Bukankah Kita Tak Abadi?

sehabis angin dan hujan tumpah ruah penuh berkah,
hijau daun dan rerumputan basah dalam kasih-Nya..

kita berjalan di bawah hijau daun,
tertunduk dalam ketermenungan,
tanpa keinginan..

basah, rebah, sakit, lalu bangkit..!

kita melangkah di atas rerumputan,
menegakkan pandang menatap jauh ke depan..

di antara ketermenungan tanpa keinganan,
resah kita saling bertanya,
“apakah engkau mencintaiku?”
jawab jiwa kita,
“ya tentu saja, dirimu bagian dalam hidupku.”

resah kita kembali saling bertanya,
“apakah engkau juga mencintai Allah?”
“bagaimana mungkin dua cinta menyatu dalam hati seorang mukmin,
Cinta kepada Allah dan juga mencintaiku?”

angin bertiup pelan, rintik air terasa lembut
lalu jiwa kita sama menjawab,
“karena cintaku kepada Allah,
maka aku mencintai makhlukNya,
memperlakukan dengan hormat dan penuh kasih sayang pada sesama.
aku mencintaimu karena cintaku kepada Allah.”

ah, bukankah pecinta penuh harapan dan impian..?

di hamparan tanah yang basah,
di bawah dedaunan hijau,
di atas rerumputan,
kini tumbuh Cinta yang penuh harapan dan impian,
tuk selalu bersama denganmu Cintaku,
berharap hingga di alam keabadian..

bukankah kita tak abadi, namun berharap akan keabadian..?

(Dinding Safir)

Balada Bebunyian

daun-daun bergesekan ditiup angin, lalu lahirlah bebunyian..

angin merasa bertanggungjawab atas bebunyian yang lahir, maka dibawanya bebunyian dalam hembusannya..

bebunyian yang telah dewasa merasa bahwa ia jugalah makhluk yang harus bertanggungjawab atas dirinya, maka berdirilah ia di daun telinga manusia, lalu menggetarkan gendang telinga manusia..

menjadi apakah bebunyian di telingamu?..

aku merasa bebunyian telah menjadi nyanyian penyemangat untuk berdiri tegak di dalam buaian angin kehidupan yang tak tentu arah..!

Aku Ingin Menyebut Dirimu Wajah Cerah Purnama

aku ingin menyebut dirimu wajah cerah purnama,
yang selalu menemani malam-malamku menjadi malam-malam yang indah setelah senja.
maka tak akan kubiarkan engkau tiba setelah langit benar-benar gelap,
diselimuti awan dan kabut tipis dari peluhku di ladang hari.

malam ini, sungguh, aku tidak berharap akan hamparan langit maha sempurna.
aku hanya ingin menjadi makhluk kecil yang menghabiskan hidupku di bawah cahayamu,
wahai wajah cerah purnama..

sebab, engkaulah pelita yang menerangi matahatiku melihat cinta.
sebab, engkaulah cahaya yang mengantarkanku menuju cinta.
sebab, engkaulah yang menyejukkan dan menghangatkan hari-hariku,
dalam selimut malamnya malam, cinta..!

Pulogadung, 25/5/2011

Potret Senja

Di depanku,
bening kaca yang memantulkan cahaya senja,
retak.
.
Di balik kaca yang retak,
aku melihat anak-anak berseragam putih-biru
menggenggam batu,
berlari,
memburu.
.
Siapa mereka?
Kenapa mereka?
Aku tak mau tahu.
.
Lalu, adzan maghrib terdengar,
bersaing keras dengan sirine ambulance.
.
Dan di antara sebait syukur dan doa senja,
gelisahku membuahkan tanya,
“Di kota ini, apakah tidak ada pelangi senja penuh Cinta?”
.
Ah,
harapku akan selalu ada senja penuh Cinta,
dalam peraduanku denganmu, Cintaku..
.
Pulogadung, 10/5/2011

Betapa Jelasnya Engkau dan Betapa Tidak Jelasnya Aku

[KEJELASAN]: Begitulah sayang, betapa jelasnya engkau  dan betapa tidak jelasnya aku.
***
Ah, begitulah sayang,
betapa jelasnya engkau
dan betapa tidak jelasnya aku.
.
Sayang,
jadilah kamu gadis yang murah senyum,
bukan gadis yang mudah tertawa.
.
Gapailah segala impian,
tapi jangan pernah berjalan tanpa tujuan.
Jika sampai ada ruang kosong di dalam jiwa kita,
ia yang diusir dari surga
akan senantiasa siap menyesakkan jiwa dengan berbagai rayuan.
.
Perhatikanlah,
jika mata sudah terarah dan hasrat kian membuncah
akan kepada siapa kita sesungguhnya ‘menghamba’?
.
Ah, begitulah sayang,
betapa jelasnya engkau
dan betapa tidak jelasnya aku.
.
Kebagusan, 16/3/2011

Keluarga Pembatik

[KELUARGA PEMBATIK]: Berkarya terus bersama keluarga, menjaga tradisi sepanjang masa.
***

topi, t-shirt lengan panjang dan jeans model terbaru
lalu, kita sebut diri mereka modern, sayang..
.
kerudung, kebaya dan kain
lalu, kita sebut saudara kita kuno dan ketinggalan jaman..
.
tapi lihatlah sayang
turis-turis datang karena alam budayanya yang membosankan
menuju tanah-tanah dengan akar budaya
dan tradisi yang mempesonakan,
itulah nusantara, sayang..
.
lihatlah sayang,
sebagian dari mereka pernah iri dan ingin menghancurkannya,
kita saksikan sepanjang hidup kita, penjajahan budaya..
.
sebagian lagi kagum dan melekatkan dalam dirinya,
menjadikan budaya nusantara sebagai identitasnya..
dan sebagian lagi menjualnya dalam ragu kita,
ah, glokalitas yang menguntungkan..
.
kelak, ijinkan anak-anak belajar dari desa
belajar untuk apa-apa yang tak diajarkan di sekolah
sebab membatik bukan hanya soal pelajaran kerajinan tangan
membatik adalah soal masa depannya
identitas kebudayaan anak-anak nusantara
yang kian tercerabut dari desa, dari akar budayanya..
.
sayang,
cukup sudah kerendahdirian,
cukup sudah!
.
5/2/2011

Langit Yang Mendung Itu Indah, Sayang..

