Kabar Pelestarian Lingkungan Hidup: 3

Merumuskan Upaya Konservasi Kawasan TNGGP

Berdasarkan uraian sebelumnya, dapat disimpulkan beberapa problem yang dihadapi Taman Nasional terkait penghijauan kembali kawasan yang telah berubah fungsi. Problem pertama adalah pembalakan liar oleh masyarakat, yang kedua adalah konflik vertikal pemerintah dan masyarakat tentang area kawasan yang dijadikan daerah pertanian, dan yang terakhir adalah sia-sianya usaha penghijauan yang tidak menjamin pohon dapat tumbuh hingga dewasa. Titik pangkal permasalahan adalah perbedaan pemahaman antara masarakat sekitar kawasan dengan Balai Taman Nasional akan status dari area penghijauan.
Solusi dari problematika tersebut adalah konsep konservasi yang sinergis antara masyarakat di desa penyangga dengan Balai Taman Nasional, disini MAPALA UI merangkumnya menjadi sebuah program ‘Pengembangan Desa Konservasi yang Berbasis Parsitipatif dan Berkelanjutan’. Disebut parsitipatif karena, melibatkan masyarakat sekitar sebagai pelaku dan penjaga hasil dari kawasan Taman Nasional dan penghijauan yang dilakukan di daerah kritis di desanya dengan timbal balik berupa bantuan teknis, peningkatan kualitas SDM, dan materi untuk pembangunan komunitas pedesaan. Disebut berkelanjutan karena, berbeda dengan konsep penghijauan pada umumnya yang setelah menanam tidak ada tindakan apapun terhadap area yang ditanam, MAPALA UI mengembangkan konsep sistem penjagaan oleh masyarakat sehingga meningkatkan probabilitas pohon tetap hidup.
***
alur-11
Keterangan: Model Umum Pengelolaan Hutan
***

Masyarakat yang hidup di sepanjang perbatasan kawasan konservasi, tidak bisa dinafikkan dari setiap proses yang terjadi di dalam kawasan. Merekalah yang pertama menerima imbas, dan juga memberikan pengaruh terbesar terhadap jalannya proses di dalam kawasan, baik positif maupun negatif. Dengan keterlibatan langsung masyarakat sekitar terhadap hasil dari penghijauan, timbul kesadaran bahwa kawasan merupakan wilayah yang perlu dilindungi, seperti kesadaran yang timbul pada masyarakat Nagrak yang ikut memprakarsai penghijauan. Timbal balik dari perilaku tidak merambah kawasan adalah, bantuan teknis dan peningkatan kualitas SDM berupa pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan kemampuan pertanian, keterampilan dan usaha produktif, kemampuan berorganisasi, dan bantuan materi, berupa alat dan bahan yang diperlukan untuk bertani atau beternak, contohnya pupuk, bibit tanaman atau ternak, alat-alat bertani dan bantuan modal usaha lainnya yang digali dari potensi masyarakat itu sendiri. Diharapkan dari bantuan ini, terbangunnya ekonomi pedesaan sehingga mandiri dan tidak lagi bergantung pada hasil-hasil alam yang diambil secara ilegal di hutan. Besarnya timbal balik ini terukur sesuai dengan besarnya usaha mereka untuk menjaga hutan baru hasil penghijauan dan kawasan yang memang masih berupa hutan primer.
***
alur-21
Keterangan: Rumusan Upaya Konservasi
***
Setelah program ‘Pengembangan Desa Konservasi yang Berbasis Parsitipatif dan Berkelanjutan’ dari MAPALA UI ini berakhir, diharapkan akan tercipta suatu loop atau rangkaian aksi yang saling menguntungkan dan bebas konflik antara masyarakat dan balai Taman Nasional. MAPALA UI, dalam loop yang saling menguntungkan ini, bertindak sebagai inisiator penggagas ide dan fasilitator pertama, untuk kemudian diadaptasi oleh masyarakat dan Balai Taman Nasional Gede Pangrango.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s