Pendakian Gunung Gede-Pangrango Bersama Talam 38

suatu upaya menguatkan ingatan

di jalan
aku lihat pohon-pohon hijau
dan sungai
dan danau.
pada tanah dan batu-batu
daun-daun kering berguguran
terserak dan membusuk.
tunas-tunas muda seakan bangkit
menyambut cahaya
dibelai titik air.
engkau menatap langit yang biru
aku menatap awan yang kelabu.
hati kita sama bertanya:
-siapa yang mencipta?-
lalu, rintik hujan pun turun menjawab.

(Cibodas,4 Oktober 2008)

benderatalamAkhir September menjelang Oktober, minggu terakhir bulan ke sembilan, saat orang-orang lain di Kota Jakarta sedang sibuk mempersiapkan lebaran dan mudik ke kampung halaman, aku bersama teman-teman Talam telah bersiap-siap untuk melakukan pendakian ke Gunung Gede-Pangrango. Waktu pendakian sendiri tepatnya akan dilaksanakan pada tanggal 4 – 7 Oktober 2008. Tepat tiga hari setelah perayaan Idul Fitri 1429 H. Tentunya dalam versi yang telah ditetapkan oleh pemerintah.
Pendakian ini, sebagaimana dikatakan oleh Winda yang masih menjadi anggota aktif di Talam, dimaksudkan untuk merayakan Ulang Tahun Talam. Tapi aku lebih merasa bahwa pendakian ini ditujukan untuk silaturahim saja antara sesama anggota yang ikut serta. Disamping juga memperkenalkan teman-teman yang baru kepada tempat bermainnya yang jauh dari berbagai fasilitas kota yang nyaman. Sejenak ke luar dari dunia pendidikan sekolah. Melihat sedikit realitas di luar gedung sekolah. Belajar berbagi dalam kesederhanaan di alam bebas.

Gaya yang mendidik yang aku pahami, tidak hanya berarti mendefinisikan dan menerangkan berbagai istilah, tetapi juga memperjelas kaitan berbagai sektor yang membuat orang dapat lebih memahami penyebab keterbelakangannya. Dengan mengenal diri dan permasalahan di sekitarnya, diharapkan ilmu-ilmu yang dipelajari seseorang dapat menjadi ilmu yang benar-benar bermanfaat untuk kepentingan di luar kepentingan ilmu pengetahuan itu sendiri.

’Menyiasati’ Perijinan Pendakian

Dua minggu sebelum keberangkatan, teman-teman mulai mengurusi soal perijinan. Ijin kepada orang tua dan juga ijin untuk memasuki kawasan konservasi Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango (TNGGP). Soal ijin kepada orang tua peserta aku tidak tahu-menahu. Itu sudah bisa diurus dengan baik oleh teman-teman yang aktif di Talam sendiri. Sementara untuk ijin ke TNGGP, aku coba ikut membantu. Hal ini karena ada beberapa peraturan yang dapat menyulitkan bagi rencana pendakian yang telah disusun oleh panitia. Peraturan yang menyulitkan yaitu waktu pendakian yang diijinkan oleh pihak TNGGP hanya dua hari saja untuk memasuki kawasan konservasi. Padahal waktu yang telah direncanakan oleh teman-teman adalah empat hari, dengan entry dan exit point yang sama yaitu lewat jalur Cibodas.
Pada awalnya aku ingin bermain ”fair” soal perijinan. Aku berencana untuk membeli dua tiket untuk satu orang. Satu tiket ijin mendaki seharga Rp 5.000, – dan asuransi Rp 2.500,- berlaku untuk dua hari pendakian. Logikanya, kalau beli dua tiket seharga Rp 15.000,- berarti dapat berlaku untuk empat hari. Tetapi ternyata tidak seperti itu aturannya. Satu orang memang hanya diijinkan memasuki kawasan TNGGP selama dua hari saja dalam rentang waktu tertentu. Ini demi kepentingan konservasi kawasan TNGGP. Meminimalisir kerusakan kawasan konservasi. Hal ini tentu saja menyulitkan bagi rencana empat hari pendakian.
Akhirnya aku memutuskan untuk meminta bantuan kepada beberapa temanku disana. Ada beberapa cara untuk ‘menyiasati’ aturan itu. Tetap ada kendala kecil memang, tapi toh pendakian bisa dilaksanakan selama empat hari. Soal cara-cara menyiasati aturan tersebut aku pikir tidak selayaknya aku tuliskan. Kami punya alasan sendiri untuk tetap mempertahankan waktu empat hari pendakian. Alasan utama adalah demi kepentingan pendidikan pada pribadi-pribadi peserta soal cinta alam dan terutama arti kebersamaan di antara mereka. Alasan lainnya adalah demi kepentingan keselamatan. Lagipula, pendakian yang kami lakukan sangat meminimalisir kerusakan yang mungkin terjadi pada alam. Tidak boleh ada sampah non-organik yang tertinggal. Tidak boleh ada perusakan terhadap pepohonan dan hewan endemik yang sedang tumbuh. Sehingga aku sangat yakin apa yang akan kami lakukan tidak akan bertentangan dengan esensi dari dibuatnya aturan-aturan tersebut. Tidak bertentangan pula dengan kepentingan konservasi kawasan TNGGP. Yah… tapi harus aku akui, bahwa barangkali ini hanya sekedar pembenaran saja atas apa yang telah dilakukan.

