Kabar Pelestarian Lingkungan Hidup: 2

Mengenal Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP)
***
Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango (TNGGP) merupakan satu dari lima Taman Nasional pertama yang dibentuk oleh Kementrian Pertanian pada 6 Maret 1980 dan sekaligus menandai awal Program Taman Nasional di Indonesia. Sejarah panjang TNGGP bermula dari gabungan beberapa area konservasi yang telah ada sebelumnya yaitu, Cagar alam (CA) Cibodas sebagai cagar alam tertua di Indonesia, CA Cimungkat, Taman Wisata Situgunung, dan CA Gunung Gede Pangrango. Taman nasional yang terletak pada 106°51′-107°02′ BT dan 6°41-6°51′ LS ini, secara administratif merupakan bagian dari kabupaten Bogor, Cianjur dan Sukabumi (http://www.Geocities.com/rainforest).
Sepanjang dua abad terakhir, TNGGP merupakan lokasi dari banyak penelitian sehingga menjadikannya kawasan hutan pegunungan yang paling banyak dipelajari di dunia. Sir Thomas Raffles memerintahkan pembangunan jalur di lereng sebelah tenggara pada 1811, sedangkan C.G.C Reinwardt tercatat sebagai yang pertama berhasil menembus puncak Gunung Gede pada 1819. Sejumlah nama-nama besar sepeti F.W. Junghuhn (1839-1861), J.E. Tevsmann (1839), A.R. Wallace (1861), S.H. Koorders (1890), dan W.M. van Leeuen (1911) pernah melakukan eksplorasi di kawasan gunung vulkanik kembar Jawa Barat ini. Bahkan, buku dari C.G.G.J van Steenis (1920-1952) yang sangat terkenal, ‘The Mountain Flora of Java, 1972,’ berasal dari proses koleksi herbarium dan studi di TNGGP (http://www.Geocities.com/rainforest).
Lebih lanjut, TNGGP memiliki hutan hujan tropis submountain dan pegunungan yang penting. Termasuk fragmen sisa dari hutan pegunungan Jawa yang dahulunya luas. Para peneliti mencatat lebih dari 1000 spesies tumbuhan berbunga (Gymnospermae) hidup di dalam TNGGP, yang meliputi sekitar 120 famili tumbuhan dan 200 spesies anggrek –berarti sekitar 33% seluruh spesies anggrek yang ada di Jawa. Keberagaman vegetasi dan karenanya habitat, memungkinkan keberadaan bermacam-macam fauna. Tercatat adanya 245 spesies burung dimana 24 diantaranya endemik pulau Jawa. Juga terdapat elang jawa dan dua primata endemik –owa jawa dan Javan Leaf Monkey- yang merupakan famili burung dan Gibbon yang paling terancam di dunia (Wells et al. 1999).
Junghuhn pada 1843 melaporkan bahwa beberapa tahun sebelum kedatangannya, daerah Puncak Pass masih belum ditinggali. Hal ini berubah drastis sejak diperkenalkannya varietas teh Assam dari India di tahun 1878. Goalpara, memiliki ijin pertama pembukaan daerah hutan sebagai perkebunan teh di tahun 1886. Secara bertahap daerah di bagian yang lebih rendah juga dibuka dan ditanami. Ijin yang terakhir adalah perkebunan Gunung Mas di tahun 1921. Sejak saat itu, hutan tropis yang lebat dan gelap dari daerah TNGGP berubah menjadi perkebunan teh (http://www.Geocities.com/rainforest).
Tidak seperti taman nasional lainnya di Indonesia, TNGGP menghadapi tantangan yang berbeda dan unik. Sebagai satu-satunya Taman Nasional yang terletak berdekatan dengan daerah perkotaan, di bagian selatan dari Jakarta, TNGGP telah menjadi objek turisme massal. Tiap tahunnya diperkirakan TNGGP dikunjungi oleh 50.000 orang (Wells et al. 1999) dan sekitar 30 juta orang hidup dalam radius 100 km dari TNGGP. Ditambah dengan pembangunan pesat beberapa dekade terakhir di daerah Bopunjur (Bogor – Puncak – Cianjur) untuk kegunaan rekreasi, tekanan antropogenis terhadap TNGGP semakin meningkat (http://www.science.murdoch.edu.au).
Terlepas dari fungsi wisatanya, TNGGP memiliki fungsi ekologis yang jauh lebih penting. Fungsi ekologisnya menaungi hingga hampir seluruh luasan daerah Jawa Barat. Daerah resapan air TNGGP menyokong fungsi hidrologis yang sangat penting. Lebih dari 60 sungai berhulu di pegunungan TNGGP dan menyediakan sumber air bagi pertanian, industri dan penggunaan di ranah domestik. Diperkirakan, sumber air dari TNGGP yang digunakan bagi kebutuhan pertanian dan domestik, jika dinominalkan bernilai sekitar 1,5 juta dolar (Wells et al. 1999).
