Taman Nasional Siberut

UMUM

Dasar Penunjukan :
Keputusan Menteri Kehutanan
No.407/Kpts-II/1993
Tanggal 10 Agustus 1993
Luas :  ± 190.500 hektar
Letak :
Provinsi Sumatera Barat,
Kabupaten Kepulauan Mentawai,
Kecamatan Siberut Utara dan Siberut Selatan.
Koordinat :
01º 05′ – 01º 45′ LS dan
98º 36′ – 99º 03′ BT

Taman Nasional Siberut berada di Pulau Siberut, termasuk wilayah Provinsi Sumatera Barat. Terletak di Selat Mentawai atau kurang lebih 155 km dari kota Padang. Taman nasional ini 60 (enam puluh) persen kawasannya ditutupi oleh hutan primer Dipterocarpaceae, hutan primer campuran, rawa, hutan pantai, dan hutan mangrove. Hutannya relatif masih alami dengan dominasi pohon-pohon besar yang tingginya mencapai 60 meter dan kaya dengan flora dan fauna langka yang endemik.
Disamping kekayaan keanekaragaman hayatinya Taman Nasional Siberut merupakan rumah bagi masyarakat Mentawai yang masih hidup secara tradisional dan selaras dengan alamnya. Dalam banyak hal, masyarakat Mentawai merupakan salah satu dari suku bangsa Indonesia yang masih mempertahankan budaya nenek moyangnya.
Pulau Siberut termasuk Taman Nasional Siberut merupakan salah satu Cagar Biosfir yang ditetapkan UNESCO dalam Program Man and the Biosphere (MAB) .

Sejarah Kawasan
– Konservasi di pulau Siberut telah dimulai tahun 1976 dengan ditetap-kannya kawasan Suaka Margasatwa Teitei Batti dengan luas 6.500 Ha.
– Pada tahun 1979 kawasan Suaka Margasatwa Teitei Batti diperluas menjadi 56.500 Ha dan diubah statusnya menjadi Suaka Alam.
– Melalui Program  Man and Biosphere (MAB)  pada tahun 1981 United Nations Educational Scientifik and Cultural Organization (UNESCO) , Pulau Siberut di tetapkan sebagai Cagar Biosfir di Indonesia.
– Kemudian pada tahun 1982, ditunjuk pula kawasan suaka alam di Pulau Siberut seluas 50.000 Ha di bagian selatan.
– Pada tahun 1993, Taman Nasional Siberut ditunjuk dengan luas 190.500 Ha. Taman Nasional Siberut merupakan gabungan dari kawasan suaka alam (132.900 Ha), hutan lindung (3.500 ha), hutan produksi terbatas (36.600 Ha) dan hutan produksi tetap (36.600 Ha).

FISIK

Geologi dan Tanah
Siberut adalah pulau sedimen yang didominasi oleh serpihan, endapan dan marmer berumur relatif muda. Ada beberapa daerah kecil terdiri dari konglomerasi pra-Miocene yang mengandung sista (lapisan karang tipis), kwarsa dan sedikit karang kapur yang mungkin terbentuk pada masa Miocene, serta beberapa batuan vulkanis yang bersebaran yang mungkin berasal dari ledakan gunung api di Sumatra pada masa Meiocene. Tetapi sebagian besar dari bentukan geologis muncul pada masa Pliocene, Pleistocene dan Holocen.
Masa Pleistocene ditandai dengan terangkatnya secara umum busur non-vulkanik kepulauan barat Sumatera. Namun tampaknya Kepulauan Mentawai mungkin telah terangkat pada masa yang berbeda dari Kepulauan Nias dan Enggano. Karena bukit-bukit dan punggung bukit di Pulau Siberut sama tinggi , Pulau Siberut mungkin dulu terangkat sebagai permukaan yang relatif datar, walaupun di beberapa daerah ada hamparan-hamparan endapan yang telah terbalik dan terbenam secara vertikal.
Proses geologis yang kelihatannya berlanjut adalah proses penenggelaman yang berlangsung sepanjang pantai timur, juga dibagian terdalam dari lembah/cekungan Mentawai. Proses penenggelaman ini terlihat dari garis pantai timur yang sangat tidak beraturan, dengan banyak teluk, tanjung, pulau kecil, dan batu karang, bahkan beberapa diantaranya membentuk “pagar karang palsu”. Sebaliknya pantai barat agak lurus dan seperti digaris dengan pantai pasir yang luas dengan karang terjal hampir sama panjangnya. Pantai barat langsung berhadapan dengan ombak yang memecah dari Samudera Hindia, mempunyai sedikit karang, dan umumnya tidak dapat dijangkau oleh kapal hampir sepanjang tahun.
Getaran dan gempa bumi yang kadang-kadang terjadi selalu dicatat. Episentrum yang paling akhir terjadi pada tahun 1994, yaitu diantara pulau Sipora dan Sumatra di Selat Mentawai. Aktivitas ini memperlihatkan aktivitas geologis pengangkatan dan penenggelaman. Gempa bumi mungkin diikuti oleh tsunami atau gelombang pasang. Selain itu, tercatat banyak terjadi kerusakan didaerah pantai timur yang disebabkan oleh tsunami pada awal abad ini.

