This slideshow requires JavaScript.
Category Archives: Lingkungan Hidup
Masjid dan Da’i Juga Perlu Mengkampanyekan Penanganan Sampah
Gaya Hidup Green-Kyai (Kyai Ramah Lingkungan)
Aksi Usai, Petugas Kebersihan Beraksi
Partisipan aksi 28 Januari 2010 yang tergabung dalam Jaringan Pemuda Penggerak (Jamper) bersama Forum Komunikasi Muda-Mudi Depok (FKMD) dan Gerakan Mahasiswa Nasionalis Indonesia (GMNI) melakukan aksi pembakaran foto Boediono-Sri Mulyani yang dianggap bertanggung jawab atas skandal Bank Century.
.
Sampah-sampah bekas nasi bungkus dan air minum kemasan mulai terlihat di tengah-tengah partisipan aksi yang di rangkaian tubuh mereka tertulis: SBY-BUDIONO GAGAL 100%. Pemerintah telah gagal untuk menempatkan mereka di berbagai lapangan pekerjaan sehingga mereka turun ke jalan.
.
Usai aksi, sampah mulai terlihat jelas. Sementara jalur kendaraan bermotor sudah mulai dibuka pada pukul 5 sore. Beberapa petugas kebersihan berpakaian bebas juga sudah mulai menyapu jalan di tengah-tengah arus lalu lintas yang mulai ramai.
.
ANAK BUAH JENDERAL SAMPAH BERAKSI
Di depan barikade polisi berpakaian lengkap dengan ‘Barracuda’nya yang bertugas melindungi Istana Negara, Petugas Kebersihan berseragam putih mulai melakukan pembersihan sampah di tengah-tengah aksi yang masih berlangsung. Di belakang petugas sampah tertulis S.O.R. SOR atau PT Sarana Organtama Resik adalah perusahaan yang bergerak pada bidang kebersihan. PT SOR merupakan perusahaan milik Letjen (Purn.) Achmad Kemal Idris yang kemudian dikenal sebagai “Jenderal Sampah”.
.
AKSI ANAK BUAH JENDERAL SAMPAH DI TENGAH AKSI 28 JANUARI 2010
Bahwa setiap orang punya pandangan masing-masing.
Bahwa setiap orang punya mimpinya masing-masing.
Bahwa setiap orang punya perannya masing-masing.
Untuk satu hal: hari-hari esok yang lebih baik!
Tanamlah Pohon Sebelum Pohon Tertanam di Atas Kita
Sekedar Gaya Hidup yang Ramah Lingkungan?
Or why I have to scream
I don’t know why I instigate
And say what I don’t mean
I don’t know how I got this way
I’ll never be alright
So, breaking the habit
I’m breaking the habit
Tonight
-Breaking The Habit, Linkin Park-
Mitos, Kearifan Lokal, dan Pengelolaan Lingkungan
“Minggu (28/12), Pak Karsad, sang juru kunci Gunung Slamet via jalur utara menerima kami di rumahnya yang kini mulai bertembok. Pria dengan bibir sumbing tersebut hanya mengangguk-angguk mendengar niatan yang disampaikan Dadang Sukandar, pemimpin perjalanan kali ini. “Saya hanya menitipkan kemenyan putih, agar dibakar di batas hutan Gunung Penjara dan asapnya diusapkan di muka tiap peserta, setelah sebelumnya membaca surat Al Ikhlas sebanyak tiga kali,” ucapnya datar, di pelataran rumahnya, tepat sebelum kami berangkat. Tak ambil pusing dengan tata cara yang dianjurkan, beberapa anggota tim menolak melakukan ritual tersebut saat berada di batas hutan. Abdu Robbi, yang bergaya muslim klotokan menganggap ritual tersebut tergolong musyrik. Sementara Oktora Hartanto dan beberapa teman yang beragama tapi minim menjalankan ibadah, hanya menganggap hal tersebut angin lalu.”
Sulung Prasetyo, menuliskan paragraf di atas dalam tulisannya yang berjudul Pendakian Mapala UI: Puncak Gunung Slamet via Penjara (1) yang dimuat di Sinar Harapan pada tanggal 5 Januari 2009. Paragraf di atas setidaknya dapat mewakili sikap kita ketika dihadapkan pada ritual yang lahir dari keyakinan suatu masyarakat tertentu terhadap cerita-cerita yang tidak mempunyai kebenaran historis. Mitos.
Ah… mitos! Nggak logis. Sebagian kita, seperti Oktora dalam paragraf di atas, seringkali mengabaikannya seperti angin lalu. Namun, mitos juga terlahir dari buah pikir, tegasnya sebut saja sebagai hasil dari imajinasi konstruktif suatu masyarakat yang terkait erat dengan hubungan antara manusia dan lingkungan alam sekitarnya. Ada tujuan di dalam proses pembentukannya. Tujuan yang juga tidak terlepas dari hubungan erat antara masyarakat dengan lingkungan alam sekitarnya itu.