Meninggalkan Sekolah
Tanggal 4 Oktober, di depan gedung sekolah truk tronton sudah siap berangkat. Ternyata semua peserta sudah berkumpul. Ada rasa bersalah pada keterlambatan ini. Pukul 8.00 WIB aku baru tiba bersama keponakanku, Putri. Kami terlambat satu jam dari rencana awal yaitu pukul 7.00 WIB. Aku dan Putri lekas-lekas naik ke tronton. Truk langsung berangkat menuju ke Cibodas.
Peserta yang ikut di dalam tronton ada delapan belas orang. Tiga orang kelas dua belas, yaitu Winda, Vika, dan Acha. Alumni ada lima orang yaitu aku, Rahman, Yoli, Ipul, dan menyusul Fatah. Satu orang peserta dari luar Talam yaitu Putri. Selain diperkenalkan sebagai keponakanku, Putri sendiri adalah siswa dari kelas sebelas SMAN 109. Sembilan lainnya adalah peserta dari kelas sepuluh. Nama-nama yang aku ingat antara lain Hanum, Vyo, Dendi, Renata, Pitoy, dan yang lainnya masih samar-samar karena kurangnya interaksi dengan panggilan nama.
Selama perjalanan hingga daerah Ciawi, para peserta cukup tenang. Tidak ada keriuhan canda dan tawa di dalam truk. Namun, ketenangan dalam perjalanan itu segera dipecahkan oleh celotehan teman-teman soal kemacetan yang dibuat para pemudik lebaran dari persimpangan Ciawi hingga Pasar Cisarua. Celotehan-celotehan itu ternyata masih jauh untuk membuat suasana mencair dalam tawa ceria. Vyo sempat bergumam, ”Nggak asik nih, nggak ada yang bisa ngelucu.” Ya, aku juga merasakan hal yang sama. Mungkin karena beberapa peserta memang kelelahan dalam persiapan yang mereka lakukan. Sebagian ada yang tidur-tiduran dalam posisi duduk yang tak nyaman sama sekali. Tapi ada pula yang sempat tertidur pulas. Aku termasuk yang sempat tertidur pulas selama beberapa menit.
Ketika memasuki kawasan Puncak, di antara jalan yang menyusuri perkebunan teh, ada kejadian menarik untuk menjadi bahan candaan kami. Acha yang duduk di paling belakang truk sempat digoda oleh para pengendara motor yang mengikuti truk kami hingga daerah Ciloto. Yah, lumayan juga aksi para pengendara motor yang kurang punya rasa malu dan rasa takut itu. Lumayan untuk membuat kami tersenyum dan tertawa serta saling melemparkan canda.
Setelah lima jam dalam perjalanan di dalam truk tronton, akhirnya kami sampai juga di kawasan Cibodas. Tubuhku rasanya sudah ingin berontak dari posisi duduk yang monoton. Di pintu gerbang masuk, kami membayar retribusi sebesar Rp 2000,- per orang. Pembayaran sudah diurus oleh Rahman dan Winda yang duduk di bangku depan tronton. Sampai di Cibodas, teman-teman langsung menuju Masjid Al-Ikhwan. Menunaikan sholat, makan, dan ada pula yang mulai mengisi air untuk perbekalan di jalan. Di sini kami bertemu dengan empat orang alumni lain yang sudah sampai lebih dulu. Mereka yaitu Taufik, Giyo, Jefri, dan seorang lagi selalu saja disapa Mr. Duran oleh Winda.
Dari Masjid Al-Ikhwan kami langsung menuju pos pemeriksaan di pintu masuk kawasan TNGGP Cibodas. Pemeriksaan di pos ini lebih ditekankan soal administrasi saja. Tidak ada pemeriksaan berarti yang kami alami. Dengan demikian, kami dapat langsung melanjutkan perjalanan menyusuri jalan-jalan berbatu yang mendaki. Alumni yang empat orang tersebut telah berjalan lebih dulu ketika kami sedang menunaikan sholat dzuhur.

