Category Archives: Taman Nasional
Taman Nasional Gunung Gede Pangrango
UMUM
Dasar Penunjukan :
Keputusan Menteri Kehutanan
Nomor : 174/Kpts-II/2003
Tanggal 10 Juni 2003
Luas : ± 21.975 Ha
Letak :
Provinsi Jawa Barat,
Kabupaten Bogor, Cianjur, dan
Sukabumi.
Koordinat :
106º 50′ – 107º 02′ BT dan
06º 41′ – 06º 51′ LS.
Keberadaan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango mempunyai arti yang penting karena merupakan kawasan yang pertama ditetapkan sebagai cikal bakal cagar alam di Indonesia dan salah satu dari lima taman nasional yang pertama kalinya diumumkan di Indonesia pada tahun 1980.
Kawasan yang terletak di antara kabupaten Bogor, Cianjur, dan Sukabumi ini merupakan kawasan perwakilan ekosistem hutan hujan pegunungan di Pulau Jawa dan merupakan tempat hidup berbagai jenis satwa baik yang dilindungi maupun tidak, dan mempunyai keanekaragraman jenis burung terbanyak di Pulau Jawa.
Selain itu juga terdapat berbagai macam jenis tumbuhan, seperti tumbuhan berbunga yang lebih dari 1.500 spesies, paku-pakuan 400 species, lumut lebih dari 120 spesies dan berdasarkan identifikasi 300 species diantaranya dapat digunakan sebagai tumbuhan obat, serta berstatus dilindungi terdapat 10 spesies. Di kawasan ini juga terdapat potensi fauna berupa insekta lebih dari 300 spesies, reptilia 75 spesies, ampibia 20 jenis, mamalia lebih dari 110 spesies.
Potensi lain yang paling menonjol akhir-akhir ini di kawasan taman nasional ini adalah sungai, yaitu sungai orde I dan II yang terdapat 1.075 anak sungai, sungai orde III sebanyak 58 sungai yang secara keseluruhan termasuk kedalam 3 Daerah Aliran Sungai.
Karena ketersediaan potensi yang begitu, besar maka sudah sejak lama hutan Gunung Gede Pangrango menjadi tempat penelitian flora dan fauna yang kemudian dikembangkan untuk dapat dimanfaatkan bagi berbagai kepentingan seperti pendidikan, rekreasi alam, dan penunjang budidaya.
Tercatat pada tahun 1819, C.G.C. Reinwardt sebagai orang yang pertama yang mendaki Gunung Gede, kemudian disusul oleh F.W. Junghuhn (1839-1861), J.E. Teysmann (1839), A.R. Wallace (1861), S.H. Koorders (1890), M. Treub (1891), W.M. van Leeuen (1911); dan C.G.G.J. van Steenis (1920-1952) telah membuat koleksi tumbuhan sebagai dasar penyusunan buku “THE MOUNTAIN FLORA OF JAVA” yang diterbitkan tahun 1972.
Tahun 1977 Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango ditetapkan oleh UNESCO sebagai Cagar Biosfir, dan sebagai Sister Park dengan Taman Negara di Malaysia pada tahun 1995.
Taman Nasional Meru Betiri
UMUM
Dasar Penunjukan :
Keputusan Menteri Kehutanan
Nomor : 277/Kpts-VI/Um/1997
Tanggal 31 Maret 1997
Luas : ± 58.000 Ha
Letak :
Provinsi Jawa Timur,
Kab. Jember (± 37.585 Ha), dan
Banyuwangi ( ± 20.415 Ha).
Koordinat :
113º 37′ – 113º 58′ BT dan
08º 21′ – 08º 34′ LS
Taman Nasional Meru Betiri telah lama dikenal sebagai habitat terakhir harimau loreng Jawa ( Panthera tigris sondaica ), salah satu satwa liar paling dilindungi yang sangat terancam punah. Hingga saat ini, satwa tersebut tidak pernah dapat ditemukan lagi sehingga beberapa pakar memperkirakan macan loreng tersebut telah punah.
Taman nasional ini merupakan kawasan yang mempunyai formasi vegetasi lengkap. Dari sebelas tipe vegetasi di jawa lima diantaranya terdapat di kawasan Meru Betiri. Kondisinya relatif masih lengkap dan asli, sehingga memungkinkan beraneka ragam jenis fauna hidup dan berkembang. Beberapa tumbuhan langka, seperti Rafflesia zolengeriana, dan Balanop fungosa dapat hidup dan berkembang di kawasan ini. Sementara itu penyu belimbing, penyu sisik, penyu hijau, dan penyu lekang secara rutin menetaskan telurnya di pantai kawasan ini.
