Catatan Perjalanan : Peringatan 17 Agustus di Kampung Gunung Batu, Bogor

Rabu, 13 Agustus 2008

Pagi hari tepat pukul 6:30 handpone saya berdering. Ada satu pesan masuk: “tmn2..dtng yup k syukuran ‘kemenangan mapala ui’ + ratri..sabtu tgl16 agsts jam 8pagi di sekret..pliz dtng tepat waktu & konfirm khadiranny k no.ini..thanks..”

Oh iya … saya baru ingat, tanggal 16 agustus ada rapat triwulan untuk evaluasi dan tindak lanjut kegiatan Mapala ke depan. Teman-teman arung jeram puteri juga baru saja kembali dari lomba nasional di Bengkulu. Mereka juara nasional untuk tim puteri. Saya tidak mungkin meninggalkan pertemuan hari sabtu nanti. Tegasnya, saya harus datang dan menunda dulu kegiatan-kegiatan yang telah direncakan lebih dulu.

Tapi tetap ada keraguan. Karena sebelumnya saya sudah mengajak teman-teman lain untuk ikut bersama saya. Hari berikutnya, tanggal 14 Agustus 2008, saya menghubungi kembali orang-orang yang telah saya ajak untuk turut serta merayakan peringatan 17 Agustus bersama saya. Saya pastikan dari mereka terlebih dahulu, apakah mereka telah siap untuk turut serta atau tidak. Ternyata mayoritas tidak dapat turut serta. Hanya ada 3 orang yang sudah siap. Dua orang teman dari BSI dan satu orang dari Mapala UI.

Saya katakan kepada teman-teman yang telah siap, untuk tetap bersiap-siap melakukan perjalanan. Waktu memang akan diundur, tapi bukan berarti dibatalkan. Tunggu konfirmasi dari saya pada malam sabtu.

Jum’at, 15 Agustus 2008

Saya menyakinkan teman-teman sekali lagi bahwa kita akan berangkat pada sore hari tanggal 16 Agustus 2008. Saya ikut rapat dulu dengan teman-teman di Mapala. Bagi yang sudah tahu dan ingin jalan lebih dulu saya persilahkan untuk berangkat hari ini.

Saya sempat bercanda dengan mereka soal pentingnya rapat saya di Mapala. Saya katakan bahwa rapat ini terkait erat dengan peristiwa sebelum proklamasi RI dikumandangkan oleh Soekarno, oleh golongan tua yang saat itu sangat dekat dengan Jepang. Rapat ini penting sebagai bentuk peringatan terhadap gerakan kaum muda dalam mendorong proklamasi kemerdekaan RI dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Tidak akan ada peringatan 17 Agustus 1945 tanpa ada peristiwa Rengasdengklok pada tanggal 16 Agustus 1945. Dan bagi kami, kaum muda pada masa ini, sudah selayaknyalah memperingati hari kemerdekaan RI dengan terlebih dahulu memperingati peristiwa Rengasdengklok untuk menyerap semangat pemuda pada masa itu.

Mereka hanya tertawa. Dan memang pada rapat yang saya ikuti di hari berikutnya tidaklah seserius itu. Dalam rapat, tidak ada aura peringatan 17 Agustus sama sekali. Barulah setelah giliran saya presentasi, saya sampaikan bahwa rapat ini bertepatan dengan peristiwa rengasdengklok. Tawa ceria yang mengejek muncul. Tapi, saya cukup mengerti mengapa itu bisa terjadi. Di dalam diri anak Mapala barangkali yang ada sekarang adalah semangat internasionalisme dan kemanusiaan. Menjelajah bumi, gunung-gunung es, jeram-jeram sungai mengganas, goa-goa gelap, lautan nan dalam, dan menyebarkan rasa cinta sesama di alam raya, di dunia internasional. Nasionalisme barangkali adalah nilai yang telah usang. Semangat kebangsaan yang mencipta perang. Ah, tentu tidak bagi semua anak Mapala. Barangkali juga hanya pikiran liar saya saja yang berpikir demikian.

Tapi ada yang menarik dalam rapat hari itu. Dalam sesi presentasi BKP (Badan Khusus Pelantikan), teman-teman membahas tentang sesuatu yang sangat filosofis. Mereka mempertanyakan tentang nilai-nilai dalam pendidikan Mapala ke depan. Menggali ‘Roh besar’ yang membuat Mapala hingga kini masih eksis. Apa arti kaderisasi, penambahan anggota, tanpa ada nilai-nilai di dalamnya. Apa pula nilai-nilai yang selama ini kita pegang dan membuat kita bisa tetap bersama dalam organisasi bernama Mapala. Pertanyaan itu tidak dapat dijawab pada hari itu. Tapi kami meyakinkan diri bahwa nilai-nilai di dalam Mapala muncul dan selalu berubah seiring dengan perkembangan jaman. Seiring pula dengan latar belakang anggota yang menghidupinya sekarang. Kita hanya memberikan cara untuk berpetualang yang baik. Nilai-nilai dalam diri masing-masing toh akan ditemukan dalam petualangannya masing-masing.

Dulu beberapa senior mengatakan bahwa organisasi ini adalah organisasi yang menganut paham “free will”, setiap orang memiliki kehendak bebas. Gesekan-gesekan sosial akan menjawab siapa kita. Iqbal, seorang penyair Pakistan pernah juga mengatakan bahwa seorang petualang harus siap untuk tersesat dan bahkan terhempas dari jalan yang harus dilaluinya. “Dan bagi kami jangan takut maju ke depan, karena tidak pernah ada jalan buntu!” Itu kata mereka yang telah banyak mengenyam petualangan.

