Catatan Menjelang Ramadhan

Kamis 21 Agustus 2008

Pada sebuah masjid yang terletak di daerah Utan Kayu, saya selalu mendapatkan senyum yang begitu tulus dari sang penjaga masjid. Senyum dari seorang bapak tua yang setiap harinya juga bertugas mengatur parkir kendaraan para jamaah masjid. Beliau menyapa dengan salam setiap saat setelah menunaikan sholat dzuhur dan ashar. Kami senantiasa berjabatan tangan. Dan pada hari ini, saya mengikutinya duduk di bawah sebuah pohon besar di halaman masjid. Beliau, dengan senyumnya dan tatapan mata yang tajam, membuka pembicaraan.

“Bentar lagi Ramadhan udeh mau datang nih,” katanya membuka pembicaraan. “kayaknya enak banget kalo ibadah dengan hati dan pikiran yang tenang, kagak terlalu resah, lapang. Gak mikirin macem-macem. Tapi sanggup gak ya kita bener-bener menyambut dan mengisi Ramadhan dengan hati tenang dan gembira.” Beliau menatap saya sambil tertawa kecil.

Saya masih terdiam sambil memikirkan kata-katanya itu. Saya pikir ini adalah sebuah bentuk nasehat kepada kami berdua. Nasehat dalam sebuah tanya yang harus kami jawab. “Yah, moga-moga aje bisa Pak. Kalo Allah udah ngasih jalan yang lurus dan hati yang lapang kan kagak ada yang bisa ngehalangin dan nyempitin jalan kite Pak.” Saya menjawabnya dengan yakin.

Tapi keyakinan itu kemudian membawa saya dalam kegelisahan yang lain. Bukankah Allah sudah memperlihatkan pada saya jalan-jalan yang lurus, jalan-jalan yang lapang, dan itu sudah ada di dekat saya sejak lama. Tapi, kenapa selalu saja saya malas mendekatinya. Selalu saja ada alasan untuk menunda dan meninggalkannya. Saya selalu mengerjakan sesuatu yang kadang tidak terlalu penting untuk dikerjakan, bahkan untuk dipikirkan. Dan itu tentu saja membuat saya resah dan gelisah. Tidak ada skala prioritas. Selalu saja ada janji yang teringkari. Selalu saja ada dusta yang muncul.

“Ente udah lama kerja di daerah sini?” tanya beliau memecahkan kegelisahan saya.

“Hampir enam bulan Pak. Tapi, saya sebentar lagi keluar dari kerjaan di daerah sini. Di pertengahan bulan puasa kayaknya. Pengen ngelarin skripsi dulu sambil maen lagi kayak dulu. Ya, sambil nyari juga kerjaan laen yang lebih enak. Kayaknya ba’da idul fitri kita jadi jarang ketemu nih Pak.” Saya menjawab dengan agak panjang.

“Masih muda emang yang penting banyakin jalan, banyakin silaturahim ame banyakin usahe, tapi perkara hasil jangan diambil pusing. Allah udeh nentuin. Nanti juga ketemu jalannya yang pas. Yang penting jangan ninggalin sholat yang lima waktu, kalo bisa ente jangan ampe telat mulu kayak sekarang-sekarang ini. Ane lihat ente jarang-jarang ke ini mesjid. Ente yakin aja dah, siapapun yang bertakwa dan bertawakkal pada Allah, segalanya yang kita butuhin pasti dateng dari jalan mana aja yang kagak kita duga-duga. Ane cuman bisa do’ain biar ente sukses dunia dan akherat. Lapangin aja pikiran kite, hati kite, dalam kerjaan yang masuk juga dalam ibadah.”