Sejarah Kawasan :
- Tahun 1931, Kawasan hutan Meru Betiri ditetapkan sebagai hutan lindung oleh pemerintah Belanda dan dikuatkan kembali pada tahun 1938.
- Tahun 1972, Hutan Lindung Meru Betiri ditetapkan sebagai Suaka Margasatwa oleh Menteri Pertanian seluas 50.000 Ha dengan prioritas perlindungan Harimau Jawa ( Panthera tigris sondaica ) beserta habitatnya.
- Tahun 1982 , Kawasan Suaka Margasatwa Meru Betiri diperluas menjadi 58.000 Ha oleh Pertanian dengan memasukkan dua enclave perkebunan (Perkebunan Sukamade dan Bandealit) seluas 2.155 Ha dan kawasan hutan lindung sebelah utara serta perairan laut sepanjang pantai selatan seluas 845 Ha.
- Tahun 1982, Suaka Margasatwa Meru Betiri dinyatakan sebagai Calon Taman Nasional oleh Menteri Pertanian.
- Tahun 1997 , Menteri Kehutanan menetapkan Kawasan Meru Betiri seluas 58.000 Ha sebagai Taman Nasional dan pengelolaannya di bawah Balai Taman Nasional Meru Betiri
Taman Nasional Bali Barat
Umum
Dasar penunjukkan :
Keputusan Menteri Kehutanan
Nomor : 493/Kpts-11/1995
Tanggal 15 September 1995
Luas : lebih kurang 19.002,89 Ha
Letak :
Provinsi Bali, Kabupaten Jembrana dan Kabupaten Buleleng
Koordinat :
114º 25′ – 114º 34′ BT dan
08º 05′ – 08º 15′ LS
Taman Nasional Bali Barat mempunyai potensi yang khas yaitu adanya spesies Jalak Bali ( Leucopsar rothschildi ) yang merupakan spesies burung terlangka di dunia. Burung pesolek ini di alam jumlahnya tidak lebih dari empat ekor saja.
Beberapa potensi sumberdaya alam lainnya yang menarik bagi penelitian dan rekreasi, diantaranya satwa banteng ( Bos Javanicus ), hutan alam murni Sawo kecik ( Manilkara kauki ), hutan mangrove, biota laut, sumber air panas alami, panorama alam hutan dan pantai serta obyek peninggalan budaya.
Letaknya yang berada di pusat tujuan wisata (Pulau Bali), dan didukung oleh fasilitas baik akomodasi, transformasi maupun atraksi wisata budaya yang telah dikelola dengan baik, menjadikan taman nasional ini sangat menarik untuk dikunjungi.
Sejarah Kawasan:
Tahun1982, ditetapkan sebagai calon Taman Nasional.
Tahun 1995, ditetapkan sebagai Taman Nasional Bali Barat dengan kawasan seluas lebih kurang 19.002,89 Ha.
Fisik
Geologi dan Tanah
Jenis tanah di kawasan Taman Nasional Bali Barat berbeda-beda. Hal ini disebabkan karena batuan induk pembentuknya tidak sama. Menurut peta tanah tinjau Pulau Bali, jenis-jenis tanah di kawasan ini meliputi Alluvial, Latosol, dan Mediteran.
Topografi
TN Bali Barat memiliki konfigurasi lapangan berbukit-bukit dan hanya sebagian kecil datar dan bergelombang.
Ketinggian
0 – 1.986 meter diatas permukaan laut.
Iklim
Tipe Iklim : E (Schmidt dan Fergusson)
Curah hujan rata-rata: 1.480 mm/tahun.
Kelembaban rata-rata: 85,29
Suhu udara : 15ºC -30ºC
Biotik
Ekosistem Taman Nasional Bali Barat memiliki suatu bentuk peralihan antara daerah beriklim basah dan daerah beriklim kering. Kawasan ini adalah habitat terakhir dari burung yang paling langka didunia yaitu Jalak Bali ( Leucopsar rothschildi ). Burung Jalak Bali merupakan satwa primadona taman nasional ini, dan termasuk burung pesolek yang menyenangi habitat yang bersih. Burung ini jelajah terbangnya tidak pernah jauh dan mudah ditangkap, sehingga memerlukan perhatian dan pengawasan ekstra ketat.
Kawasan ini terdiri dari beberapa tipe vegetasi, yaitu hutan mangrove, hutan pantai, hutan musim, hutan hujan dataran rendah, savana, coral, padang lamun, perairan laut dangkal dan dalam.
