Karena Dia Manusia Biasa …

Apa yang telah saya baca di bawah ini cukup baik. Sangat baik. Menarik karena berbicara tentang pernikahan dan Cinta. Dua hal yang selama ini banyak juga dibicarakan bukan hanya oleh saya sebagai ‘manusia biasa’ dalam konteks ‘kini’ dan ‘di sini’, tetapi juga oleh banyak ‘manusia biasa’ lainnya yang telah melampaui kebiasaan-kebiasaan pada zamannya.

Konsep tentang manusia biasa, manusia yang bergantung pada sesuatu yang lain, manusia dengan berbagai keterbatasan di dalam ruang dan waktu, manusia yang terhalang oleh apa yang akan terjadi nanti, tentang ketidakpastian dalam hidup, tentang otoritas manusia dan kehendak untuk memilih dan memutuskan pilihan, semua itu juga sudah banyak dibicarakan. Dari masa ke masa. Dengan diiringi oleh perdebatan-perdebatan filosofis yang sebetulnya selalu saja terjadi pengulangan-pengulangan antara pertanyaan dan jawaban dari waktu ke waktu. Dan pada akhirnya sebagian orang dapat menerima tentang kebuntuan dari pembahasan tentang kemanusiaan tanpa menghadirkan sesuatu yang ilahi. Cinta dalam hal ini juga adalah sesuatu yang bersifat ilahi. (Pernyataan yang tentu saja akan mengundang banyak perdebatan dari penganut freudian, nietzsche, dan filosof dengan paradigma positivis lainnya)

Yah, terlepas dari itu semua, saya ingin mengajak teman-teman untuk sedikit masuk ke masa remaja saya dengan kegelisahan-kegelisahan saya pada masa itu. Pertanyaan yang muncul terkait dengan kegelisahan saya dalam mengendalikan diri terhadap sikap hidup sebagian teman-teman lain yang begitu mudah mengatakan cinta dan begitu mudah pula untuk memutuskan tali cinta.

Ketika saya mulai baligh. Ketika saya mulai punya hasrat dengan lawan jenis. Banyak teman-teman di sekitar saya dengan mudahnya menjalin hubungan dengan lawan jenisnya atas dasar cinta. Berpacaran, mencium, memeluk, dan saling bergandengan dengan mengatasnamakan cinta. Namun, di satu sisi, begitu banyak pula mereka yang sepertinya malah mempermainkan kata-kata cinta itu sendiri. Banyak yang mudah berganti-ganti pasangan dan pindah dari satu orang ke orang lainnya. Berkata cinta kemudian menjaga jarak lalu akhirnya membenci. Tapi tidak sedikit juga dari mereka yang begitu saling membenci, selalu bertengkar, sering bertemu, kemudian selalu berkomunikasi antara satu dengan lainnya, dan akhirnya malah saling mengerti. Setelah itu dengan tulus saling berkata cinta. Menikah.

Karena hal-hal itu kemudian saya bertanya tentang apakah cinta itu? Di dalam rumah saya sendiri sepertinya saya tidak pernah mendengar Bapak mengatakan cinta kepada Ibu. Ibu juga tidak pernah berkata sayang dengan serius kepada Bapak. Tapi apakah tidak ada perasaan cinta di antara mereka. Jika tidak ada kata cinta mengapa mereka bisa hidup bersama sampai waktu yang sangat lama (hal ini dikatakan sama saja oleh seorang teman dengan pertanyaan mengapa seseorang bisa begitu rajin beribadah dan pasrah kepada Tuhan tanpa mengenal Tuhan itu sendiri melalui proses pencarian ilmu yang benar). Mengapa pula mereka bisa saling berbagi untuk kemudian menghidupi saya dan saudara-saudara saya. Padahal, kisah pertemuan mereka pun sangat sederhana. Seorang pelarian yang bersembunyi di suatu desa kemudian mengatakan niatnya untuk menikahi seorang gadis muda yang telah banyak membantunya selama di persembunyian. Sangat sederhana.