“Iya Pak. Ane harus balik lagi nih ke kantor. Kapan-kapan kita ketemu ngobrol lagi Pak. Assalamu’alaikum …”

***-***

Senin, 25 Agustus 2008

Pagi ini saya terlambat lagi berangkat kerja. Pukul 8.05 WIB saya baru tiba di Shelter Busway Departemen Pertanian. Saya perkirakan sekitar pukul sembilan saya baru akan tiba di kantor. Dan itu berarti telat sekitar setengah jam. Tapi saya tetap merasa bahwa ini adalah hal baik bagi saya. Bukan keterlambatannya, melainkan tentang arti penting dari hal yang saya temui.

Saat sibuk SMS-an dengan salah seorang junior di SMA, saya berpapasan dengan seorang teman SMA seangkatan. Dia juga akan berangkat kerja. Saya sempat tidak mengenalinya karena saya dibelakangnya dan sibuk dengan SMS. Saat berdiri sejajar ketika akan menyeberang jalan, saya baru mengenalinya. Dalam pertemuan singkat ia mengucapkan permohonan maaf karena ramadhan akan segera tiba. Saya hanya membalasnya dengan kata “sama-sama”. Tapi saya ucapkan tanpa ketulusan akan arti permohonan maaf yang sesungguhnya.

Momen inilah yang saya anggap baik. Sekalipun sama sekali tidak dapat mentolerir keterlambatan yang memang tidak baik. Tapi, Momen ini mengingatkan saya kembali pada obrolan dengan penjaga masjid. Tentang keresahan dan kegelisahan saya, tentang kelapangan dan ketenangan hati. Dan kaitannya dengan permohonan maaf.

Permohonan maaf, dalam pengertian saya berarti mengakui apa yang salah atau tidak baik dari diri kita terhadap sesuatu yang lain. Permohonan maaf berarti mencoba untuk memperbaiki diri dari kekurangan yang ada. Permohonan maaf berarti pula mencoba melepaskan diri dari berbagai sangkutan yang mengikat batin kita dalam ketidaktenangan, dalam kegelisahan. Singkatnya, permohonan maaf berarti mencoba mengikatkan diri pada ketenangan dan kelapangan jiwa, dalam kasih pada semesta.

Siapapun kita, pasti memang memiliki kesalahan. Dalam perbuatan dan pikiran. Saya jarang bertemu dengan teman SMA saya itu, bahkan seingat saya semasa SMA, saya jarang sekali bertemu dengan dia. Tetapi barangkali ada juga muncul dalam pikiran ini sesuatu yang tidak baik tentang seseorang itu. Dan untuk itulah permohonan maaf diperlukan untuk menguatkan ketenangan batin akan kesalahan yang dulu mungkin pernah ada.

Saya mencoba mengambil kesimpulan: kalau saya ingin keluar dari segala kegelisahan dan keresahan selama ini, maka saya harus mulai memohon maaf. Pada kalian dan pada diri saya sendiri yang sering jalan tertatih dan tanpa terurus karena perkara yang jauh dari kebenaranNya. Saya harus mulai melepaskan diri dari segala perkara yang memang seharusnya dilepaskan. Soal kesalahan pada sesama manusia, pada diri sendiri, dan pada sesuatu yang sama sekali lain: Sesuatu yang Ilahi. Mulai pula menunaikan hutang-hutang materi. Mulai menunaikan janji-janji. Mulai melepaskan dusta dan kemunafikan. Hidup sederhana dan apa adanya. Sehingga tidak ada ikatan lain pada diri ini melainkan kekayaan diri: semangat cinta dalam jiwa dan raga.

Terima kasih untuk sahabat yang mengingatkan saya pada arti penting permohonan maaf, pemaafan, dan kerendahan hati dalam nasehat. Terima kasih untuk kalian yang dengan tulus telah mendekap saya dalam do’a dan budi baik kalian. Jika suatu saat kalian dapati saya dalam keadaan yang jauh dari kebajikan, maka yakinkanlah saya untuk jauh dari itu semua.

Saya yang masih dalam kekhilafan, kesombongan, dan kemunafikan

-Saca Firmansyah-

NB : Barangkali saya memang masih menyimpan kekhilafan, kesombongan, dan kemunafikan dalam tulisan ini. Mohon maaf untuk itu semua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s