Dampak dari pembangunan daerah wisata yang pesat di sekitar TNGGP dan pembukaan lahan untuk perkebunan adalah makin berkurangnya daerah resapan air. Hal ini diperparah dengan pembalakan liar di dalam kawasan TNGGP sehingga menciptakan lahan gundul yang rentan erosi. Akhirnya, pada tahun 2003 dengan didasarkan pada SK Menteri Kehutanan Nomor 174/Kpts-II/2003, areal Taman Nasional bertambah luasnya dari sekitar 15.196 Ha menjadi 21.975 Ha. Keputusan pertambahan luas sebesar 6.779 Ha ini diambil dengan pertimbangan bahwa kawasan hutan lindung, hutan produksi terbatas dan lahan dengan tujuan lain yang terletak di sekitar TNGGP mempunyai topografi curam, dan merupakan habitat serta daerah jelajah beberapa jenis satwa langka yang perlu dilindungi dan dilestarikan. Selain itu, juga bertujuan untuk merehabilitasi tanaman yang ada di hutan produksi tersebut. Selama ini sebagian lahan produksi gundul karena dirambah penebang liar dan dijadikan lahan pertanian penduduk setempat. Sehingga, perlu ada perubahan fungsi kawasan cagar alam, taman wisata alam, hutan produksi tetap, dan hutan produksi terbatas menjadi Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango (www.Dephut.go.id/Siaran.asp).
Simbolisasi perubahan status dilakukan melalui usaha reboisasi balai TNGGP bersama unsur pelajar, pramuka, tokoh masyarakat, warga di sekitar hutan, kelompok pecinta lingkungan serta lembaga swadaya masyarakat pada 23 Maret 2007. 5000 batang pohon ditanam di daerah Nagrak Kabupaten Sukabumi pada area seluas 4000 Ha, yang sebelumnya merupakan hutan produksi Perum Perhutani (Kompas 2007b). Usaha penghijauan atau reboisasi menjadi penting lebih dari sekedar simbolisasi perubahan status lahan. Selain untuk menghijaukan kembali kawasan yang sudah gundul, usaha penghijauan juga mencegah timbulnya konflik vertikal antara masyarakat sekitar hutan dengan pemerintah, dalam hal ini balai Taman Nasional. Hutan Produktif yang tidak diolah perum perhutani banyak yang dijadikan areal persawahan dan perkebunan sayur. Jika keadaan ini terus berjalan, bukan tidak mungkin akan sangat susah untuk merubah satusnya kembali menjadi kawasan yang dilindungi. Selain itu, usaha-usaha intensifikasi pertanian juga merubah bentukan serta struktur tanah sehingga tidak lagi mudah untuk dihutankan kembali.
Kenyataan, seperti umumnya, tidak selalu sesuai dengan perhitungan di atas kertas. Perubahan status lahan tidak menjamin berhentinya tindakan pelanggaran terhadap kawasan. Pembalakan liar banyak terjadi di areal perluasan TNGGP dari lahan milik Perum Perhutani. Dari 21.965 Ha luas TNGP, 10.000 hektar di antaranya berada dalam wilayah administratif Kabupaten Sukabumi. Sisanya berada di wilayah Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Bogor. Penebangan liar kayu di areal TNGGP terjadi dalam skala kecil dan berpencar. Beberapa areal yang sering menjadi sasaran jarahan adalah areal konservasi yang masuk wilayah administratif Kecamatan Ciambar dan Nagrak, Kabupaten Sukabumi. Pemanfaatan kayu untuk bahan bangunan rumah lebih banyak dilakukan oleh perorangan. Selain itu, pembalakan liar juga dilakukan untuk membuat arang, yang dilakukan pada malam hari dan memanfaatkan kayu-kayu berkualitas sangat baik, seperti kayu rasamala. Areal pembalakan liar sangat sporadis di lebih dari 2.000 Ha lahan yang mengakibatkan sulitnya penanganan. Umumnya pembalakan dilakukan oleh warga yang tinggal berbatasan dengan areal hutan Taman Nasional (Kompas 2007).
Masih adanya pembalakan liar menandakan adanya pemahaman yang berbeda di masyarakat mengenai status hutan Taman Nasional. Sebagian masyarakat sekitar hutan sudah menganggap Taman Nasional sebagai kawasan yang perlu dilindungi. Kelompok ini merupakan pemrakarsa reboisasi di kawasan perluasan TNGGP di Kecamatan Nagrak 23 Maret 2007. Namun, masih ada juga kelompok masyarakat yang memandang hutan sebagai tempat mencari nafkah. Kelompok inilah yang masih sering memanfaatkan kayu-kayu hutan taman nasional (Kompas 2007). Jika nanti pohon hasil reboisasi telah cukup besar, lalu ditebang secara liar oleh masyarakat. Pembalakan liar membuat usaha-usaha penghijauan kembali lahan menjadi sia-sia. Meskipun, lebih sering penghijauan menjadi sia-sia karena bibit-bibit pohon yang ditanam justru mati sebelum dewasa. Semangat yang meluap dan niatan baik pihak-pihak yang terlibat tak ada artinya bila penghijauan hanya menjadi semacam prosesi perayaan kepedulian akan alam. Dilakukan sekali, lalu terlupakan dan mati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s