Profesi Pustakawan Kadang Dianggap Aneh

YOGYAKARTA – Profesi pustakawan kerap menimbulkan sikap pro dan kontra, kurang dikenal masyarakat, dan kadang dianggap aneh. Piere Butler misalnya, menolak pustakawan sebagai profesi dan dia meragukan bahwa ilmu perpustakaan sebagai cabang ilmu pengetahuan karena miskin teori.

Pendapat itu didukung oleh William Goode yang mengatakan, kepustakawanan lemah terhadap kliennya. Hal itu berbeda dengan profesi dokter, apoteker, hakim, dan lainnya yang mampu memengaruhi kliennya.

Hal itu dikemukakan oleh pustakawan UGM Drs Lasa Hs MSi ketika mengucapkan pidato pengukuhannya sebagai pustakawan utama setara dengan guru besar UGM di Perpustakaan UGM Unit 1 kampus Bulaksumur Yogyakarta, Kamis (6/9).

Menurut dia, sebenarnya terbuka peluang untuk pengembangan diri bagi para pustakawan terutama di era global ini.

Mereka sebenarnya bisa memanfaatkan semua sumber informasi baik media cetak maupun elektronik, hubungan sesama profesional dan ilmuwan serta seperangkat aturan ataupun kemudahan yang disediakan oleh pemerintah.

”Namun sebagian besar pustakawan kurang mampu menunjukkan kinerja yang profesional, antara lain karena kurang percaya diri, kurang motivasi, terjebak rutinitas, takut melangkah, dan lainnya,” tambahnya.

Belum Menjamin

Pada kesempatan itu juga mengucapkan pidato pengukuhan sebagai pustakawan utama UGM yaitu Drs Purwono SIP MSi yang antara lain mengemukakan, pustakawan merupakan salah satu unsur penggerak mekanisme organisasi atau lembaga kerja yang disebut perpustakaan. Untuk itu diperlukan sejumlah tenaga yang berkualifikasi pustakawan sesuai kebutuhan.

Banyak faktor yang memengaruhi kinerja pustakawan, di samping pendidikan, juga penempatan, rotasi kerja, iklim dan situasi kerja serta sistem manajemen. Pendidikan tinggi belum menjamin kinerja yang baik jika situasi dan sistem manajemen perpustakaan tidak memberi kesempatan kepada pustakawan untuk berkarya dalam upaya pengembangan kariernya.

”Yang tidak kalah pentingnya adalah motivasi pustakawan dalam menghadapi tantangan dan menjadikannya sebagai peluang serta tentu saja kesadaran para pustakawan akan pembelajaran sepanjang hayat,” imbuhnya. (P12-70)

Sumber Tulisan:

http://www.suaramerdeka.com/harian/0709/08/ked02.htm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s