Kabar Malam

Malam-malam sekali ia datang, menyerahkan surat dan sedikit senyum. “Untuk siapa ini?” tanyaku. Sekilas kulihat tubuh kurus itu kian pucat, “Sakitkah?” Ah, sepertinya tidak. Barangkali mataku yang tidak sehat. Atau, “Cahaya lampu menipu diriku?” Mungkin saja.

“Aku ingin pergi jauh menyelami sunyi, melewati malam-malam yang tersisa dengan rasa bangga. Aku merasa semakin dekat dengan kesepian maut. Duniaku yang tersisa tinggallah keraguan dan kegelisahan. Ingin rasanya kuasah jiwaku ini hingga dapat membelah batu permata, dan semangat harus memberontak pada pintu-pintu terkunci.”

Bulu-bulu kudukku berdiri, suaranya begitu tenang namun penuh semangat. Sorot matanya jauh menerawang. Aku jadi ingat debu Mahameru yang menyelimuti perkenalan kami, juga malam.

“Jalan hidup telah kutetapkan besar harapanku untuk menggapai tujuh atap langit. Sobat, sampaikanlah padanya.”

“Siapa?” tanyaku bimbang. Dia tidak menjawab. Tetapi senyum terlahir di balik kegelisahan. Senyum yang sama seperti perkenalan kami, Mahameru yang dingin.

***

Fajar tiba. Sayup terdengar suara kokok ayam jantan. Aku terbangun, lalu bangkit menuju ruang tamu. Ku baca surat itu menuruti kebingungan yang telah pasti. “Bagaimana kabar malam?”

Dan langit pun cerah.

Kebagusan, 13.03.05

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s