FLORA
Taman nasional ini memiliki 175 jenis tumbuhan dan 14 jenis diantaranya merupakan tumbuhan langka seperti bayur ( Pterospermum javanicum ), ketangi ( Lagerstroemia speciosa ), burahol ( Stelechocarpus burahol ), cendana ( Santalum album ), dan sonokeling ( Dalbergia latifolia ).
FAUNA
Mamalia
Dapat dijumpai pula beberapa satwa seperti Banteng ( Bos javanicus ), Kijang ( Muntiacus muntjak ), Luwak ( Pardofelis marmorata ), Trenggiling ( Manis javanica ), Landak ( Hystrix brachyura ), dan Kancil ( Tragulus javanicus ).
Burung
Disamping memiliki satwa burung Jalak Bali yang endemik dan langka, terdapat pula jenis burung lain seperti Jalak putih ( Sturnus melanopterus ), Terucuk ( Pycnonotus goiavier ), dan Ibis putih kepala hitam ( Threskiornis melanocephalus ).
Ikan dan Biota laut
Biota laut terdapat di sekitar Pulau Menjangan dan Tanjung Gelap yang mempunyai 45 jenis karang, diantaranya Halimeda macroloba, Chromis spp., Balistes spp., Zebrasoma spp. , dan Ypsiscarus ovifrons .
Ada 32 jenis ikan diantaranya ikan bendera ( Platax pinnatus ), ikan sadar ( Siganus lineatus ), dan barakuda ( Sphyraena jello ). Dijumpai 9 jenis molusca laut diantaranya Kima selatan ( Tridacna derasa ), Triton terompet ( Charonia tritonis ), dan Kima raksasa ( Tridacna gigas ).
Wisata
Kegiatan wisata alam yang dapat dilakukan di Taman Nasional Bali Barat, antara lain berekreasi santai sambil melihat panorama alam, bersampan, memancing, snorkeling, menyelam, berkemah, berkuda dan beraneka rekreasi yang dikelola oleh pengusaha pariwisata alam
Sarana pengelolaan dan sarana pengunjung yang ada antara lain pusat informasi, guest house, pos jaga, kantor pengelola, pintu gerbang, MCK dan berbagai fasilitas bertaraf internasional yang dikelola oleh pengusaha pariwisata alam.
Taman Nasional Bali Barat memiliki berbagai daya tarik obyek budaya yang menarik seperti dibagian timur kawasan atau kurang lebih 6 Km dari Cekik, terdapat sebuah Pura yang cukup besar yang letaknya dipinggir jalan raya Singaraja – Gilimanuk. Menurut hikayat, Pura tersebut didirikan oleh Sang Hyang Niratha pada abad ke 16. Di Pura tersebut terdapat banyak kera ekor panjang ( Macaca fascicularis ) yang berkeliaran dan akrab sekali dengan pengunjung.
Di kawasan Banyuwedang terdapat sumber air panas yang dapat menyembuhkan berbagai penyakit kulit. Selain itu di Teluk Terima terdapat Makam Jayaprana dan di cekik terdapat Pura Bakungan. Kedua Lokasi tersebut sangat dikeramatkan oleh masyarakat Hindu Bali. Teluk Terima memiliki terumbu karang yang sangat indah dan juga merupakan tempat habitat ikan hias.
Cara mencapai lokasi
Taman Nasional Bali Barat dapat dicapai melalui tiga jalur yaitu dengan route :
Route Utara, melalui jalan raya Denpasar – Singaraja – Gilimanuk.
Route Selatan melalui jalan raya Denpasar – Negara – Gilimanuk
Route dari Jawa mempergunakan ferry dari Pelabuhan Ketapang ke Pelabuhan Gilimanuk.
Pengelolaan
Taman Nasional Bali Barat dikelola oleh Balai Taman Nasional Bali Barat, sebagai Unit Pelaksana Teknis Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam, Departemen Kehutanan.
Alamat Pengelola
Kantor Balai Taman Nasional Bali Barat
Cekik – Kantor Pos Gilimanuk Bali 82253
Telp. 0365 – 61060
Email : tnbb@telkom.net
Taman Nasional Aketajawe dan Lalobata
UMUM
Dasar Penunjukan :
Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 397/Menhut-II/2004
tanggal 18 Oktober 2004
Luas : ± 167.300 Ha
Letak :
Provinsi Maluku Utara,
Kabupaten Halmahera Tengah,
Kota Tidore Kepulauan dan
Halmahera Timur
Koordinat :
128º12’37″ – 129º40’49″ BT
01º27’34″ – 00º58’47″ LS
Taman Nasional Aketajawe-Lolobata merupakan kawasan lindung yang mengkombinasikan dua kawasan inti yang terpisah (Kelompok Hutan Lindung Aketajawe dan Kelompok Hutan Lolobata ) yang memiliki berbagai rangkaian habitat dan spesies dari unit biogeografi kelompok Halmahera dalam satu unit pengelolaan.