Sebagai hasil dari imajinasi konstruktif, mitos menjadi bagian dari sistem pengetahuan dan sekaligus sistem kepercayaan masyarakat. Sistem pengetahuan yang dimiliki suatu masyarakat tentu akan berpengaruh pula pada cara-cara pengelolaan lingkungan alamnya dan sistem-sistem lainnya dalam sistem budaya yang dimiliki. Pada masyarakat tertentu, kini sistem pengetahuan itu dikenal sebagai “kearifan lokal” oleh masyarakat modern karena perannya yang selaras dengan kepentingan pelestarian lingkungan.
Ritual yang dianjurkan Pak Karsad kepada tim pendaki gunung di atas misalnya, dapat dikatakan sebagai bagian dari kearifan lokal masyarakat di kaki Gunung Penjara dalam menjaga kelestarian hutannya. Penghormatan kepada gunung dan hutan sebagai ruang yang diyakini mempertemukan dunia nyata dengan dunia gaib ternyata menciptakan cara berperilaku yang tidak jauh dengan prinsip konservasi. Gunung dengan hutan dan sungai di dalamnya harus dijaga agar masyarakat tidak terkena malapetaka akibat kemarahan ‘sang penguasa’ makhluk-makhluk penunggu hutan.
Jika dikaitkan dengan kepentingan konservasi secara modern, gunung dengan hutannya adalah wilayah tangkapan air yang menjadi hulu dari sungai-sungai yang mengalir ke daerah sekitarnya. Hutan juga menjadi salah satu penyuplai terbesar oksigen bagi makhluk hidup di sekitarnya yang juga dapat mempengaruhi cuaca dan iklim secara global. Apabila hutan rusak, sebagai konsekuensi logisnya rusak pula lah sungai, tanah, dan udara yang juga akan berdampak buruk bagi kehidupan manusia. Untuk itulah gunung dan hutan perlu dilestarikan dan tidak boleh diganggu dari kegiatan manusia secara berlebih. Gunung dan hutan lantas dilindungi dengan penetapan sebagai Cagar Alam, Cagar Biosfer, ataupun Taman Nasional. Tujuannya tidak lain adalah untuk menciptakan lingkungan hidup yang lestari dengan daya dukung yang baik terhadap kehidupan manusia.
Di nusantara ini, masyarakat yang cukup berhasil terkait dengan konteks kearifan lokal dan pengelolaan lingkungan dan sumber daya alam salah satunya dapat kita lihat pada masyarakat di Kampung Cipta Gelar, Desa Sirna Rasa, Kecamatan Cisolok, Sukabumi. Atau terkenal dengan sebutan Kasepuhan Cipta Gelar. Kasepuhan Cipta Gelar sendiri merupakan bagian dari Kesatuan Adat Banten Kidul yang berada di sekitar perbatasan kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS).
Kearifan dalam Pengelolaan Pertanian
Kasepuhan Cipta Gelar yang dibentuk atas dasar wangsit yang diperoleh Abah Anom ini tidak bisa dilepaskan dari Upacara Seren Taun. Upacara Seren Taun yang diadakan oleh Kesatuan Adat Banten Kidul menjadi salah satu upacara adat yang paling diminati sebagai bagian dari wisata budaya bagi masyarakat modern. Upacara ini merupakan upacara tahunan yang diadakan sebagai bentuk rasa syukur warga kasepuhan atas hasil panen yang diperoleh.
Pada dasarnya, sistem pertanian yang dijalankan oleh masyarakat kasepuhan tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan oleh masyarakat petani lainnya yang bersandar pada pandangan ‘rasional barat’. Untuk menyuburkan tanaman padi mereka juga menggunakan pupuk kimia dan lain sebagainya. Bedanya adalah soal waktu tanam. Masyarakat kasepuhan hanya menanam padi satu kali dalam setahun. Panen yang dihasilkan disimpan dalam lumbung-lumbung padi dan dimanfaatkan untuk bekal selama satu tahun ke depan hingga panen selanjutnya. Tidak ada eksploitasi berlebihan terhadap tanah sebagai sumber daya alam utama. Tidak ada pula monopoli. Mereka mencoba berbagi ‘ruang’ dan ‘waktu’ dengan makhluk lain dalam kehidupannya. Mereka percaya bahwa setiap makhluk di dunia ini ada ruang dan hak hidupnya masing-masing. Termasuk juga bagi hama.