Topografi
Kawasan TN Siberut bervariasi dari datar, berawa-rawa sampai berbukit dan berlereng curam. Dataran rendah sebagian besar terletak di sebelah timur yang terdiri dari rawa, gambut, pemukiman dan perladangan dengan kelerengan 0-15 Wilayah perbukitan terdapat di bagian barat. Kelerengan bervariasi antara 40-75dengan puncak tertinggi 384 m dpl.

Iklim
Pulau Siberut mempunyai iklim khatulistiwa yang panas dan lembab. Curah hujannya tinggi dan tidak ada musim kemarau yang cukup lama. Rata-rata curah hujan per tahun adalah 3.320 mm. Suhu dan kelembaban relatif konstan dengan kelembaban berkisar antara 91-95 suhu berkisar antara 22ºC dan 31ºC.

BIOTIK

Ekosistem

Pulau Siberut memiliki tujuh tipe ekosistem dengan berbagai jenis flora dan fauna, yaitu ;
Hutan Primer Dipterocarpaceae ; Jenis pohon dominan adalah Diptero- carpus spp, Shorea spp, Vatica spp dan Hopea spp . Juga ditemukan jenis lain seperti Palaquium spp  (Sapotaceae) dan Hydnocarpus sp.
Hutan Primer Campuran ; Famili yang umum dijumpai adalah Euphorbia-ceae, Myristicaceae, Dilleniaceae, Dipterocarpaceae dan Fabaceae.
Hutan Dipterocarpaceae; beberapa daerah di dominasi oleh tumbuhan pioner seperti Macaranga, Trema dan Neola-markis (regenerasi gekas tebangan).
Hutan Rawa Air Tawar ; Didominasi oleh Terminalia phellocarpa . Flora tanah didominasi oleh palem, rotan, dan pandan.
Hutan Mangrove ; Rhizophora adalah genus utama dan tersebar luas pada kelompok-kelompok mangrove di Pulau Siberut.
Hutan Rawa Sagu ; Terdapat 2 species sagu yaitu Metroxylon
sagu dan  Metroxylon rumphii .
Hutan Pantai ; Species yang umum dijumpai adalah Casuarina equsetifolia, Baringtonia sp, Hibiscus tiliaceus dan Pandanus sp .

Flora

Diperkirakan 15persen tumbuhan di Siberut merupakan spesies endemik, antara lain Mesua cathairinae  (Clusiaceae), Diospyros brevicalyx  (Ebenaceae), Aporusa quadrangularis  (Euphorbiaceae), Baccaurea dulcis  (Euphorbiaceae), Drypetes subsymmetrica  (Euphorbiaceae) dan Horsfieldia macrothyrsa  (Myristicaceae).

Fauna

Mamalia; Terdapat sekitar 28 spesies mamalia, 65persen diantaranya bersifat endemik pada tingkat genus. Beberapa Primata endemik Siberut diantaranya Bilou atau siamang kecil ( Hylobates klossii ), Joja atau Lutung Mentawai ( Presbytis potenziani siberut ), Simakobu ( Concolis concolor  ), Bokoi atau Beruk Mentawai ( Macaca pagensis ), serta 4 jenis bajing endemik.
Burung; Dari 106 jumlah burung yang telah tercatat di Siberut sekitar 13 jenis (12persen) memiliki subspesies. Satu-satunya jenis burung endemik di pulau ini adalah Celepuk Mentawai (Otus Mentawi ).
Reptil, Ikan dan Amphibi;  Terdapat 21 jenis reptil dan salah satunya merupakan jenis endemik yaitu dari jenis katak ( Rana signata siberut ).
Serangga;  berdasarkan hasil inventarisasi Balai Taman Nasional Siberut tahun 1999, teridentifikasi 54 famili serangga yang termasuk ke dalam 11 ordo. Berdasarkan jumlah tersebut maka di Siberut terdapat 29,4persen ordo dan 5,9 persen family dari serangga yang terdapat di dunia.