Begitu sederhananya, Hingga suatu saat saya juga pernah mempertanyakan tentang kehadiran saya di muka bumi: apakah saya terlahir karena cinta atau nafsu? Apakah saat berhubungan seks kedua orang tua kita benar-benar melandasi perbuatannya itu atas dasar cinta, atau hanya atas dasar nafsu sesaat di waktu tertentu pada kondisi tertentu pula dan apakah mereka tidak mengalami ‘lupa’ terhadap pencipta. Karena berhubungan seks tentu harus mengingatkan tiap manusia akan sebuah proses kreatif dari penciptaan. Bukan hanya kenikmatan sesaat. Ada konsekuensi logis dari perbuatan saat itu yang akan mereka tanggung dengan terbentuknya janin dalam rahim dan sosok anak setelah dilahirkan.

Saat itu, saya masih belum benar-benar mengerti antara cinta dan nafsu. Cinta terhadap diri yang lain dan nafsu terhadap bentuk lain dari lawan jenis. Pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan itu sebetulnya bukan untuk diajukan kepada siapapun, termasuk kedua orang tua. Pertanyaan itu justru untuk diajukan kepada diri saya sendiri. Apakah saya mampu untuk pada suatu saat nanti melakukan sebuah proses penciptaan dengan tanpa melupakan Sang Pencipta itu sendiri. Apakah saya benar-benar mampu mengenal Sang Pencipta agar upaya mengingatNya benar-benar nyata. Apakah saya mampu memelihara cinta dengan segala konsekuensi logisnya. Walaupun dalam pengertian cinta yang sangat sederhana: sifat dasar dan kecenderungan positif dari manusia untuk sama-sama berkomitmen melestarikan spesiesnya dengan upaya-upaya peningkatan kualitas hidup yang lebih baik bagi generasi setelahnya.

Maaf jika terlalu panjang dan terlalu melebar. Namun, inilah bentuk cinta sederhana saya untuk kalian.

***

From: "Dwi Ratriyanti" <DRatriyanti@ xl.co.id>
To: "R. Rini Ariani" <RRini@xl.co. id>; "Fatimah
 Siti"
<fatimah@blg. co.id>
Sent: Monday, June 30, 2008 2:28 PM
Subject: FW: karena dia manusia biasa... kisah romantis niy...

> To: ALL MY

 FRIEND>>>>>>>
>

> Renungan buat yang sedang mencari pasangan hidup ataupun
> yang sedang mengarungi bahtera rumah tangga..

> Mengapa ?
> Karena Dia Manusia Biasa ...
>

>

>

> Setiap kali ada teman yang mau menikah, saya selalu
> mengajukan pertanyaan yang sama. Kenapa kamu memilih dia
> sebagai suamimu/istrimu?
> Jawabannya sangat beragam. Dari mulai jawaban karena Allah
> hingga jawaban duniawi (cakep atau tajir :D manusiawi lah
> :P).

>

> Tapi ada satu jawaban yang sangat berkesan di hati  saya.
> Hingga detik ini saya  masih ingat setiap detail
> percakapannya.

>

> Jawaban salah seorang teman yang baru
 saja menikah. Proses
> menuju pernikahannya sungguh ajaib. Mereka hanya berkenalan
> 2 bulan.

>

> Lalu memutuskan menikah. Persiapan

 pernikahan
 hanya
> dilakukan dalam waktu sebulan saja. Kalau dia seorang
> akhwat, saya tidak akan heran.

> Proses pernikahan seperti ini sudah lazim. Dia bukanlah
> akhwat, sama seperti saya. Satu hal yang pasti, dia tipe
> wanita yang sangat berhati-hati dalam memilih suami.