Awal Pendakian

Siapa yang mencintai alam, siapa yang mencari ketenangan dan kedamaian yang turun dari pegunungan, di sini dia dapat menemukan apa yang dia inginkan. (Frans Junghun, Kemewahan Gunung-Gunung)
Semua sama berdiri. Semua sama berjalan. Semua sama membawa beban dipunggung. Sebagaimana semua sama menghirup udara segar pegunungan. Hanya saja kami tidak lebih dari diri kami apa adanya. Berdiri tidak selalu tegak tapi kadang angkuh menghina. Berjalan kadang tidak selalu berirama lalu melirik kiri dan kanan mencari-cari kelemahan yang lain. Dan tertatih lalu tunduk lelah membawa beban mendaki. Pasrah pada ketidakpastian dari batas akhir kemampuan diri. Tapi toh bersama kami tetap berjalan. Barangkali kami tidak akan pernah menjawab dengan pasti definisi kebersamaan dan toleransi. Tapi kami harus yakinkan pada diri kami bahwa kami telah merasakannya bersama.
Hari sudah tidak siang lagi. Langit kelabu. Udara semakin dingin. Angin sedikit-sedikit berhembus membelai kami dari balik pepohonan hijau berlumut. Sabtu yang begitu lain dari sabtu-sabtu yang lain. Aku tenang menatap batu-batu yang memberi semangat pada tiap langkah. Aku senantiasa berdamai pada rasa lelah yang memberi senyum ramah. Aku kagum pada tubuh yang kecil-kecil lincah walau agak rapuh. Entah apa yang dicari dan diinginkannya. Aku bukan dia. Aku mengaguminya sebagaimana dia meyakinkan dirinya atas ketidaksempurnaannya. Geraknya adalah gerak langkah mendaki menuju yang sempurna. Tenang dan penuh diam.
Belum ada tiga puluh menit kami berjalan dari entry point Cibodas, hujan turun. Segera kami mengeluarkan jas hujan dan beberapa menggunakan ponco. Lewat dari Pos 1, Dendi ternyata mengalami masalah. Gerak langkahnya semakin lambat. Nafasnya tidak teratur. Mungkin ini kali pertamanya untuk berjalan jauh. Ditambah dengan berat badannya yang luar biasa. Aku terus mencoba menyemangatinya. Memberikan semangat dengan canda dan kadang ejekan. Karena hari sudah semakin sore, aku memberikan semacam instruksi agar teman-teman yang lain berjalan lebih dahulu saja. Soal Dendi biar aku yang urus. Alasanku waktu itu agar teman-teman yang lainnya dapat merasakan kesenangan dalam mendaki gunung. Karena ini adalah pendakian gunung yang pertama bagi banyak peserta kelas Sepuluh. Kesenangan untuk Dendi biar aku lagi yang mengaturnya. Semua harus sama senang dalam kesenangan yang tentunya tidak sama dirasa.

