Aksi Gabungan Mahasiswa Pecinta Alam: Menakar Kepedulian Pada Alam

images1phpSejumlah Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) se-Jabodetabek berjalan kaki dalam rangka Hari Lingkungan Hidup Sedunia dari depan kampus Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia di Jalan Salemba Raya, Jakarta Pusat, Kamis (5/6) menuju Bundaran HI. Aksi tersebut ber-tujuan memperingati hari lingkungan hidup sedunia dengan tema “Alam Kita, Hidup Kita: Air dan Udara Bersih untuk Indonesia Bangkit”.

Sudah saatnya bagi manusia menyadari betapa pentingnya air dan udara yang bersih bagi kelangsungan hidup manusia itu sendiri. Sudah saatnya pula, masyarakat Jakarta mengetahui betapa pentingnya pepohonan sebagai makhluk hidup yang perlu dilestarikan demi terjaganya air dan udara yang bersih.

Berangkat dari maksud itulah puluhan mahasiswa yang tergabung dalam klub pencinta alam dari beberapa universitas di sekitar Jabodetabek bersatu dalam aksi damai bertemakan “Alam Kita, Hidup Kita: Air dan Udara untuk Indonesia Bangkit”. Aksi damai tersebut dilakukan pada Kamis, (5/6) lalu dan bertepatan dengan Hari Lingkungan Hidup Sedunia.

Reaksi dari isu pemanasan global yang telah lama digaungkan oleh Al Gore ke seluruh belahan dunia sepertinya semakin membangkitkan rasa peduli masyarakat akan lingkungan hidup, tidak terkecuali mahasiswa.

Belum lagi hasil pengamatan yang dilakukan oleh sebuah organisasi lingkungan hidup, Green Peace, yang mengatakan bahwa Indonesia adalah perusak hutan tercepat. Jakarta oleh beberapa pihak kelas dunia juga dicap sebagai kota paling berpolusi. Tidak dapat dimungkiri, bencana alam seperti banjir dan rob memang masih sering melanda di setiap pulau besar di Indonesia.

Hal inilah yang melatarbelakangi kegiatan yang di-gagas melalui forum Pusat Informasi Daerah (PID) Mapala (Mahasiswa Pencinta Alam) se-Jabodetabeka sebagai salah satu perangkat organisasi yang ditetapkan oleh forum komunikasi tertinggi Mapala se-Indonesia, TWKM Mapala Se-Indonesia. Mereka mengoordinasikan sejumlah Mapala dari berbagai universitas dalam melakukan kampanye dan berbagai upaya penyelamatan lingkungan hidup.

Kampanye atau aksi damai tersebut diikuti oleh sekitar 74 organisasi Mapala dari seluruh universitas di Jabodetabeka, beberapa di antaranya adalah Mapala dari Universitas Indonesia (UI), Universitas Islam Negeri (UIN), Universitas Bina Nusantara (Ubinus), Universitas Mercu Buana (UMB), Universitas Pancasila (UP), Universitas Kristen Indonesia (UKI), Politeknik Kesehatan Jakarta II dan banyak lagi dari kampus-kampus lainnya di sekitar Jabodetabeka.

Acara yang dimulai pada pukul 08.00 WIB tersebut mengambil lokasi di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Salemba, Jakarta. Sekitar 300 orang anggota kampanye yang berkumpul, berangkat dari Salemba menuju Bundaran Hotel Indonesia dengan berjalan kaki.

Perjalanan yang memakan waktu kurang lebih dua jam tersebut, seperti dikatakan seorang anggota panitia kampanye dari Mapala UI, Firmansyah, dilakukan agar para mahasiswa merasakan sendiri bagaimana keadaan udara di Jakarta dan kondisi unsur lingkungan lainnya yang barangkali dapat ditemui selama aksi longmarch.

Aksi damai yang keseluruhannya diselenggarakan di tempat keramaian publik dan bersifat besar-besaran itu dirangkai dengan beberapa bentuk kegiatan, seperti orasi, aksi longmarch di sepanjang jalan dari Salemba menuju Bundaran HI, kemudian happening art atau aksi teatrikal, dan pembagian masker, stiker, serta bibit pohon kepada warga Jakarta yang saat itu tengah melintas di sekitar Bundaran HI.