Perlindungan yang diharapkan dari kombinasi dua kawasan ini, yaitu:
- Perlindungan terhadap perwakilan keanekaragaman ekosistem dan rangkaian habitat yang lengkap dari dataran rendah sampai pegunungan, yang mencakup perwakilan asli dari seluruh jenis habitat darat yang penting di Pulau Halmahera .
- Perlindungan daerah resapan air yang penting bagi kawasan sekitarnya atau dibawahnya untuk kebutuhan air masyarakat, pertanian, industri dan lainnya, dan kawasan ini merupakan pilihan bagi masyarakat hutan Tugutil untuk dapat terus menjalankan cara hidup tradisionalnya.
Sejarah Kawasan :
- Tahun 1981, Rencana Konservasi Nasional Indonesia mengusulkan penetapan empat kawasan lindung di Halmahera , yaitu Aketajawe, Lolobata, Saketa dan Gunung Gamkonora.
- Tahun 1993, Rencana Tindak Keanekaragaman Hayati Indonesia merekomendasikan penetapan suatu sistem kawasan lindung terpadu yang mencakup seluruh habitat darat Salah satu kawasan yang ditekankan adalah Lolobata yang luas seluruhnya mencapai 89.000 ha.
- Tahun 1995, kawasan Aketajawe dan Lolobata serta hampir seluruh hutan-hutan yang ada di dalamnya diusulkan menjadi taman nasional.
- Tahun 1999 areal hutan di Provinsi Maluku seluas ± 7.264.707 hektar ditunjuk sebagai kawasan hutan, diantaranya kawasan hutan lindung, hutan produksi terbatas dan hutan produksi tetap di Kelompok Hutan Aketajawe dan Lolobata, Kabupaten Halmahera Tengah, Kota Tidore Kepulauan dan Halmahera Timur.
- Tahun 2004, sebagian kawasan hutan lindung, hutan produksi terbatas dan hutan produksi tetap pada Kelompok Hutan Lindung Aketajawe, seluas ± 77.100 hektar di Kabupaten Halmahera Tengah dan Kota Tidore Kepulauan dan Kelompok Hutan Lolobata seluas ± 90.200 hektar terdiri dari hutan lindung seluas ± 76.475 hektar, hutan produksi terbatas seluas ± 7.650 hektar dan hutan produksi tetap seluas ± 6.075 hektar di Halmahera Timur, Provinsi Maluku Utara (total luas 167.300 ha) dirubah fungsinya menjadi Taman Nasional Aketajawe-Lolobata.
Taman Nasional Manusela
UMUM
Dasar Penunjukan :
Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 281/Kpts-VI/1997
Tanggal
14 Oktober 1982
Luas : ± 189.000 Ha
Letak :
Provinsi Maluku, Kabupaten
Maluku Tengah,
Koordinat :
129º 06′ – 129º 46′ BT dan
02º 48′ – 03º 18′ LS.
Taman Nasional Manusela merupakan perwakilan tipe ekosistem pantai, hutan rawa, hutan hujan dataran rendah dan hutan hujan pegunungan di Maluku. Tipe vegetasi yang terdapat di taman nasional ini yaitu mangrove, pantai, hutan rawa, tebing sungai, hutan hujan tropika pamah, hutan pegunungan, dan hutan sub-alpin.
Dari segi pelestarian sumber daya alam, kawasan hutan di taman nasional ini mempunyai peranan yang sangat penting, terutama sebagai tempat perlindungan sumber keanekaragaman plasma nutfah di Pulau Seram.
Sejarah Kawasan
Taman Nasional Manusela dengan luas 189.000 ha merupakan kawasan konservasi yang ditetapkan oleh Menteri Kehutanan pada tahun 1997, yang merupakan gabungan Cagar Alam Wai Nua dan Cagar Alam Wai Mual serta tambahan perluasan wilayah perairan.
Taman Nasional Teluk Cendrawasih
UMUM
Dasar Penunjukan :
Keputusan Menteri Kehutanan No.472/Kpts-II/1993
Tanggal 2 September 1993
Dasar Penetapan :
Keputusan Menteri Kehutanan
Nomor : 8009/Kpts-II/2002
Tanggal 29 Agustus 2002
Luas : ± 1.453.500 Ha
Letak :
Provinsi Papua, Kabupaten
Manokwari dan Kabupaten
Paniai/Nabire.
Koordinat :
01º 43′ – 03º 22′ LS dan
134º 06′ – 135º 10′ BT.
