Lebaran dan Sepeda: Tapi kemana semua harus tertuju?

30 September 2008, Pukul 20.30 WIB

Malam Takbiran. Gema takbir bersahut-sahutan tidak hanya dari pengeras suara di masjid-masjid, tetapi juga di tengah-tengah jalan raya. Aku kayuh sepedaku menuju terminal Kampung Rambutan. Rencanaku sudah bulat. Merayakan lebaran di daerah lain dengan bersepeda. Rencana ini memang di luar rencana semula yang aku rencanakan bersama seorang teman.

Tadinya kami akan merayakan lebaran di tempat kawan lain, Yogyakarta atau Kediri, tanpa sepeda. Tapi, malam ini rencana itu berubah total. Aku hanya sendiri. Temanku membatalkan rencananya. Dan ketika aku kembali ke rumah, sepeda merahku seperti menawarkan sesuatu yang lain: Ah … betapa asyiknya mengukuhkan ikatan batin dengan alam dan teknologi sederhana tanpa polusi, bersepeda.

Malam itu aku segera menentukan lokasi tujuan dan rute perjalanan serta alat transportasi lain yang akan kugunakan. Pelabuhan Ratu dan Bus. Aku akan ke terminal Kp. Rambutan dengan bersepeda dan tiba disana langsung naik bus ke Pelabuhan Ratu. Ini memang spekulasi, karena hari telah malam, apalagi malam takbiran seperti ini, apakah bus ke Pelabuhan Ratu masih ada? Tapi aku berharap semoga ada banyak alternatif lain jika bus memang tidak memungkinkan. Jika tidak ada alternatif lain, pulang ke rumah adalah lebih baik.

Segala sesuatunya memiliki resiko. Termasuk bersepeda. Dengan persiapan seadanya aku berusaha untuk meminimalkan segala kemungkinan buruk yang mungkin aku alami. Untuk sekedar jaga-jaga, aku bawa semua peralatan standar untuk perjalanan. Beberapa helai pakaian ganti, sleeping bag, raincoat, suku cadang sepeda beserta perlengkapan lainnya. Kali ini aku memakai helm sepeda, T-shirt, celana jeans, dan sepatu gunung. Jaket kelabu juga melekat di badanku (Gadis, aku masih belum menggantinya dengan yang hitam. Tapi, ini masih harum kok!)

***

Sudah hampir setengah jam aku mengayuh sepeda, tapi baru sampai Pasar Rebo. Sepeda pun kukayuh lebih cepat. Jalan Baru dekat Terminal Kp. Rambutan tinggal sebentar lagi. Aku menyebrang jalan. Melawan arus lalu lintas. Bus terlihat masih banyak. Keamanan sepertinya juga baik. Banyak polisi. Jalan agak macet juga. Aku naik ke trotoar. Aku tuntun sepedaku masuk ke terminal. Calo-calo tidak mendatangiku. Padahal biasanya mereka langsung mengerubungi calon penumpang. Mungkin karena aku membawa sepeda, tidak terlihat seperti sedang menunggu bus.

Aku bertanya pada petugas di terminal, apakah bus ke Pelabuhan Ratu masih ada? Petugas itu bilang mungkin sudah tidak ada. Mungkin? Berarti dia juga tidak tahu. Tidak yakin. Aku meragukan jawabannya. Tapi aku justru mengayuh sepeda keluar terminal. Aku duduk menunggu di sebuah warung kopi. Sepeda aku tempatkan di samping mobil bak kecil. Tepat di depan tempat dudukku.

Seperti biasanya, aku menyapa beberapa orang di sekitarku. Memesan kopi. Mengajak mereka ngobrol. Ternyata mereka adalah pengendara mobil bak kecil di depanku. Dan yang membuatku senang sekaligus bimbang, tujuan mereka setelah makan adalah ke Pelabuhan Ratu. Mereka tinggal di belakang Masjid Agung Pelabuhan Ratu. Hari ini adalah hari panjang mereka setelah mengantar barang dan harus kembali lagi untuk merayakan lebaran bersama keluarga.

Mereka sempat mengeluh atas pekerjaannya itu. Tapi keluhan mereka hanya masuk telinga kiri dan keluar lagi dari telinga kiri pula setelah terbentur gendang telinga. Aku kurang perhatian? Ah … Pelabuhan Ratu, apa masih ada ruang untuk menumpang?

Pukul 22.14 WIB

Allahu Akbar … Hah, I am a lucky man. Setelah bicara panjang lebar, akhirnya aku mengutarakan kenginanku untuk menumpang ke Pelabuhan Ratu bersama mereka. Mereka setuju. Lagipula mereka hanya berdua. Maksudnya, ada satu tempat lagi untukku. Langsung saja sepeda kutaruh di bak belakang.

Selama perjalanan aku pasrah. Aku percaya pada mereka dan semoga mereka juga percaya padaku. Agar perjalanan tidak terlalu tegang dan kaku. Ah, denyut jantung rasanya masih berdebar keras. Di luar jendela semuanya makin terasa jauh. Kegelapan makin matang. Aku tertidur. Bintang-bintang akan datang. Nanti. Tapi aku sudah terhimpit mimpi. Juga razia-razia polisi.