>

> Trauma dikhianati lelaki membuat dirinya sulit untuk
> membuka diri. Ketika dia memberitahu akan menikah, saya
> tidak menanggapi dengan serius.

> Mereka berdua baru kenal sebulan. Tapi saya berdoa, semoga
> ucapannya menjadi kenyataan. Saya tidak ingin melihatnya
> menangis lagi.
>

> Sebulan  kemudian dia menemui saya. Dia menyebutkan tanggal
> pernikahannya. Serta memohon saya untuk cuti, agar bisa
>
 menemaninya selama proses pernikahan.

> Begitu banyak pertanyaan dikepala saya. Asli.

>

> Saya pengin tau, kenapa dia
 begitu
 mudahnya
 menerima lelaki
> itu.

> Ada apakan gerangan? Tentu suatu hal yang istimewa. Hingga
> dia bisa memutuskan menikah secepat ini. Tapi sayang, saya
> sedang sibuk sekali waktu itu

> (sok sibuk sih aslinya).

>

> Saya tidak bisa membantunya mempersiapkan pernikahan.
> Beberapa kali dia telfon saya untuk meminta pendapat
> tentang beberapa hal.
> Beberapa kali saya telfon dia untuk menanyakan perkembangan
> persiapan pernikahannya. That's all. Kita tenggelam
> dalam kesibukan masing-masing.
>

> Saya menggambil cuti sejak H-2 pernikahannya. Selama cuti
> itu saya  memutuskan untuk menginap dirumahnya.
> Jam 11 malam, H-1 kita baru bisa ngobrol -hanya- berdua.

>

>
 Hiruk pikuk persiapan akad nikah besok pagi, sungguh
> membelenggu kita. Padahal rencananya kita ingin ngobrol
> tentang
 banyak hal.
 Akhirnya, bisa
 juga kita ngobrol
> berdua. Ada banyak hal yang ingin saya  tanyakan. Dia juga
> ingin bercerita banyak pada saya.
> Beberapa kali Mamanya mengetok pintu, meminta kita tidur.
>

> "Aku gak bisa tidur." Dia memandang saya dengan
> wajah memelas. Saya paham kondisinya saat ini.
>

> "Lampunya dimatiin aja, biar dikira kita dah
> tidur."
>

> "Iya.. ya." Dia mematikan lampu neon kamar dan
> menggantinya dengan lampu kamar yang temaram. Kita
> melanjutkan ngobrol sambil berbisik-bisik.
> Suatu hal yang sudah lama sekali tidak kita lakukan. Kita
> berbicara banyak hal,  tentang masa lalu dan impian-impian
> kita. Wajah sumringahnya terlihat jelas dalam keremangan
> kamar. Memunculkan aura
 cinta yang menerangi kamar saat
> itu. Hingga akhirnya terlontar juga sebuah pertanyaan yang
> selama ini
 saya
 pendam.
>

> "Kenapa
 kamu memilih dia?" Dia tersenyum simpul
> lalu bangkit dari tidurnya sambil meraih HP dibawah
> bantalku. Berlahan dia membuka laci meja riasnya.
> Dengan bantuan nyala LCD HP dia mengais lembaran kertas

> didalamnya.
>

> Perlahan dia menutup laci kembali lalu menyerahkan selembar
> amplop pada saya. Saya menerima HP dari tangannya. Amplop
> putih panjang

> dengan kop surat perusahaan tempat calon suaminya bekerja.
> Apaan sih. Saya memandangnya tak mengerti. Eeh, dianya
> malah ngikik geli.
>

> "Buka aja." Sebuah kertas saya tarik keluar.
> Kertas polos ukuran  A4, saya menebak warnanya pasti putih
> hehehe.

> Saya membaca satu kalimat diatas dideretan paling
 atas.
>

> "Busyet dah nih orang." Saya menggeleng-gelengka
> n kepala sambil menahan senyum. Sementara dia
 cuma
 ngikik
> melihat ekspresi
 saya.