Taman Nasional Laut Teluk Cendrawasih merupakan taman nasional perairan laut terluas di Indonesia, terdiri dari daratan dan pesisir pantai (0,9, daratan pulau-pulau (3,8, terumbu karang (5,5, dan perairan laut (89,8.
Potensi karang Taman Nasional Laut Teluk Cendrawasih tercatat 150 jenis dari 15 famili, dan tersebar di tepian 18 pulau besar dan kecil. Persentase penutupan karang hidup bervariasi antara 30-40sampai dengan 65,64
Selain keanekaragaman hayatinya, kawasan nasional ini juga memiliki potensi budaya masyarakatnya yang masih terjaga dengan baik dan peninggalan sejarah yang sangat luar biasa.
Taman Nasional Laut Teluk Cenderawasih memiliki beberapa fungsi, yaitu :
- Melindungi jenis-jenis hewan laut dan darat yang hampir punah atau yang terancam.
- Memelihara habitat-habitat perairan, pantai dan pulau dalam kawasan ini.
- Melindungi kawasan-kawasan perairan laut yang memiliki nilai biologis yang tinggi atau keindahan yang menonjol.
- Menjaga pemanfaatan sumberdaya perairan laut dan pantai secara rasional erta berkelanjutan untuk kepentingan sekarang dan akan datang.
- Sebagai suatu obyek penelitian, pendidikan dan rekreasi.
- Melindungi fungsi daerah aliran sungai di daerah pantai daratan pulau se- hingga dapat mencegah erosi tanah yang dapat menimbulkan kerusakan ingkungan hidup di laut, terutama terumbu karang.
Sejarah
- Tahun 1990, gugus pulau di dalam Teluk Cendrawasih seluas 1.453.500 ha, ditunjuk sebagai Cagar Alam Laut Teluk Cendrawasih
- Tahun 1993, Cagar Alam Laut Cendrawasih dan daerah sekitarnya dirubah fungsi menjadi Taman Nasional Laut Teluk Cendrawasih dengan luas 1.453.500 ha
Taman Nasional Lorentz
UMUM
Dasar Penunjukan :
Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 154/Kpts-II/1997
Tanggal 19 Maret 1997
Luas : ± 2.505.600 Ha
(ada keasalahan luas)(?)
Letak :
Meliputi 5 Kabupaten, yaitu :
1. Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Asmat, Yahukimo.
2. Barat berbatasan dengan Kabupaten Mimika
3. Utara berbatasan dengan Kabupaten Jayawijaya dan Puncak Jaya.
Koordinat :
136º56′ – 139º09′ BT dan
03º41′ – 05º30′ LS
Taman Nasional Lorentz merupakan perwakilan dari ekosistem terlengkap untuk keanekaragaman hayati di Asia Tenggara dan Pasifik. Kawasan ini juga merupakan salah satu diantara tiga kawasan di dunia yang mempunyai gletser di daerah tropis.
Letaknya membentang dari puncak gunung yang diselimuti salju (5.030 meter dpl), hingga perairan pesisir pantai dengan hutan bakau dan batas tepi perairan Laut Arafura. Dalam bentangan ini, terdapat spektrum ekologis menakjubkan dari kawasan vegetasi alpin, sub-alpin, montana, sub-montana, dataran rendah, dan lahan basah.
Selain memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi, terdapat juga beberapa kekhasan dan keunikan, seperti gletser di Puncak Jaya dan sungai yang menghilang sampai beberapa kilometer ke dalam tanah di Lembah Balliem.
Taman Nasional Lorentz ditetapkan sebagai Situs Warisan Alam Dunia oleh UNESCO dan Warisan Alam ASEAN oleh negara-negara ASEAN
Sejarah Kawasan :
Tahun 1916, ditetapkan sebagai Monumen Alam Lorentz pada masa pemerintahan Belanda
Tahun 1978, oleh Pemerintah Indonesia ditetapkan sebagai Cagar Alam dengan luas 2.150.000 Ha.
Tahun 1997, ditunjuk oleh Menteri Kehutanan sebagai Taman Nasional Lorentz dengan luas 2.450.000 hektar
Taman Nasional Wasur
UMUM
Dasar Penunjukan :
Keputusan Menteri Kehutanan
Nomor : 282 / Kpts-II/1997
Tanggal 23 Mei 1997
Luas : ±413.810 Ha
Letak :
Propinsi Papua Kabupaten
Merauke dan Kecamatan
Merauke.
Koordinat :
140º 29′ – 141º 00′ BT dan
08º 04′ – 09º 07′ LS.