1 Oktober 2008

Aku bukan petualang sejati. Aku hanya pejalan di muka bumi. Aku melihat, mendengar, dan merasa. Dengan segala yang ada pada diriku aku bergerak untuk mengindera sesuatu yang lain. Lalu memberi arti.

Pukul 02.03 WIB

Sudah hampir 4 jam perjalanan. Badanku terasa pegal-pegal juga. Sepertinya kami sudah melewati Pos PLTA Ubrug. Sepanjang jalan aku hanya melihat pepohonan diantara kegelapan yang riuh dengan gema takbir samar-samar di telinga. Tenang dan menghanyutkan. Berbeda dengan jalan sebelumnya dari terminal Kp. Rambutan sampai di Cibadak. Aku masih melihat beberapa orang gila dan gelandangan yang teridur di emper-emper pertokoan.Malam Takbiran. Malam Pembebasan?

Semuanya terlihat sebagaimana semuanya tampak. Semoga sisi biru senantiasa hadir di antara gelap dan terangnya langit.

Kondisi jalan ke Pelabuhan Ratu memang bikin jantung berdebar kencang juga. Jalannya naik-turun berkelak-kelok. Gelap pula. Kiri-kanan hutan. Jika tidak pintar-pintar dan hati-hati dalam mengemudi bisa jadi nyawa melayang. Sialnya si Afif (pengemudi mobil) ngebut melulu. Tapi saya seneng juga dapat kawan jalan baru seperti bapak ini. Yang paling bikin aku seneng, dia banyak bicara jujur tentang kehidupan para sopir pengangkut barang. Ada banyak pelajaran mengagumkan: keberanian hidup, semangat hidup dan segala kecurangan dalam hidup. Kebutuhan kelamin dan minuman keras. Si Endin hanya mesam-mesem saja kalo saya tanya soal ini.

Aku pikir, tiap orang pada dasarnya punya pandangan-pandangan ideal tentang hidup. Selalu ada pertentangan batin jika berbuat di luar pandangan idealnya. Hasrat hidup, pikiran, tindakan! Keinginan yang baik melahirkan pikiran yang baik. Pikiran baik melahirkan tindakan baik. Tapi ada hal-hal dalam hidup ini yang kadang membuat antara pikiran dan tindakan menjadi tidak selaras. Selalu saja ada faktor x, y, z dalam bilangan waktu yang menjerumuskan manusia dalam tindakan yang dikatakan sebagai ‘dosa’.

Ah … lupakan. Langit sudah separuh berwarna merah.

Pukul 04.18 WIB

Akhirnya tiba juga di Masjid Agung Pelabuhan Ratu. Aku ditawari untuk mampir ke rumah Pak Afif. Masuk agak jauh di gang kecil yang ada tepat di belakang masjid. Istrinya ramah. Anaknya tiga, satu laki-laki dan dua perempuan. Sudah agak besar-besar juga. Terlihat sebagai keluarga harmonis. Aku merasa nyaman.

Aku numpang membersihkan diri dan mengganti pakaian. Lalu berangkat ke masjid untuk sholat Shubuh bersama Pak Afif. Dia terlihat sebagai orang yang taat beribadah (maksudku, rajin sholat!). Tapi, bagaimana soal pembicaraan tadi. Ah, entahlah. Saya hanya berharap kebaikan yang ada ini semoga benar-benar dapat mengikatkan hati kami dengan kasihNya.

Masjid Agung Pelabuhan Ratu cukup megah juga. Lantainya marmer. Lampu-lampunya juga cukup terang. Halamannya luas. Di sisi utara halaman masjid adalah kantor pemerintahan daerah yang menghadap ke sisi selatan, Pantai Pelabuhan Ratu. Halaman masjid yang luas juga adalah alun-alun kota. Sholat Shubuh saya sangat tidak khusyu’. Ada dingin dan ngantuk yang begitu kuat. Selesai shloat shubuh saya tidur sebentar. Bangun kembali sebelum sholat Ied.

Pukul 08.00 WIB

Sholat Ied berlangsung lebih khidmat. Dan aku benar-benar menikmatinya. Selepas sholat aku berlebaran dengan keluarga Pak Afif, Endin, lalu pamit untuk melanjutkan perjalanan. Akupun langsung bersepeda berkeliling pantai. Dari Tempat Pelelangan Ikan, Karang Hawu, Air Panas Cisolok, dan istirahat satu malam lagi di petilasan Nyi Ratu Sagara Kidul di Karang Hawu. Begitu indah alam kita, tapi mengapa belum juga lebih besar artinya bagi kesejahteraan masyarakatnya. Ah, aku tenggelam dalam mimpi untuk hari esok yang lebih baik. Roda yang terus berputar. Kaki yang tetap mengayuh. Tapi kemana semua harus tertuju?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s