Indahnya Bertani, Sedihnya Petani

petani-baliBertani merupakan cara hidup, hiburan dan pekerjaan yang indah dan bebas, begitu kata seorang petani tua dari Bali, daerah pertanian yang masih bertahan dengan sistem Subak-nya, Pak Made Rade.

Kenikmatan ini tentunya hanya bisa diperoleh oleh petani yang memiliki tanah sendiri dan modal sendiri. Mereka mengolah tanah mereka sendiri dengan bebas. Hasilnya juga bisa dinikmati sendiri dan sedikit-sedikit juga bisa diberikan kepada saudara-saudara di sekitar mereka. Tanpa tekanan harus menjual hasil panennya. Tanpa tekanan harga rendah gabahnya. Rasanya bertani bisa jadi alternatif profesi bagi saya. Tentunya kalau sudah punya tanah dan modal yang cukup dengan pengetahuan yang cukup pula.

Tapi saya melihat sesuatu yang lain di wilayah-wilayah yang lain. Misal saja di daerah kelahiran ibu saya, Cikarang-Bekasi. Memilih bertani berarti memilih untuk ‘ditindas’ oleh tengkulak, oleh perusahaan penggilingan, oleh rentenir yang barangkali punya hubungan kekerabatan juga dengan yang lainnya, dan bahkan oleh suatu sistem penetapan harga gabah oleh pemerintah. Dan menurut seorang teman yang sempat berdialog dengan HKTI, penduduk kita yang mengaku memiliki pekerjaan sebagai petani ternyata 70 persennya tidak mempunyai lahan.

Kisah-kisah duka pun selalu meliputi petani seperti itu. Apalagi sejak dikumandangkannya revolusi hijau sekitar tahun 70-an. Sebagian besar masyarakat yang hidup dari pertanian selalu dipelihara dalam kebodohan dan ketertindasan. Sebagian lainnya menjadi tuan-tuan tanah yang cukup kaya dan punya koneksi kuat dengan pemerintah pusat. Saat ini, saya pikir sudah ada perubahan yang lebih baik. Sudah ada itikad baik dari pemerintah dalam pengembangan dan pendistribusian hasil-hasil pertanian. Petani diberi penyuluhan soal bagaimana memproduksi beras dengan baik dan sehat. Tapi ada ‘permainan’ disana-sini soal penimbunan pupuk, yang justru sangat merugikan petani dalam modal awal penanaman.

Bertani terasa jadi sangat merugikan. Rugi Waktu. Rugi Tenaga. Juga Uang. Akhirnya masyarakat lebih senang menjadi buruh. Gaji perbulan jelas adanya. Instant. Penindasan di kantor dan pabrik toh tidak jelas terasa tanpa kesadaran mendalam. Berbeda dengan menjadi petani. Jelas-jelas ditindas rentenir dan tengkulak sebelum sempat mengolah tanah. Rasanya wajar jika pertanian semakin bertambah tahun, semakin ditinggalkan oleh masyarakat Indonesia. Masyarakat dengan sebuah negara yang sempat mengikrarkan diri sebagai negara agraris.

Permasalahannya lain lagi ketika saya membaca novel Hikayat Kadiroen. Masyarakat petani, menurut novel yang dikarang Semaoen selama masa pengasingannya sekitar tahun 1920-an, ditindas lewat sistem alat tukar yang sama sekali baru bagi masyarakat petani Indonesia era tahun 20-an. Sistem alat tukar itu tidak lain adalah uang. Masyarakat yang sebelumnya saling berbagi dan memiliki cara penyimpanan stok pangan secara kolektif, berubah drastis setelah penerapan sistem pembelian gabah dengan uang. Sepengamatan saya selama berkunjung ke desa-desa di wilayah Sumatera, Jawa dan Bali, sistem tukar dengan menggunakan uang ini memang telah mengubah struktur sosial masyarakat sampai ke pelosok-pelosok desa.

Saya tidak begitu ingin menjelaskannya dengan panjang lebar mengenai permasalahan yang ada itu di tulisan ini. Untuk itu saya merekomendasikan kepada teman-teman yang mau mendalami tentang permasalahan yang ada, terutama tentang peradaban dan cara hidup hemat bersahaja di era ‘kekuasaan’ uang untuk membaca novel Hikayat Kadiroen. Bagi yang sering membaca novel dan memperhatikan gaya bahasa yang digunakan, mungkin akan kecewa. Karena bahasanya kurang ‘nyastra’. Maklumlah, novel ini dibuat oleh politikus muda yang sedang dikungkung oleh ruang bernama penjara. Dan sangat jelas bergesekan dengan ideologi sosialis-komunis pada masa itu.

Bagi yang muslim, dan tidak menutup diri untuk yang berkeyakinan lainnya, untuk dapat menguatkan pemahaman, teman-teman bisa juga membaca buku Sistem Dajal karangan Ahmad Thomson yang sempat diterbitkan oleh Penerbit Semesta, Bandung. Buku ini bisa diperoleh dengan meng-copy dari buku aslinya. Dengan membaca kedua buku ini, semoga kita semua bisa bijak dalam menggunakan uang dan memanfaatkannya atau bahkan menggantikannya dengan yang lain demi kebaikan bersama: Alam, Budaya, dan Kemanusiaan yang lebih baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s