Taman Nasional Wasur berada di bagian tenggara Pulau Papua. Wasur sebenarnya nama salah satu desa yang berada di dalam taman nasional, yang berasal dari kata Waisol, yang dalam bahasa Marori berarti kebun. Kawasan taman nasional Wasur sebagian besar tergenang air selama 4 – 6 bulan dalam setahun, dan merupakan perwakilan lahan basah yang paling luas di Papua.
Lahan basah di kawasan ini memegang peranan yang sangat penting, terutama sebagai habitat burung migran. Siklus airnya merupakan pemelihara keseimbangan dan integritas habitat. Pada musim kering, airnya surut membentuk rawa-rawa permanen yang satu dengan lainnya dihubungkan oleh parit-parit yang mengalirkan airnya ke laut. Rawa-rawa disini merupakan pendukung kehidupan makhluk hidup yang hidup di kawasan ini.
Sejarah Kawasan
- Tahun 1978, Suaka Margasatwa Wasur ditunjuk dengan luas 206.000 ha dan Cagar Alam Rawa Biru dengan luas 4.000 ha.
- Tahun 1990 Menteri Kehutanan menyatakan Suaka Margasatwa Wasur seluas 409.810 ha. dan Cagar Alam Rawa Biru seluas 4.000 ha. sebagai taman nasional.
- Penunjukan Taman Nasional Wasur sendiri baru dilakukan Menteri Kehutanan pada tahun 1997 dengan luas 413.810 ha., melalui perubahan fungsi Suaka Margasatwa Wasur seluas 409.810 ha dan Cagar Alam Rawa Biru seluas 4.000 ha.
Taman Nasional Way Kambas
UMUM
Dasar Penunjukan :
Keputusan Menteri Kehutanan
No : 67/Kpts-II/19912 – 31 Januari 1991
Ditetapkan :
Keputusan Menteri Kehutanan
No : 670/Kpts-II/1999 – 26 Agst 1999
Luas : ± 130.000 Ha
Letak :
Provinsi Lampung,
Kabupaten Lampung Timur dan
Lampung Tengah, Kecamatan Purbolinggo.
Koordinat :
106º 32′ – 106º 52′ BT dan
04º 37′ – 05º 15′ LS.
Taman Nasional Way Kambas lebih dari 75kawasannya merupakan areal bekas tebangan tahun 1960 1970. Akibat penebangan dan kebakaran hutan telah menyebabkan kantung-kantung padang alang-alang di dalam kawasan. Bagian kawasan yang paling sedikit mendapat gangguan adalah rawa sepanjang pantai yang merupakan habitat penting bagi burung. Tetapi kawasan ini juga memiliki hutan rawa air tawar terbesar di dalam sistem pencagaran di Sumatera.
Taman Nasional Way Kambas merupakan habitat beberapa satwa langka dan dilindungi, seperti badak sumatera ( Dicerorhinus sumatrensis ), gajah sumatera ( Elephas maximus ), harimau sumatera ( Panthera tigris sumatrensis ), dan jenis-jenis satwa lainnya. Disamping itu Way Kambas juga memiliki potensi obyek wisata alam yang sangat menarik yaitu dengan adanya Pusat Latihan Gajah yang pertama di Indonesia . Sekolah gajah ini terletak di dalam kawasan taman nasional dan telah dikelola sejak tahun 1985.
FISIK
Geologi dan Tanah
Kawasan Taman Nasional Way Kambas merupakan kawasan rawa terbesar di dataran bagian Timur Sumatera dan mempunyai komposisi geologi yang masih muda. Daerah rawa yang ada di pedalaman sekitar 5 sampai 20 km dari pantai kemungkinan terjadi pada beberapa ratus sampai beberapa ribu tahun yang lalu.
Perkembangan utama pelapisan tanah atau latosol kemungkinan terjadi pada masa 25.000 sampai 18.000 tahun lalu ketika tinggi permukaan laut 120 m di bawah tinggi permukaan laut sekarang. Sebelumnya semua dataran Sunda termasuk Malaya, Sumatera, Jawa dan Borneo merupakan satu dataran besar yang dipisahkan oleh sungai-sungai yang panjang dan luas dari pegunungan tinggi sampai laut cina. Selanjutnya sekitar 18.000 tahun yang lalu permukaan laut mulai meningkat membanjiri dataran Sunda dan memisahkan dataran besar dengan laut yang luas menjadi pulau-pulau seperti sekarang ini.
