Ketakutan Dalam Kehidupan: Berbagi Satu Kegelisahan

Di dalam gerbong kereta listrik Bogor-Jakarta, saya bertemu dengan kawan lama. Dalam pertemuan yang singkat ia mengatakan bahwa dari raut wajah saya nampak ketakutan-ketakutan . Ketakutan akan apa? Tidak jelas rupanya. Yang ia tahu, saya telah berubah. Lain dari biasanya. Raut wajah gelisah dengan kegelisahan yang begitu berbeda dari sebelumnya. Ia yakinkan saya bahwa sayalah yang seharusnya lebih tahu terhadap ketakutan-ketakutan di dalam diri saya sendiri.

Saya turun di Stasiun Cikini. Saya lihat jam sudah menunjukkan pukul 08.45 WIB. Saya harus berjalan lebih cepat. Takut terlambat masuk kantor. Takut? Takut terlambat ke kantor? Ah … ya, saya benar-benar ketakutan. Sederhana sekali ketakutan ini. Apakah ketakutan seperti ini yang teman saya maksudkan tadi.

Saya berjalan dengan cepat. Lebih cepat dari orang-orang lain di sekeliling saya. Ketakutan membuat gerak saya lebih cepat. Baru pada bulan-bulan dekat ini saya bertingkah seperti ini. Selalu menunggu, selalu merasa dikejar waktu. Ya, sejak saya memutuskan untuk bekerja sesuai jam kantor pada umumnya: 08.30 s.d. 17.30 WIB.

Setiap hari saya harus berdesak-desakkan dengan para penumpang kereta dan bus umum. Setiap pagi dan sore hari harus bertukar udara dari hidung yang kadang jauh dari mancung dalam jarak yang begitu dekat. Setiap hari … setiap hari saya melihat wajah-wajah baru tanpa pernah tahu darimana dan akan ke mana mereka. Tanpa pernah mencoba tahu tentang siapa mereka. Dalam ketakutan dan kegelisahan tidak ada waktu untuk bersua.

Setiba di kantor, setelah memastikan diri bahwa saya telah benar-benar terlambat, saya mencoba berdamai dengan ketakutan. Saya yakinkan pada ketakutan dan kegelisahan di dalam diri saya agar jangan cepat-cepat pergi. Saya harus memelihara mereka sementara waktu untuk memperbaiki diri saya dengan sikap hidup yang barangkali baru. Sehingga perlahan-lahan mereka benar-benar pergi dan senyum pagi kepada wajah-wajah baru dapat muncul. Seperti cahaya mentari tadi pagi yang begitu hangat.

Tapi apakah harus seperti ini hidup saya pada hari-hari ke depan: pagi-pagi berangkat ke kantor, ‘bekerja’ dengan ‘kepatuhan’ terhadap ‘waktu’ hingga sore hari, lalu pulang menikmati suasana rumah yang tidak begitu lama karena rasa lelah mengharuskan kita beristirahat dengan mata terpejam. Ah … apakah harus seperti ini? Saya harus yakin, bahwa kehidupan yang lain itu mungkin. Dan siapapun harus berjuang jika menginginkannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s