Orasi yang disampaikan kepada masyarakat dibagi menjadi tiga bagian, orasi pertama, mengenai materi yang akan disampaikan melalui aksi teatrikal. Orasi kedua, terkait dengan materi aksi pembagian stiker dan bibit pohon. Orasi ketiga, orasi bebas yang berisi arahan kepada para peserta untuk melanjutkan aksi menuju kawasan Tosari, Thamrin, Jakarta.

Seluruh orasi dilakukan oleh Firmansyah, yang juga sebagai juru bicara Aksi Lingkungan Mapala se-Jabodetabeka, termasuk orasi pembuka yang berisi tentang isu penting diadakannya aksi damai. Yaitu untuk membangun kesepahaman bersama mengenai aksi yang akan dilaksanakan sepanjang hari itu.

Di samping itu, orasi pembukaan juga dilakukan untuk mengajak seluruh peserta yang ikut serta dalam aksi longmarch untuk bersama-sama menuju Bundaran HI dengan menggunakan masker sebagai wujud keprihatinan atas kualitas udara kota Jakarta yang semakin parah.

Sementara itu, happening art atau pertunjukan teatrikal yang dipimpin oleh Cicera UP, diperagakan oleh beberapa mahasiswa UKM Teater Universitas Pancasila dengan mengambil tema renungan atas penurunan kualitas lingkungan hidup di Indonesia. Aksi teatrikal itu juga mempertanyakan dimana posisi dan solidaritas Mapala selama ini dalam upaya-upaya penyelamatan lingkungan hidup.

Untuk pembagian masker, stiker, dan bibit pohon khusus dilakukan oleh kepada para pengguna kendaraan bermotor yang melintas di sekitar Bundaran HI. Kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk upaya penyadaran terhadap diri sendiri dan publik mengenai pentingnya menanam pohon dan merawat pohon untuk menghasilkan udara dan air yang bersih.

Bibit pohon yang dibagikan adalah bibit dari pohon mahoni serta beberapa diantaranya kenari dan eboni. Lewat pembagian pohon tersebut, kata Firmansyah, diharapkan timbulnya inisiatif masyarakat untuk bersedia merawat dan menyiram tanaman.

Selain itu, kegiatan aksi damai juga dilengkapi dengan pemasangan baliho atau semacam spanduk di jembatan Tosari yang bertuliskan tentang intisari dari seluruh rangkaian kampanye yang telah dilaksanakan hari itu.

Firmansyah mengatakan, aksi damai yang digagas oleh Mahasiswa Pencinta Alam Se-Jabodetabeka tersebut sempat mengundang reaksi yang positif dan negatif dari masyarakat. Reaksi positif, ketika masyarakat menyambut baik aksi lingkungan hidup dengan membagi-bagikan bibit pohon, stiker, dan masker.

Reaksi negatif datang dari para pengguna jalan khususnya mereka yang menggunakan kendaraan bermotor. Mereka mengeluh karena harus pasrah bersabar di tengah kemacetan yang terjadi beberapa menit di sekitar kawasan Tugu Tani dan Kwitang akibat aksi damai yang memancing perhatian khalayak umum.

Namun, setelah diadakan pertemuan untuk diskusi evaluasi dari aksi damai tersebut, Firmansyah mengatakan, secara garis besar aksi damai dalam rangka hari Lingkungan Hidup Sedunia itu dapat menjadi motivasi untuk warga Jakarta melakukan perubahan gaya hidup mereka sehari-hari. Bukan hanya masyarakat umum, tapi tentunya juga bagi tiap-tiap anggota Mapala itu sendiri.

Kendati harapan tersebut diperkirakan akan terwujud dalam jangka waktu yang panjang, ia tetap optimis. “Bukan tidak mungkin, setelah aksi damai ini, ada mahasiswa jurusan Teknik yang berinisiatif menciptakan sebuah inovasi atau alat yang dapat mengurangi polusi dan bersifat ramah lingkungan untuk perbaikan lingkungan hidup di Indonesia,” pungkasnya.

Teks ditulis ulang dengan beberapa perubahan dari : Suara Pembaruan, 10 Juni 2008
Sumber Gambar: Kompas Images

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s