Sabtu, 16 Agustus 2008

Usai rapat di Pusgiwa, saya kembali ke rumah. Saya dengar kabar bahwa adik saya yang juga Mapala sudah tiba di Yogyakarta dan akan melanjutkan perjalanan ke daerah Pantai Siung. Ia bersama satu orang teman Mapala akan melakukan panjat tebing di daerah itu. Kebetulan motor adik saya tidak dipakai. Saya minta ijin kepada adik saya untuk menggunakannya ke Bogor.

Malam harinya saya sampaikan kepada teman-teman bahwa saya sangat lelah. Saya mohon pengertian mereka untuk menunda perjalanan esok siang. Mereka setuju. Tapi mereka akan berangkat dari kampusnya masing-masing. Sementara saya akan berangkat dari Pusgiwa bersama satu orang anak Mapala. Kami juga sepakat untuk menggunakan sepeda motor saja ke Kampung Gunung Batu.

Minggu, 17 Agustus 2008

Hari sudah siang. Pukul 02.00 WIB saya bersama Ardi berangkat menuju Bogor. Sepanjang jalan sangat lancar dan tidak ada kemacetan. Saya sangat leluasa mengendarai sepeda motor pada hari itu. Pada tempat tertentu, kecepatan rata-rata bisa mencapai 100 km/jam.

Dalam waktu dua jam (barangkali juga lebih) saya sudah tiba di Desa Tangkil. Suasana 17-an sangat terasa. Ada kelompok pemuda mengarak piala setelah menang pertandingan bola. Sebagian jalan ditutup untuk arak-arakan. Tetapi sangat berbeda ketika saya mendekati gerbang kampung Gunung Batu. Tidak ada semarak bendera merah putih, tidak ada perlombaan. Yang ada hanya kibaran satu bendera dekat masjid, jalan masuk kampung.

Sedikit masuk lagi, ada tenda pernikahan. Dari situ tinggal 15 menit lagi sampai ke ujung Kampung Gunung Batu. Saat sedang melaju di jalan tanah yang sangat sulit dilalui motor, saya disapa oleh Pandi. Seorang pemuda yang sempat saya kenal sebelumnya. Dia mengajak saya untuk mampir melihat mempelai. Saya menolaknya. Saya katakan bahwa saya tidak kenal dengan mereka. Takut muncul suasana tidak enak bagi mempelai dan tamu yang hadir. Saya berbincang-bincang saja dengan Pandi di dekat masjid, beberapa rumah dari rumah mempelai. Ada juga Pak Ana dan entah siapa beberapa orang lagi, saya lupa untuk mengingat namanya.

Sambil menunggu waktu maghrib, kami terus berbincang tentang banyak hal. Tentang kondisi desa, tentang mahasiswa Unpad yang KKN di sana, tentang pohon-pohon yang sudah saya tanam, tentang pertaniannya, dan banyak lagi. Juga tentang kenalan-kenalan saya yang akhirnya kerja di Jakarta sebagai kuli bangunan. Meninggalkan tanah pertanian untuk cepat-cepat mendapatkan uang.

Pada saya, Pak Ana mengatakan bahwa petani memang serba salah sekarang ini. Dalam bahasa yang saya mengerti, bertani banyak ruginya banyak juga untungnya, tapi meninggalkan pertanian berarti ‘membunuh’ kehidupan di desa. Yang memilih untuk bertani dengan modal pas-pasan apalagi meminjam berarti harus siap menunggu dan berkorban untuk masa 3,5 bulan, 6 bulan, atau setahun ke depan. Bahkan untuk hutang yang ditanggung bisa selama-lamanya. Oleh karena itu, lebih baik ia yang berusaha mati-matian mendapatkan uang dan meminjamkannya kepada petani di daerahnya yang juga masih saudara-saudaranya. Agar petani di daerahnya itu jauh dari tengkulak. Dengan metode bagi hasil, saya pikir sekarang Pak Ana lah yang jadi tengkulak. Tapi tengkulak yang tentu sangat jauh dari sikap menindas sesama.

Pak Ana juga tidak menutup mata saya bahwa ada juga petani yang kadang licik. Misalnya ada yang meminta bibit 5 kilo untuk tanahnya, yang ditanam hanya 2 kilo dan 3 kilo lagi dijual. Tapi dia memakluminya. Pikirnya, kalau menyebar benih dan menunggu panen butuh waktu 3 bulan lebih, selama itu petani harus makan apa?

Lain pembicaraan, pada Pak Adang saya bertanya mengapa suasana 17an tidak semeriah di Desa. Pak Adang hanya mengatakan bahwa perayaan itu cukup dilaksanakan di majelis dengan mendoakan para pahlawan. Semalam setelah nisfu Sya’ban juga telah mereka rayakan dengan pengajian. Mereka percaya bahwa para pahlawan memang telah mengantarkan mereka ke jaman merdeka seperti sekarang ini. Dan atas kebaikan-kebaikannya para pahlawan itu, mereka berdoa agar kemerdekaan ini tetap dapat dirasakan dan jaman ini dapat lebih baik lagi ke depannya. Mereka juga mengirimkan do’a untuk para pahlawan itu. Semoga Allah SWT mengampuninya dan memberikan tempat terbaik di sisiNya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s