Kabar Pelestarian Lingkungan Hidup: 1

Pertengahan November 2007, di sudut rumah yang tidak jauh dari Balai Desa Cinagara, Kecamatan Caringin, Bogor, hampir tiga puluh pemuda berkumpul hingga larut malam. Mereka berbincang-bincang dan berbagi pengalaman tentang permasalahan lingkungan hidup yang kian terasa dampak dari kerusakannya. Setiap orang mengemukakan pendapat: Bagaimana banjir besar bisa terjadi di pusat Ibukota, Jakarta? Bagaimana bencana longsor dan angin ribut bisa terjadi di daerah-daerah yang sebelumnya tidak pernah terjadi? Bagaimana udara dan air di Jakarta dan kota-kota besar lainnya yang mereka tempati semakin tidak layak untuk dikonsumsi? Bagaimana gundulnya daerah penyangga Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dan beberapa daerah penyangga lainnya di Taman Nasional Gunung Halimun-Salak semakin parah?
Ada banyak alasan yang mereka kemukakan: kemiskinan masyarakat, pertentangan kepentingan ekonomi dan ekologi, korupsi, lemahnya penegakkan hukum, kebijakan yang tidak berpihak pada pembangunan masyarakat yang selaras dengan pelestarian lingkungan, lemahnya kesadaran terhadap pentingnya kelestarian lingkungan, gaya hidup konsumtif, dan banyak hal lain yang kalau dibukukan cukuplah sampai pada angka 100 halaman. Sayangnya, itu semua tidak terdokumentasikan dengan baik.
Malam semakin larut saat itu, masalah-masalah pun sudah dikemukakan. Lantas bagaimana jalan keluarnya? Bagaimana solusi cerdas yang tidak memiliki efek samping seperti obat-obatan kimia? Mereka semua termenung. Aku juga diam, mencoba berpikir dalam. Beberapa orang berdiri: sepertinya harus ditegaskan bahwa yang harus dilakukan adalah apa yang bisa kita semua lakukan, sendiri atau bersama-sama, dengan berbekal keilmuan kita masing-masing untuk menjaga lingkungan hidup tetap lestari dan masyarakat yang sejahtera di dalamnya.
Setahun sudah berlalu. Harus ada yang mengabarkan proses dan cara yang barangkali telah sukses, sedang berjalan, atau bahkan gagal di dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan lingkungan sekitarnya. Pemuda-pemuda itu sepakat untuk melaksanakan dan melanjutkan upaya-upaya tersebut serta berbagi dengan yang lain melalui berbagai media. Termasuk dalam blog ini.
Lantas, siapakah pemuda-pemuda yang berkumpul itu? Mereka adalah sebagian kecil dari mahasiswa yang dalam aktivitasnya sangat berdekatan dengan kegiatan petualangan di alam bebas. Mereka juga adalah anak-anak kota yang dalam perjalanannya menuju Kampus UI Depok selalu dihadapkan pada permasalahan-permasalahan kemanusiaan dan lingkungan. Mereka juga sering keluar masuk desa-desa, hutan rimba, gunung-gunung, tebing, pantai, mengarungi jeram-jeram sungai, juga menelusuri goa-goa dalam. Dari kegiatannya itu, rasanya pantas kalau saya katakan bahwa mereka memiliki ikatan batin yang kuat terhadap alam. Mengenal alam lebih dekat. Mereka adalah sebagian dari Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Indonesia (Mapala UI).
Dalam blog ini, saya akan mencoba bercerita tentang kegiatan mereka kepada yang lainnya. Kepada kalian, kami berbagi pengalaman. Semoga ada kedekatan batin dalam upaya-upaya pelestarian lingkungan hidup dalam atmosfir kemanusiaan yang lebih adil dan beradab.
Salam hangat,
Saca Firmansyah
NB: Blog ini adalah blog pribadi, sehingga tanggung jawab dari kesalahan isi bukanlah tanggung jawab organisasi.

5 Comments Add yours

  1. omiyan says:

    yang doyan kemping , naik gunung setidaknya mereka bisa merasakan anugerah Tuhan tak terhingga dengan hamparan pepohonan diatas pegunungan nan hijau…

    sayang….orang -orang pintar cuman demi duit segepok menjual kehijauan tersebut……

    saran saya SAATNYA KPK MASUK PERHUTANI

  2. missjutek says:

    ditunggu cerita2nya… :)

  3. rayearth2601 says:

    semoga sukses melestarikan lingkungan hidup mas…..

    mulai ari hal yg kecil…mulai dari diri sendiri…
    mulai saat ini

    keep smile :)

  4. wisnoe says:

    Itulah tipikal kita semua, om, kalo tidak ingin disebut sebagai budaya.
    Mencari sumber masalah dan usulan solusinya rasanya tidak ada kesulitan dari setiap ornamen negara ini. Namun begitu disodorkan tentang bagaimana aksi ke depan sebagai pengejawantahan solusi itu, hal yang pertama kita lakukan adalah menoleh kepada yang lain. Tengak-tengok barangkali ada yang mempunyai kuasa untuk itu.
    Semakin banyak kita tengak tengok semakin pusing pula dengan wacana yang telah kita munculkan karena solusi real yang secara teoritis ‘bisa’ ternyata hanya ada di awang-awang.
    Sedih dan prihatin terhadap fenomena ini, termasuk sering aku mencaci maki diriku sendiri atas ketidakmampuanku berhadapan dengan sistem negatif yang sudah membudaya.
    Salam…

    @
    Mas Wisnoe yang baik,,,
    Jangan terlalu digeneralisir kayak gitulah, saya pikir ada harapan di sana. Yang perlu kita lihat adalah ada dari sebagian kita yang masih punya optimisme untuk menciptakan ruang yang lebih baik. Jangan terlalu bersedih juga, tidak baik terlalu mencaci-maki diri sendiri.
    Pada semangat anak-anak muda, kita dapat melihat tujuan-tujuan moral yang serius. Tapi pada mereka yang senang mencaci-maki pada apa yang mereka pikir ‘salah’ kita tidak akan pernah memahami apapun.

    Salam,
    Saca Firmansyah

  5. rusle says:

    Pertengahan November 2007? udah setahun yak?

    btw, kegiatan membudidayakan alam memang sangat pemuda banget. selain asik bisa melakukan sesuatu yg bermanfaat bagi yang lain, juga melunaskan kenikmatan menikmati alam yg hijau, ya nggak?

    salam kunjung


    @ betul daeng … thanks loh kunjungannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s