kegiatan-kegiatan ke depan (yang diupayakan dapat mengatasi permasalahan yang ada) sedang dalam proses penyusunan bersama.
Tentunya, kegiatan-kegiatan untuk pemberdayaan masyarakat dan rehabilitasi hutan oleh mereka yang masih berstatus mahasiswa, yang nobetene masih dalam proses belajar, akan banyak sekali membutuhkan masukan dan saran-saran dari banyak pihak yang lebih berpengalaman. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini kami berharap akan ada banyak pihak yang mendukung kegiatan ini dengan berbagai caranya masing-masing sehingga dapat menambah pengalaman kami dalam proses belajar bersama yang akan membentuk ‘siapa’ diri kami ke depan. Terima kasih kami ucapkan kepada Suwardi Hagani (dan Hagani Flora-nya) yang sudah memberikan dorongan semangat serta masukan dari pengalamannya saat bergiat di Mapala serta bantuan bibit pohonnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s