> Saya memulai membacanya. Dan sampai saat inipun saya masih
> hapal dengan kata-katanya. Begini isi surat itu.
>

>

> Kepada YTH
>

> Calon istri saya, calon ibu anak-anak saya, calon anak Ibu
> saya dan calon kakak buat adik-adik saya
> Di tempat
>

> Assalamu'alaikum Wr Wb
>

> Mohon maaf kalau anda tidak berkenan. Tapi saya mohon
> bacalah surat ini  hingga akhir. Baru kemudian silahkan
> dibuang atau dibakar, tapi saya mohon, bacalah dulu sampai
> selesai.
>

> Saya, yang bernama ...... menginginkan anda ......untuk
>  menjadi istri saya. Saya bukan siapa-siapa. Saya hanya
> manusia biasa.

> Saat ini saya punya
 pekerjaan.
>

> Tapi saya tidak tahu apakah nanti saya akan tetap punya
> pekerjaan. Tapi yang pasti saya akan
 berusaha
 punya
> penghasilan untuk
 mencukupi kebutuhan istri dan anak-anakku
> kelak.

>

> Saya memang masih kontrak rumah. Dan saya tidak tahu apakah
> nanti akan ngontrak selamannya.

> Yang pasti, saya akan selalu berusaha agar istri dan
> anak-anak saya tidak kepanasan dan tidak kehujanan.

>

> Saya hanyalah manusia biasa, yang punya banyak kelemahan
> dan beberapa kelebihan. Saya menginginkan anda untuk
> mendampingi saya. Untuk menutupi kelemahan saya dan
> mengendalikan kelebihan saya. Saya hanya manusia biasa.
> Cinta saya juga biasa saja.
>

> Oleh karena itu. Saya menginginkan anda  mau  membantu saya
> memupuk dan merawat cinta ini, agar menjadi luar biasa.

>

> Saya tidak tahu
 apakah kita nanti dapat bersama-sama sampai
> mati. Karena saya tidak tahu suratan jodoh saya.

> Yang
 pasti saya akan
 berusaha sekuat tenaga menjadi
 suami
> dan ayah yang baik. Kenapa saya memilih anda ?

> Sampai saat ini saya tidak tahu kenapa saya memilih anda.

> Saya sudah sholat istiqaroh berkali-kali, dan saya semakin
> mantap memilih anda.
>

> Yang saya tahu, Saya memilih anda karena Allah. Dan yang
> pasti, saya menikah untuk menyempurnakan agama saya, juga
> sunnah Rasulullah.

> Saya tidak berani menjanjikan apa-apa, saya hanya berusaha
> sekuat mungkin menjadi lebih baik dari saat ini.
>

> Saya mohon sholat istiqaroh dulu sebelum memberi jawaban
> pada saya.

> Saya kasih waktu minimal 1 minggu,  maksimal 1 bulan.

> Semoga Allah ridho dengan jalan yang kita tempuh ini. Amin
>

> Wassalamu'alaikum Wr
 Wb
>

>

> Saya memandang surat itu lama.  Berkali-kali saya
> membacanya.
 Baru kali ini saya
 membaca surat
> 'lamaran' yang
 begitu indah.

>

> Sederhana, jujur dan realistis. Tanpa janji-janji gombal
> dan kata yang berbunga-bunga.
> Surat cinta minimalis, saya menyebutnya :D.

>

> Saya menatap sahabat disamping saya. Dia menatap saya
> dengan senyum tertahan.
>

> "Kenapa kamu memilih dia."
>

> "Karena dia manusia biasa." Dia menjawab mantap.
> "Dia sadar bahwa dia manusia biasa. Dia masih punya
> Allah yang mengatur hidupnya.