Pertentangan Nilai dan Kaum Homoseksual
Perjalanan sampai menuju Pos Telaga Biru aku lihat terasa begitu berat bagi Dendi. Tapi aku terus mengisinya dengan kalimat-kalimat canda dan ejekan untuk menyemangatinya. Memberikan teknik-teknik berjalan dan mengatur nafas dengan baik. Aku yakin dia dapat memiliki motivasi kuat untuk menuju puncak. Dan aku harus menguatkan motivasinya itu. Batas akhir dari kemampuan dirinya untuk berjalan mendaki belum semuanya dikeluarkan. Memang perlu adaptasi. Pertentangan dalam diri pastinya telah berkecamuk, antara lanjut atau berhenti dan turun kembali untuk menyerah kalah. Air dalam carriernya aku kosongkan semua. Beban di punggung berkurang. Tinggal adaptasi lagi mengatur langkah kaki dan nafas.
Sepanjang jalan sampai Pos Panyancangan, persimpangan antara jalan menuju Pos Kandang Badak dan jalan menuju air terjun Cibereum, kami terus berpapasan dengan banyak orang yang akan turun menuju Cibodas setelah menikmati pemandangan dan gemercik air terjun. Kebanyakan pasangan muda-mudi. Setiap kali berpapasan selalu saja tersebar aroma harum dari parfum yang masih lekat di tubuh mereka. Ada yang terlihat begitu mesra berjalan dalam rintik hujan. Tubuh mereka rata-rata sudah basah kuyup. Hampir kebanyakan dari mereka tidak membawa bekal apapun, bahkan untuk jas hujan atau air minum.
Ada kejadian lucu sekaligus membahayakan. Kami sempat berpapasan dengan sepasang laki-laki sebaya yang bergandengan dengan sangat mesra. Ipul spontan berkata, ”Homo … homo!”. Karena terus memandang pemandangan unik tersebut, Ipul lupa memperhatikan langkahnya. Dia pun tersandung batu dan terjatuh dengan jidat kepala sedikit membentur batu. Aku spontan menertawakan kelalaiannya. Untunglah tidak sampai menimbulkan luka sobek atau yang lebih parah dari itu. Kalau benar mereka memang kaum homoseksual yang sudah berani menunjukkan identitasnya, berarti kaum liberal dan Arus Pelangi sudah berhasil menancapkan keberanian pada penyimpangan semacam itu di dalam diri para penganutnya. Aku adalah sebagian dari masyarakat Indonesia yang barangkali sangat murka dengan keberhasilan mereka. Walaupun dalam kampanyenya mereka selalu saja bersembunyi di balik terma kebebasan, kebersamaan, dan toleransi.
Aku bukan seorang fasis. Tapi aku harus terima kalau ternyata dalam perjalanan hidup ini aku menjadi seorang fasis -tentunya dalam versi ’mereka’- atas sebuah keyakinan tertentu. Aku sangat menghargai perbedaan pendapat dan sikap, tapi aku lebih menghargai kemanusiaan dalam keberlangsungannya. Aku selalu yakin bahwa mendung dan gemuruh petir harus ada untuk terciptanya hujan. Tapi siapa yang tampak gembira melihat mendung dan gemuruh petir? Jika hujan turun lalu reda, toh semua bergembira atas karunia dari langit yang menyebarkan benih-benih kehidupan.