***
to: utc_005..:-)
.
langit yang mendung itu indah, sayang..
dan kita akan menyaksikan kilatan cahaya terang diiringi suara lirih dari awan-awan yang mendesah saat bermesraan, sayang..
.
langit yang mendung itu indah, sayang..
dan jika awan-awan itu sampai pada puncak kemesraannya, kita akan rasakan pula bahagia mereka di atas sana, lewat basuhan air suci yang turun ke hamparan bumi, air yang menjadi ruh dari gerak kehidupan, itulah hujan, sayang..
.
langit yang mendung itu indah, sayang..
dan hujan akan terlahir dari luapan cinta awan-awan mendung yang saling bermesraan, karena itulah orang-orang sering mengatakan hujan itu rahmat, hujan itu berkah, yang terlahir dari cinta ilahi yang begitu sederhana, sayang..
.
langit yang mendung itu indah, sayang..
dan maukah kau berbagi cerita, berbagi cinta, di bawah langit yang mendung, di bawah awan yang bermesraan, untuk kemudian diguyur hujan, diguyur luapan cinta dari kemesraan awan-awan, sayang..
.
langit yang mendung itu indah, sayang..
dan maukah kau bersama denganku dibawahnya, sambil mewujudkan mimpi-mimpiku, juga mimpi-mimpimu, tak peduli kemungkinan dingin, tak peduli kemungkinan basah, sebab kita yakin akan ada cerah yang lebih indah, sayang..
:
-karena mendung memang indah, sayang..-
menteng, 21.12.2010

Tidak Semua Orang … !

T
Tidak!
Tidak semua!
Tidak semua orang!
Tidak semua orang buta!
Tidak semua orang punya mata!
Tidak semua orang dapat melihat!
Tidak semua orang sulit melihat!
Tidak semua orang mudah melihat!
Tidak semua orang susah melihat!
Tidak semua orang jelas melihat!
Tidak semua orang samar melihat!
Tidak semua orang bermata normal!
Tidak semua orang bermata cacat!
Tidak semua orang … !
Tidak semua … !
Tidak … !
… !
.. !
.
.. !
… !
Tidak … !
Tidak semua … !
Tidak semua orang … !
dan tidak semua yang melihat dapat sepenuhnya melihat T,
dan tidak semua yang tak dapat melihat tak dapat sepenuhnya melihat T
: hope will be a sunny day, beautiful day!
1/11/2010

Maukah Engkau Memilikiku Tetapi Tidak Menguasaiku?

***
Wahai Gadis… dengarkanlah aku. Sebelumnya, aku bebas seperti burung, menjelajahi lembah-lembah serta hutan-hutan, dan terbang di atas langit luas. Menjelang malam aku beristirahat di dahan-dahan pohon, merenungkan bait-bait serta istana-istana di Kota Awan Berwarna-warni yang dibangun oleh Matahari di pagi hari dan dihancurkan menjelang senja.
Sebelumnya aku seperti pikiran, berjalan sendirian dan berdamai dengan Timur maupun Barat Alam Semesta, bersukacita dengan keindahan dan sukacita Kehidupan, dan menyelidiki misteri keberadaan yang luar biasa.
Sebelumnya aku seperti mimpi, mencuri di balik sayap-sayap ramah malam, masuk lewat jendela-jendela tertutup ke dalam kamar-kamar para gadis, menggoda serta membangkitkan pengharapan mereka. Lalu aku duduk di samping para pemuda dan kubangkitkan hasrat-hasrat mereka. Lalu kujelajahi kamar-kamar para manula dan kutembus pikiran mereka yang penuh kecukupan diri yang damai. Continue reading

Catatan* Kemerdekaan

***
Jauh hari sebelum kedua clash dalam sejarah kita, rakyat adalah tulang punggung, tiang utama Majapahit, Mataram, dan tulang belulang segala monumen peringatan, Tembok Raksasa Cina, Piramid Mesir, serta Borobudur.
Buku sejarah mana cukup halaman catatannya, sejarah selalu penuh nama-nama pujangga, raja dan pahlawan-pahlawan gugur demi bangsa, tetapi tak pernah lengkap.
Di zaman kerja paksa, rakyat membikin Anyer-Panarukan dengan air mata bangkainya. Di zaman romusha, Jepang menanam kapas dengan tangan rakyat kita. (Rakyat yang) dalam dua perang dunia tak tahu apa-apa.
Pada upacara kemerdekaan bangsa kita, selalu kita sebut nama-nama agung. Tetapi sejarah tahu berapa juta ember darah siapa ditenggak sudah demi hidup. Hari ini, marilah berdoa demi arwah!

Amin.

* Dikutip dari puisi Wiji Thukul, Catatan dalam Aku Ingin Jadi Peluru, IndonesiaTera, 2004.