WISATA

Perjalanan wisata alam ke taman nasional ini belum banyak dilakukan oleh pengunjung. Selama ini obyek utama bagi pengunjung minat khusus adalah budaya masyarakat Mentawai yang hidup secara tradisional tetapi dapat serasi berdampingan dengan alam. Masyarakat tersebut berada di dalam dan sekitar kawasan taman nasional.
Dalam banyak hal, masyarakat Mentawai merupakan salah satu dari suku bangsa Indonesia yang masih mempertahankan budaya nenek moyangnya dan sebagian besar berkepercayaan animisme. Kegiatan sosialnya dipusatkan di sekitar “ UMA” , yaitu suatu rumah bersama berukuran panjang yang dihuni oleh beberapa keluarga yang masih satu keturunan.
Petualangan ke Taman Nasional Siberut merupakan kombinasi perjalanan mulai dari berperahu, berjalan kaki di jalur berlumpur, menikmati keindahan alam hutan tropika termasuk pengamatan tumbuhan/satwa, mandi di air terjun dan mengamati langsung kehidupan masyarakat asli. Perjalanan ke Pulau Siberut, biasanya diatur oleh biro-biro perjalanan dari Padang maupun Bukit Tinggi termasuk penyediaan pemandu wisata.
Potensi pariwisata berupa daya tarik wisata alam dan budaya yang dapat dinikmati atau yang ada adalah berupa :
Trecking (Junggle; Muddy ) ; Untuk mencapai lokasi objek wisata digunakan speed boat  atau sampan dilanjutkan berjalan kaki. Perjalanan dilakukan memasuki hutan-hutan primer melewati lumpur-lumpur, selama perjalanan kita dapat menikmati pohon-pohon Dipterocarpaceae, anggrek hutan dan kehidupan liar. Bila memasuki Desa Madobak maka kita akan menjumpai Air Terjun Ulukubuk yang sangat dikeramatkan oleh penduduk setempat.
Wisata Bahari ( Surfing; Snorkling; Swimming; White Beach ) ; Wisata bahari yang sedang menjadi idola wisatawan di Siberut adalah Surfing , yang dilakukan di Pulau Nyang-nyang dan Karang Bajat. Selain itu wisata bahari yang dapat dinikmati adalah snorkling , berenang, memancing dan menikmati indahnya pasir putih.
Pengamatan Burung ( Nest; Junggle ); Pengamatan burung dapat dilakukan dihutan-hutan primer dan sekunder atau sepanjang sungai saat perjalanan menuju kelokasi. Tempat berkumpul dan bersarang burung adalah di Pulau Saplap yang terletak di Desa Saliguma.
Pengamatan Primata; Salah satu potensi yang akan dikembangkan di kawasan Taman Nasional Siberut adalah wisata pengamatan primata. Lokasi yang direncanakan adalah Zona Pemanfaatan Intensif Taman Nasional Siberut yaitu di Simabugai.
Penyusuran Sungai
Jelajah Mangrove
Pendidikan dan Penelitian.

Budaya dan kepercayaan tradisional masyarakat Mentawai merupakan salah satu daya tarik sendiri bagi para pengunjung/wisatawan. Menurut kepercayaan tradisional Mentawai ( Arat Sabulungan ) seluruh benda hidup dan segala yang ada di alam mempunyai roh atau jiwa ( simagre ). Roh dapat memisahkan dari tubuh dan bergentayangan dengan bebas. Jika keharmonisan antara roh dan tubuhnya tidak dipelihara, maka roh akan pergi dan dapat menyebabkan penyakit. Konsep kepercayaan ini berlaku dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Kegiatan keseharian dapat mengganggu keseimbangan dan keharmonisan roh di alam.
Upacara adatnya dikenal dengan nama  punen, puliaijat  atau  lia  harus dilakukan bersama dengan aktivitas manusia supaya mengurangi gangguan. Upacara dipimpin oleh para Sikerei  yang dapat berkomunikasi dengan roh dan jiwa yang tidak dapat dilihat orang biasa.
Wisata budaya yang dapat dinikmati adalah kehidupan keseharian masyarakat Mentawai di rumah-rumah tradisional yaitu Uma, Rusuk dan  Sapou  dengan aktifitasnya seperti membuat sagu, berburu, membuat racun, membuat tato, membuat kabit (celana tradisional), memasak sagu, dan upacara adat .

Cara mencapai lokasi ;

Dari Padang (Muara Padang) ke Muara Siberut/Muara Sikabaluan/Muara Saibi dengan menggunakan kapal laut reguler (3 kali seminggu). Biasanya berangkat dari pelabuhan Muara Padang pada malam hari (jam 19.00), dan membutuhkan waktu perjalanan sekitar 10 jam.

PENGELOLAAN

Taman Nasional Siberut dikelola oleh Balai Taman Nasional Siberut sebagai Unit Pelaksana Teknis Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam, Departemen Kehutanan.
Balai ini terbagi atas dua Seksi Wilayah Konservasi, yaitu ;
Seksi Konservasi Wilayah I, di Muara Sikabaluan, dan
Seksi Konservasi Wilayah II, di Muara Siberut.
Kawasan dikelola dengan sistem zona dan pembagian zona Taman Nasional Siberut telah ditetapkan sebagai berikut :
– Zona Inti, terletak dibagian Siberut Utara dan Siberut Selatan seluas ± 46.533 Ha.
– Zona Rimba, terletak di sekeliling zona inti dengan luas ± 99.555 Ha.
– Zona Pemanfaatan Tradisional, terletak di sebelah Barat Daya sampai sebelah Barat Laut Pulau Siberut dengan luas ± 44.392 Ha.
– Zona Pemanfaatan Intensif, terletak di Simabugai antara Dusun Sirisurak dan Dusun Limau dengan luas 20 Ha.

Alamat Pengelola :
Kantor Balai Taman Nasional Siberut
Jl. Khatib Sulaiman No.46 Padang –  Sumatra Barat
Telp/Fax : 0751-7059986
E-mail : Tn_siberut@yahoo.com

Sumber Tulisan:

Pusat Konservasi Alam Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Departemen Kehutanan Republik Indonesia. 50 Taman Nasional Indonesia. Bogor: 2006

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s