Yang Tertinggal Dari Kelompok

Dari Pos 1 sampai Telaga Biru aku hanya tinggal berdua saja bersama Dendi. Di Pos Telaga Biru sempat bertemu dengan Yoli yang telah menunggu lama. Aku meminta Yoli berjalan lebih dulu untuk mengabarkan kepada teman-teman agar tidak perlu khawatir dengan keadaan kami. Aku khawatir kalau-kalau mereka mengkhawatirkan kami. Khawatir perjalanan mereka jadi tidak menyenangkan. Jadilah pendakian menuju Pos Panyancangan kami tinggal berdua lagi.
Sepanjang jalan Dendi mengeluhkan kakinya yang sudah lama mengalami kram. Saya selalu maklum soal itu kalau melihat postur tubuhnya. Saya pernah mendampingi teman seperti dia dan mampu mengajaknya sampai ke puncak Gede. Bukannya merendahkan orang-orang berpostur tubuh gemuk, tapi memang kondisi seperti itu memiliki konsekuensi logis untuk lebih cepat lelah dalam berkegiatan. Aku manusia biasa dan hanya dapat melihat semua dari hukum-hukum ilmiah dengan segala konsekuensi logis berantai yang mungkin dan pasti tercipta.
Aku pikir kita memang harus tahu akan hal itu. Dalam kondisi yang sama sehat, para pendaki yang berjalan mendaki sambil merokok misalnya, sudah pasti akan lebih sulit mengatur nafas dengan baik ketimbang yang tidak merokok. Ini sebuah konsekuensi logis dari keputusan antara merokok dan tidak merokok dalam perjalanan. Bisa jadi muncul satu konsekuensi logis lagi, yaitu perjalanan bisa gagal karena nafas yang tidak teratur membuat kita cepat lelah. Kelelahan dapat membuat mental kita jatuh dan kemudian gagal dalam pendakian. Ah, tapi teori saya terlalu linier dan mengabaikan faktor-faktor lain yang mungkin bisa saja dapat  mengabaikan konsekuensi logis tersebut. Faktor sugesti dan keyakinan.
Tiba di Pos Panyancangan, kami beristirahat sejenak. Kami bertemu kembali dengan Yoli. Di pos ini ada satu orang pendaki yang akan turun (entah dari daerah mana ia berasal) dalam kondisi yang sangat lemah. Beberapa temannya terlihat sedang melakukan perawatan. Beberapa yang lain hanya tertawa dan bercanda saja sambil menggilir minuman beralkohol dan beberapa linting rokok. Tapi perawatannya sangat sederhana. Tubuh yang kedinginan itu hanya dibungkus dengan alumunium foil. Di sisi kanannya diberi api penghangat yang menggunakan bahan bakar parafin. Aku sempat ingin menawarkan bantuan. Tapi setelah kuperiksa denyut nadi yang berdetak mendekati normal, aku mengurungkan niat itu. Aku yakin dia masih mampu bertahan sampai teman-teman Montana –kelompok volunteer resmi di TNGGP- datang untuk evakuasi. Aku miris melihat kelakuan teman-temannya. Sejak itu, aku semakin bertanya, ”Mengapa sebagian dari kita, manusia, masih terus saja menipu diri sendiri?”
Selesai istirahat, kami bertiga melanjutkan perjalanan. Dendi masih merasakan kakinya yang mengalami kram. Aku mencoba membantu dengan membawakan carriernya. Dari Telaga Biru juga seperti ini kejadiannya. Semangatnya semakin menurun saja. Yoli sedikit-sedikit terus menyemangatinya. Hari sudah agak gelap. Ada keinginan kuat untuk segera bertemu dengan tim di depan. Akhirnya aku bicarakan ini kepada Yoli. Aku akan mengejar tim di depan untuk melihat kondisinya lalu kembali lagi menjemput mereka berdua. Yoli setuju dan aku pun bergerak meninggalkan mereka berdua.
Untuk mengejar tim yang sepertinya sudah agak jauh, aku berjalan cepat seperti berlari-lari kecil. Beban di punggung yang begitu berat mengeluarkan bunyi kernyit yang kadang memilukan. Beberapa kali berpapasan dengan orang yang turun dari Kandang Badak, aku selalu menanyakan soal tim di depan. Tim di depan sepertinya baik-baik saja dan terus melanjutkan perjalanan.
Sepanjang jalan masih jalan-jalan berbatu yang tersusun rapi. Hari benar-benar telah menjadi gelap. Aku tetap berlari-lari kecil. Sedikit-sedikit membungkuk. Ada yang diawasi dan ada yang mengawasi. Pada kurun tertentu, walau hatinya menyangkal, seseorang akan percaya saja pada suatu kejadian karena pertimbangan-pertimbangan. Pada kurun tertentu pula seseorang terpaksa harus menutup mulut, walau suatu peristiwa yang sedang berlangsung di depan matanya menghinakan. Ada yang kembali dan ada yang hilang pergi. Kekuasaanmu telah tumbang. Biarkan kami berjalan bebas. Dan malam pun menjadi tampak lebih indah.
Sekitar pukul tujuh malam aku bertemu juga dengan tim yang ternyata dikomandani oleh Rahman. Mereka terlihat masih cukup fit. Hanya saja ada beberapa yang semangatnya sudah sangat lemah. Dari mukanya memang terlihat pucat. Tapi dari hentakan langkahnya, saya yakin dia belum benar-benar lelah. Rahman mengatakan bahwa tim akan tetap menuju Kandang Badak. Aku katakan lihat kondisi tim, kalau kondisi memang memungkinkan lanjutkan saja. Tapi jangan terlalu dipaksakan.
Tim pun tetap melanjutkan perjalanan menuju Kandang Badak. Aku sendiri masuk ke dalam hutan di sisi barat. Tidak terlalu jauh dari jalur semestinya, aku meletakkan carrier dan mengambil sedikit makanan ringan, minuman, senter dan jas hujan. Carrier aku bungkus dengan flysheet lalu aku sembunyikan di balik pepohonan dan semak-semak. Setelah merasa yakin bahwa barang-barang itu aman dari hujan dan jauh dari pandangan orang-orang yang lewat di jalur pendakian, aku segera menunaikan janji untuk menjemput Yoli dan Dendi.
Sepanjang jalan turun, aku hanya fokus pada jalan berbatu yang aku lalui. Senter yang aku bawa terus kunyalakan. Cahaya putih yang kusorotkan ke depan sangat membantu. Aku tidak ingin ada kecelakaan karena lalai. Entah terperosok atau terjatuh tersandung batu. Aku berjalan sendiri dan aku harus ekstra hati-hati dengan keselamatanku. Di kesendirian, aku jadi teringat apa yang telah dituliskan oleh Joe Simpson dalam Menyentuh Yang Niskala:

Untuk pertama kali dalam hidup, aku paham makna terkucil dari orang-orang dan masyarakat. Betapa tenang dan damai berada di sini. Aku jadi sadar akan hadirnya rasa bebas penuh – melakukan apapun yang ingin kulakukan, kapanpun kumau, dan dengan cara apa saja. Sontak seluruh hari berubah. Segala kemalasan terkikis habis oleh rasa bebas yang menggairahkan. Kami bertanggungjawab bukan kepada orang lain tapi kepada diri sendiri …

Sekitar pukul delapan malam, aku tiba di tempat kami berpisah. Tapi aku tidak menemukan dua temanku itu. Aku sempat berpikir bahwa barangkali kami telah berselisih jalan. Tapi apakah mereka terus mendaki atau turun kembali? Aku tidak banyak berpikir dan aku segera memutuskan untuk terus turun. Di Pos Panyancangan aku bertemu dengan mereka bersama kelompok pendaki lainnya. Aku menyapa semua. Yoli dan Dendi terlihat cukup baik. Nyaman dengan sleeping bag, air hangat dan makanan ringan. Aku berbicara sebentar dengan mereka soal kelanjutan perjalanan. Yoli memutuskan untuk beristirahat dulu di pos ini bersama Dendi. Besok pagi baru melanjutkan perjalanan. Aku sepakat dengan keputusannya itu. Demi keamanan dan keselamatan. Tapi aku tetap harus mendaki hingga bertemu dengan tim yang sedang menuju pos Kandang Badak. Selain untuk mengabarkan soal keputusan Yoli, ini juga sebagai konsekuensi dari keputusanku untuk meninggalkan barang-barangku sebelumnya.
Yakin dengan keamanan dan kenyamanan kedua temanku itu, aku langsung pamit untuk mengejar kembali teman-teman yang lain. Sekitar pukul sepuluh kurang lima belas menit, aku telah sampai di tempatku meninggalkan carrier tadi. Aku langsung memasak air. Menyeduh susu dan memakan makanan ringan. Setelah badan hangat, rasa kantuk muncul. Waktu menunjukkan pukul sepuluh. Aku memutuskan untuk tidur sekitar dua jam. Rencanaku, pukul dua belas baru melanjutkan lagi pendakian. Aku benar-benar tertidur lelap dengan hanya berselimut flysheet. Pukul setengah dua aku baru benar-benar terbangun. Badanku jadi terasa dingin lagi. Aku langsung memasak air. Sebagian aku minum di tempat, sebagian lagi aku sisakan untuk bekal di jalan. Pukul dua malam aku melanjutkan perjalanan.
Bulan sabit muncul sesaat. Bulu-bulu kudukku merinding ditiup hembusan angin. Kunang-kunang dengan cahaya birunya menemaniku sesaat pula. Tapi aku cukup senang, karena di depanku ada cahaya lain yang bersinar. Cahaya lampu senter dari para pendaki dengan tujuan yang ternyata sama, Kandang Badak. Aku jadi ada teman jalan. Mereka berjalan agak cepat dariku tapi sedikit-sedikit berhenti untuk istirahat. Aku berjalan dengan lambat namun konstan. Tapi pada akhirnya aku meninggalkan mereka jauh dibelakangku. Mungkin kekhawatiranku kepada teman-teman, dan terutama Putri, yang terus memberi semangat pada gerak langkah kakiku.
Pukul tiga kurang sepuluh menit aku melintasi Air Panas. Aku sangat berhati-hati melintasinya. Di tempat ini kalau siang hari sangat bagus pemandangannya karena memang agak terbuka vegetasinya. Bentuknya juga seperti air terjun. Dan memang layaknya air terjun kalau kita berada di bawah jurangnya. Di sisi barat adalah jurang yang hanya tampak hijau daun-daun dan uap air. Tampak juga pemandangan dari punggungan lain menuju Gunung Pangrango. Uap air yang mengepul membuat kacamataku berembun. Air panasnya cukup nikmat untuk mencuci muka.
Di Pos Air Panas aku bertemu dengan Taufik dan Giyo. Mereka sudah di dalam tenda dan akan melanjutkan perjalanan pagi nanti setelah tidur. Teman-teman yang lain menurutnya telah melanjutkan perjalanan ke Pos Kandang Badak. Aku pun langsung menuju Pos Kandang Badak. Jalan dari Pos Air Panas menuju Pos Kandang Badak sudah bukan lagi jalan berbatu yang tersusun rapi, tetapi jalan tanah setapak. Lebih dari setengah jam berjalan akhirnya aku tiba juga di Pos Kandang Badak. Aku luar biasa terkejut dengan jumlah tenda yang berdiri. Cukup banyak sekali. Sudah belasan kali, atau bahkan lebih dari itu, aku mendaki gunung Gede baru kali ini menyaksikan banyaknya pendaki yang memenuhi Pos Kandang Badak dalam satu waktu. Saking banyaknya tenda dan suasana yang sudah cukup sunyi, aku jadi bingung mencari tenda teman-temanku. Satu per satu aku datangi tenda dan menanyakan keberadaan teman-temanku, Talam 38.
Barangkali lebih dari satu jam aku berkeliling. Dan pada akhirnya ketemu juga tenda teman-teman yang ternyata saling berjauhan. Itupun hanya satu tenda yang aku tahu. Tenda yang ditempati oleh Winda, Mr Duran, dan Jefri. Aku merasa lega karena semua telah sampai dan beristirahat. Aku langsung menggelar flysheet dan matras. Membongkar isi carrier, lalu memasak. Waktu shubuh berlalu begitu saja. Pukul enam pagi, hari sudah cukup terang. Tidak lama kemudian ada beberapa teman yang sudah bangun, termasuk Putri. Masakan telah matang dan aku langsung mengajak mereka sarapan pagi. Sementara yang lainnya ada yang masih tertidur dan ada pula yang baru akan mulai memasak.