Selanjutnya erosi pegunungan dan penggenangan air pada pantai memegang peranan penting dalam perkembangan rawa-rawa dan sekitar 12.000 sampai 8.000 tahun yang lalu permukaan laut naik menjadi pada level sekarang dan mungkin beberapa meter lebih tinggi Tepian sungai dan bukit pasir di pesisir menghalangi sungai dan menyebabkan pengendapan dari lempung sungai dan lempung laut menyebabkan pertumbuhan yang cukup luas.di bagian Timur Sumatera
Jenis tanah di kawasan Taman Nasional Way Kambas didominasi oleh kombinasi podzolik coklat kuning, merah kuning, asosiasi aluvial hidromorf dan gley humus lascustrin.
Topografi
Secara umum kawasan Taman Nasioanl Way Kambas mempunyai topografi yang relative datar sampai bergelombang dengan ketinggian antara 0 50 m dpl. Bagian Timur kawasan ini merupakan lembah yang terpotong-potong oleh sungai sehingga menyebabkan terbentuknya topografi bergelombang. Pada musim hujan lembah-lembah ini terisi air dan di bagian lembah yang cukup dalam biasanya air menggenang sepanjang tahun. Di pesisir pantai dapat dijumpai dataran lumpur dan pasir yang cukup luas serta terbentang sepanjang garis pantai.
Iklim dan Curah Hujan
Kawasan Taman Nasional Way Kambas mempunyai curah hujan rata-rata 2.500-3.000 mm per tahun dengan kelembaban udara antara 70.1sampai 93.1dan temperature berkisar antara 16º C – 32.6º C. Menurut tipe iklim Schmidt dan Ferguson kawasan ini termasuk tipe iklim B.
BIOTIK
Kawasan Taman Nasional Way Kambas mempunyai beberapa tipe ekosistem yaitu :
Ekosistem hutan hujan tropika dataran rendah
Ekosistem hutan pantai
Ekosistem hutan mangrove
Ekosistem hutan rawa
Ekosistem hutan perairan
Flora
Hutan hujan dataran rendah; Pada tipe ekosistem ini, dapat dijumpai jenis-jenis antara lain seperti neriung ( Trema orientalis ), Malotus paniculatus , beringin hutan ( Ficus fistula ), Shorea sp., sempur ( Dillenia exelsa), keruing ( Dipterocarpus sp ), puspa ( Schima wallichii ), dan Adina polycephala .
Hutan Pantai : ekosistem hutan pantainya ditandai adanya tumbuhan antara lain jenis Cyperus sp, Fimbristylis sp, dan Ipomea pescaprae . Kearah daratan dapat ditemukan asosiasi baringtonia, termasuk cemara pantai ( Casuarina equisetifollia ), ketapang ( Terminalia catapa ), nyamplung ( Callophyllum inophylum ), kelapa ( Cocos nucifera ) pandan ( Pandanus tectoris ) dan Widelia biflora.
Hutan Mangrove : Pada daerah dengan tipe ekosistem hutan mangrove didominasi oleh jenis api-api ( Avecennia officinalis ), Rhizophora dan Bruguiera . Pada batas antara hutan mangrove dan batas tertinggi pasang surut dari estuaria sungai-sungai besar, didominasi oleh jenis nipah ( Nypa fruticans ). Sementara di sekitar sungai lainnya dapat dijumpai kelompok nibung ( Oncosperma tigillarium ).
Hutan Rawa : pada tipe ekosistem hutan rawa dapat dijumpai sebagian jenis-jenis vegetasi yang ada di daerah kering. Beberapa jenis yang khas di sini antara lain Melaleuca leucadendron , merbau ( Instia palembanica ), rengas ( Gluta renghas ), pulai ( Alstonia scolaris ), Randia patulata, mahang ( Macaranga sp) dan Scleria purpurescens . Selain itu di daerah ini juga dapat dijumpai jenis-jenis palem antara lain Aren ( Arenga pinnata ), Licuala sp, serdang ( Livistonia rotundifolia ) dan Metroxylon elatum .
Hutan Riparian : pada tipe ekosistem hutan riparian jenis-jenis yang biasa dijumpai antara lain Ficus retusa , rengas ( Gluta renghas ) dan waru ( Hibiscus tiliaceus ).
Hutan Sekunder : di hutan sekunder jenis floranya didominasi oleh jenis damar ( Shorea sp), keruing ( Dipterocarpus sp), sempur ( Dillenia excelsa ) dan puspa ( Schima wallichii ).
Fauna
Mamalia; Taman Nasional Way Kambay merupakan habitat gajah sumatera ( Elephas maximus ), badak sumatera ( Dicerorhinus sumatrensis ), harimau sumatera ( Panthera tigris sumatrensis ), anjing hutan ( Cuon alpinus ), siamang ( Hylobates syndactylus ), owa ( Hylobates moloch ), lutung merah ( Presbytis rubicunda ), Kera abu-abu ( Macaca fascicularis ), beruk (Macaca nemestrina), tapir ( Tapirus indicus ), rusa ( Cervus unicolor ),
Burung; Pada kawasan TN. Way Kambas juga diperkirakan terdapat ± 286 jenis burung antara lain bebek hutan ( Cairina scutulata ), burung pecuk ular ( Anhinga melanogaster ).
