Anak-anak yang Mabuk di Simpang Jalan Kehidupan

Badannya kurus. Kecil. Rambutnya sangat lusuh. Dilihat lebih dekat, matanya merah. Sangat merah. Jalannya begitu berat. Maju dan mundur. Ke kiri dan kanan tanpa teratur. Bajunya sangat kotor. Begitu juga kulitnya. Kaki dan tangan penuh luka yang sudah lama mengering. Bau badannya sangat menyengat. Jika kau coba berbicara padanya, bau mulutnya sangat tidak sedap. Kalau tidak tahan barangkali bisa muntah saat berbicara dengannya. Tak lama berjalan ia duduk. Kemudian berbaring dan tertidur tanpa alas.

***

Aku duduk di sudut jalan yang lain. Mencoba menjauh dari baunya. Menggelar koran dan duduk memeluk tas yang sudah seharian membebani punggungku. Sambil menunggu kereta api pagi nanti tiba, sedikit-sedikit mataku terpejam juga. Tapi tidak pernah begitu pulas. Siapa yang mampu tertidur pulas dalam kondisi seperti itu jika bukan orang yang sudah sangat mabuk seperti anak yang terbaring tak jauh dariku.

***

Di sudut jalan yang lain lagi, sekumpulan anak masih menggilir rokok dan lem untuk dihisap. Mereka tertawa dengan tertahan-tahan. Ada juga yang tiba-tiba berlari berputar. Di sudut yang lainnya, sekumpulan anak berpakaian lusuh dengan berbagai aksesoris di tubuhnya serta celana superketat di bagian bawah (kalau boleh aku menyimpulkan gaya pakaian seperti itu boleh jadi pakaian ala punk, setidaknya miriplah dengan grup-grup musik beraliran punk tahun 90-an), bermain gitar kecil dengan empat senar sambil bernyanyi-nyanyi riang. Di antara yang tampak, kelompok inilah yang paling riang dan paling sadar dalam kesadaran akan malam yang semakin dingin.

***

Seseorang yang baru saja aku kenal bercerita bahwa ia sering kali tersesat di jalan. Ia pernah pergi ke suatu tempat dan ketika akan kembali ke tempat itu sebagai tujuan akhirnya, selalu saja ia tersesat pergi ke tempat lain yang juga begitu lain suasananya. Dan sekarang ia sedang berusaha mengingat dan mencari tempat tujuannya itu. Dalam keadaan diriku yang semakin mengantuk, ia bertanya soal tujuanku. Mengapa aku disini dan apakah aku juga tersesat seperti dirinya. Aku menjawab dengan tidak sungguh-sungguh bahwa aku tidak punya tujuan dan karenanya aku tidak akan tersesat. Bukankah Yang tidak punya tujuan Yang tidak tersesat. Sebab semuanya adalah tujuannya. Jalan-jalan yang dilaluinya memang harus dilaluinya. Ia menceramahiku soal fikih perjalanan, soal penetapan tujuan, dan aku pun benar-benar tertidur.

***

Menjelang shubuh aku dibangunkan dengan teriakan orang berseragam. Aku bangun dengan rasa sakit di tenggorokan. Kepalaku masih agak pusing. Aku lihat semakin banyak orang bangun dan berlari. Kusapa dengan salam dan senyum orang yang membangunkanku. Kuberikan kartu identitasku kepadanya. Ia pun tersenyum dan menasehatiku untuk pindah tempat. Ia memberitahuku untuk tidur di masjid saja yang jaraknya sekitar 1 kilometer. Di masjid itu biasa disinggahi para musafir. Aku pun berjalan ke arah yang ditunjukkannya.

***

Tak lama kemudian suara sirine mobil ambulance mendekat ke arahku. Seorang anak tewas mengenaskan. Darah mengalir dari lubang-lubang yang ada di bagian wajah. Dari telinga, hidung, mulut dan juga mata. Tidak jelas perasaanku. Ingin menangis tidak bisa, ingin menahan tangispun juga tidak bisa. Siang harinya, aku baca juga dari koran bekas tentang berita beberapa hari yang lalu. Ada belasan orang tewas karena menenggak minuman keras oplosan di Indramayu. Ada enam anak tewas karena tenggelam setelah tawuran di Pamulang, Tangerang. Aku segera pulang dan tidur di kamar. Sore hari menjelang maghrib aku bangun dan ibu sudah menyediakanku jus mangga serta makanan untuk berbuka puasa. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan. Aku benar-benar mengeluarkan air mata. eL … cepatlah dewasa …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s