Perubahan Rencana

Masing-masing mengikuti impiannya yang liar,
mendesak ke arah kericuhan yang jauh,
kemudian mendadak terkungkung
dalam ketermenungan tanpa keinginan.

(Andre Gide, Makanan dari Bumi)

Minggu, 5 oktober 2008. Pukul sembilan pagi hampir semua pendaki yang bermalam di Pos Kandang Badak sudah terbangun. Keriuhan dari canda para pendaki mengusir cericit kicau burung. Cahaya matahari pagi terlihat keemasan menyinari hijau pepohonan Gunung Pangrango. Sedikit-sedikit juga menyinari tenda-tenda yang masih terlihat basah oleh sisa embun tadi malam. Pagi yang cerah. Waktu yang baik untuk memulai pendakian. Tapi saya tidak melihat tanda-tanda dari teman-teman untuk memulai pendakian ke Puncak Gn. Gede. Taufik dan Giyo juga baru saja tiba di Kandang Badak dan mulai bergabung. Aku sendiri mulai memasang flysheet. Lalu mengamankan barang-barang.
Sekitar pukul setengah sepuluh aku mulai menanyakan rencana tim selanjutnya kepada Rahman. Kalau bisa dibuatkan semacam briefing dan evaluasi perjalanan. Ini penting untuk pembelajaran bagi teman-teman dalam menilai diri dan membuat keputusan ke depan secara bersama-sama dengan segala konsekuensinya. Rahman kemudian menyampaikannya kepada Winda. Mereka sepakat untuk berkumpul setelah makan. Aku sendiri sedang merencanakan penjemputan Dendi dan Yoli. Tapi masih menunggu rencana dari tim besar dulu agar kalau ada kendala lain dalam penjemputan sudah ada pertimbangan-pertimbangan dalam membuat keputusan lainnya.
Langit sedikit-sedikit gelap lalu terang kembali. Rencana pendakian yang telah dibuat berubah total setelah kami mengadakan briefing dan evaluasi. Selama hampir satu jam kami membahas rencana perubahan itu. Rencana awal kami yaitu hari pertama mendaki hingga ke kandang badak; hari kedua lanjut ke Puncak Gede lalu berkemah di Alun-alun Suryakencana; hari ketiga kembali ke Kandang Badak dan melanjutkan pendakian ke Puncak Gunung Pangrango; hari keempat turun kembali melalui Pos Cibodas untuk menuju kembali ke sekolah.

(Bersambung …)

2 Comments Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s