Reptil dan amphibi; Way Kambas kaya akan jenis reptil, seperti penyu, ular, buaya rawa ( Crocodylus porosus), dan Tomistama schlegeli,
Ikan; Baung ( Macrones nemurus ), lele ( Clarias batrachus ), gabus ( Ophiocephalus striatus ), tawes ( Puntius javanicus ), tambakang ( Helostoma temmincki ), belanak ( Mugil cephalus ), kakap ( Lates calcarifer ), julung-julung ( Hemirhampus sp .), sepat siam ( Trichogaster trichopterus ).
WISATA
Beberapa lokasi/obyek yang menarik untuk dikunjungi antara lain :
-Pusat Latihan Gajah Karangsari : Pusat Latihan Gajah yang pertama di Indonesia ini, terletak 9 km dari Pintu Gerbang Plang Ijo dan telah beroperasi sejak tahun 1985. Hingga saat ini telah berhasil mendidik dan menjinakan gajah sekitar 290 ekor.
- Gajah-gajah liar yang dilatih di Pusat Latihan Gajah dapat dijadikan sebagai gajah tunggang, atraksi, pengangkut kayu dan pembajak sawah. Pada pusat latihan gajah tersebut, dapat menyaksikan pelatih dalam mendidik dan melatih gajah liar, menyaksikan atraksi gajah yang sangat luar biasa (main bola, menari, berjabat tangan, hormat, mengalungkan bunga, tarik tambang, berenang dan masih banyak atraksi lainnya).
-Pos Way Kanan : Bersafari dari Pusat Informasi Plang Ijo ke Pos Way Kanan dengan kendaraan roda empat tertutup, melewati belantara hutan taman nasional merupakan perjalanan yang cukup mendebarkan, sebab di tengah perjalanan kadang-kadang dapat berjumpa dengan harimau atau gajah liar yang sedang melintas.
-Sungai Way Kanan : Menyusuri sungai Way Kanan merupakan kegiatan wisata alam yang banyak penggemarnya. Dalam pelayaran menuju muara sungai tersebut, apabila beruntung pengunjung dapat mengamati gajah liar yang sedang mencari makan atau melihat atraksi satwa liar lainnya, seperti bebek hutan, kuntul, rusa, burung migran, padang rumput dan hutan mangrove. Di sepanjang sungai Way Kanan juga mempunyai pemandangan yang khas dan mempesona.
-Pusat penangkaran insitu satwa badak sumatera : Saat ini telah dibangun pusat penangkaran insitu satwa badak sumatera. Penangkaran insitu badak sumatera yang pertama di dunia ini, berlokasi kurang lebih 4 km dari Plang Ijo ke arah Pos Way Kanan.
- Beberapa lokasi menarik lainnya : Rawa Kali Biru, Rawa Gajah, dan Kuala Kambas.
Atraksi budaya di luar taman nasional yaitu pada Festival Krakatau bulan Juli di Bandar Lampung.
Musim kunjungan terbaik : Pada bulan Juli sampai dengan September.
Cara mencapai lokasi
Untuk mencapai kawasan hutan TN Way Kambas ada beberapa jalur yang dapat dijadikan alternative pilihan. Berikut adalah beberapa jalur alternative yang dapat di tempuh :
- Bandar Lampung-Metro-Way Jepara, dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan roda empat sekitar 2 jam (120 km).
- Branti-Metro-Way Jepara sekitar 1 jam 30 menit (100 km).
- Bakauheni-Panjang-Sribawono-Way Jepara sekitar 3 jam (170 km).
- Bakauheni-Labuan Meringgai-Way Kambas sekitar 3 jam.
PENGELOLAAN
Taman Nasional Way Kambas dikelola oleh Balai Taman Nasional Way Kambas, sebagai Unit Pelaksana Teknis Direktorat Jenderal PerlindunganHutan dan Konservasi Alam, Departemen Kehutanan.
Alamat Pengelola
Kantor Balai Taman Nasional Way Kambas
Jl. Raya Way Jepara, Labuan Ratu Lama, LAMPUNG
Telp/Fax : (0725) 44220
Sumber Tulisan:
Pusat Konservasi Alam Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Departemen Kehutanan Republik Indonesia. 50 Taman Nasional Indonesia. Bogor: 2006