>

> Yang aku tahu dia akan selalu berusaha tapi dia tidak
> menjanjikan apa-apa. Soalnya dia tidak tahu, apa yang akan
>  terjadi pada kita dikemudian hari.
> Entah kenapa, Itu justru memberikan kenyamanan tersendiri
> buat aku."
>

>
 "Maksudnya?"
>

> "Dunia ini fana. Apa yang kita punya hari ini belum
>
 tentu besok masih ada. Iya
 kan? Paling gak.

> Aku tau
 bahwa dia gak bakal frustasi kalau suatu saat nanti
> kita jadi gembel.

>

> "Ssttt." Saya membekap mulutnya.  Kuatir ada yang
> tau kalau kita belum tidur. Terdiam kita memasang telinga.
> Sunyi. Suara jengkering terdengar nyaring diluar tembok.
> Kita saling berpandangan lalu cekikikan sambil menutup
> mulut masing-masing.

>

> "Udah tidur. Besok kamu kucel, ntar aku yang dimarahin
> Mama." Kita kembali rebahan. Tapi mata ini tidak bisa
> terpejam. Percakapan kita tadi masih
> terngiang terus ditelinga saya.
>

> "Gik..."
>

> "Tidur. Dah  malam." Saya menjawab tanpa menoleh
> padanya. Saya ingin dia tidur, agar dia terlihat cantik
> besok pagi. Kantuk saya hilang
 sudah,

> kayaknya gak bakalan tidur semaleman nih.
>

> Satu
 lagi pelajaran pernikahan saya
 peroleh hari itu.
> Ketika manusia
 sadar dengan kemanusiannya. Sadar bahwa ada
> hal lain yang mengatur segala kehidupannya.
> Begitupun dengan sebuah pernikahan. Suratan jodoh sudah
> tergores sejak ruh ditiupkan dalam rahim. Tidak ada seorang
> pun yang tahu bagaimana dan berapa lama pernikahnnya kelak.

>

>

> Lalu menjadikan proses menuju pernikahan bukanlah sebagai
> beban tapi sebuah 'proses usaha'. Betapa indah bila
> proses menuju pernikahan mengabaikan harta,

> tahta dan 'nama'.
>

> Embel-embel predikat diri yang selama ini melekat
> ditanggalkan.
>

> Ketika segala yang  'melekat' pada diri bukanlah
> dijadikan pertimbangan yang utama.

> Pernikahan hanya dilandasi karena Allah semata.
 Diniatkan
> untuk ibadah.
> Menyerahkan secara total pada Allah yang
 membuat
>
 skenarionya.

>

> Maka semua menjadi
 indah.

>

> Hanya Allah yang mampu menggerakkan hati setiap umat-NYA.
> Hanya Allah yang mampu memudahkan segala urusan. Hanya
> Allah yang mampu menyegerakan sebuah pernikahan.

>

> Kita hanya bisa memohon keridhoan Allah. Meminta-NYA
> mengucurkan barokah dalam sebuah pernikahan. Hanya Allah
> jua yang akan menjaga ketenangan dan kemantapan untuk
> menikah.
>

> Lalu, bagaimana dengan cinta ?

>

> Ibu saya pernah bilang, Cinta itu  proses.
> Proses dari ada, menjadi hadir, lalu tumbuh, kemudian
> merawatnya.

>

> Agar cinta itu bisa  bersemi dengan indah menaungi dua insan
> dalam pernikahan yang suci. Witing tresno jalaran
> garwo(sigaraning
 nyowo),

> kalau diterjemahkan secara bebas. Cinta tumbuh karena
 suami/istri (belahan
 jiwa).
>

> Cinta paling halal dan suci. Cinta
 dua manusia biasa, yang
> berusaha menggabungkannya agar menjadi cinta yang luar
> biasa. Amin.
>

>

> Wassalam

2 Comments Add yours

  1. Fitry says:

    wuaaahhh aku suka banget tulisan di surat itu….
    sederhana dan apa adanya…..
    saluut!!!

  2. kembangulamanis says:

    surat itu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s