“Pada saat giliran hama memerlukan ruang untuk hidup maka pada setiap petak sawah itu jangan digunakan untuk tanaman padi, nanti padinya habis diranjah hama itu.” Begitulah kira-kira pemahaman masyarakat kasepuhan yang telah diterjemahkan oleh Kusnaka Adimihardja dalam tulisannya yang berjudul Swadaya dan Kolaboratif Komuniti Adat dalam Melestarikan Lingkungan dan Sumber Daya Alam. Mengenal dan menempatkan segala sesuatunya pada ruang dan waktu yang sesuai ini penting agar tidak ada yang terganggu dan menimbulkan ‘kekacauan’. Atau dalam bahasa yang lebih ilmiah kita sebut sebagai disequilibrum lingkungan. Semua itu mereka lakukan sesuai dengan tatali paranti karuhun, tata cara nenek moyang yang disampaikan secara turun-temurun.
Tidak berlebih-lebihan dan menjaga keharmonisan hubungan dalam ruang dan waktu dengan yang lain adalah pandangan hidup yang diyakini mendekatkan masyarakat kasepuhan pada ketentraman dan kemakmuran. Bersikap wajar dan seimbang, itulah sikap yang ditanamkan dalam beberapa ungkapan yang ada, seperti ungkapan hareup teuing bisi ti jongkok, tukang teuing bisi ti jengkang (terlalu ke depan bisa tersungkur, terlalu ke belakang bisa terjengkang) dan dahar tamba lapar, nginum tamba hanaang (makan sekedar menghilangkan lapar, minum sekedar menghilangkan rasa haus). Semua pandangan hidup itu tampak jelas dari kegiatan pertanian yang tidak berlebihan dalam pola tanam dan penggunaan pestisida serta memperhatikan keseimbangan ekosistem alami. Dalam pengelolaan hasil pertanian juga demikian. Ada lumbung-lumbung padi yang dikelola bersama-sama dan dikeluarkan sesuai kebutuhan saja. Oleh karena itu, tidak heran ketika masyarakat Indonesia di beberapa wilayah menghadapi krisis pangan beberapa tahun lalu, masyarakat kasepuhan tetap tenang dalam kemandiriannya mengelola sumber daya alam beserta hasilnya dengan berbekal pada tatali paranti karuhun sebagai pedoman hidupnya.
Kearifan dalam Pengelolaan Hutan
Masyarakat kasepuhan, karena letak geografisnya, memiliki kaitan erat dengan ekosistem wilayah Gunung Halimun. Kedekatan hubungan ini sudah tentu berpengaruh pada sistem pengetahuan masyarakat kasepuhan terhadap pengelolaan hutan dan penggolongan lahan hutan untuk mendukung kehidupannya. Penggolongan hutan yang ada dalam masyarakat kasepuhan yang dijabarkan oleh Kusnaka Adimihardja dalam tulisan yang sama di atas yaitu:
Leuweng Kolot, atau biasa juga mereka sebut “leuweng geledegan” atau “hutan tua” yaitu jenis hutan yang masih lebat, ditumbuhi berbagai jenis tanaman atau pohon besar dan kecil. Ciri-ciri jenis hutan tersebut pepohonannya rimbun, kerapatan pohon sangat tinggi, dan berbagai jenis binatang masih hidup di dalamnya. Di sekitar Desa Sirna Rasa, di mana kampung gede berada, sebagai tempat pusat upacara warga kasepuhan, jenis hutan sebagaimana dikemukakan di atas, terdapat di kawasan Cagar Alam Gunung Halimun (sekarang Taman Nasional Gunung Halimun Salak).
Leuweng Sempalan, adalah suatu jenis hutan yang dapat dieksploitasi manusia secara luas. Pada jenis hutan ini manusia boleh membuka huma atau ladang, menggembalakan ternak (kerbau, kambing, dan domba), mengambil kayu bakar, dan lain-lain. Di wilayah Desa Sirna Rasa jenis hutan ini biasa pula di sebut leuweng bukaan, hutan yang dapat dieksploitasi yang terletak tidak jauh dari tempat pemukiman.
Leuweng titipan, adalah suatu jenis hutan yang diakui oleh semua warga kasepuhan sebagai suatu jenis hutan keramat. Jenis hutan ini tidak boleh dieksploitasi manusia, kecuali atas ijin sesepuh girang. Penggunaan hutan tersebut dimungkinkan apabila telah diterima semacam “wangsit” atau “ilapat” dari nenek moyang mereka melalui sesepuh girang. Di kalangan warga kasepuhan, Gunung Ciawitali dan Gunung Cibareno dipercayai sebagai leuweng titipan.
Kalau kita perhatikan, penggolongan hutan oleh masyarakat kasepuhan hampir sama halnya dengan konsep pengelolaan dan penggolongan hutan secara modern dalam konsep Taman Nasional. Di dalam konsep taman nasional, kita mengenal apa yang disebut sebagai Zona Inti, Zona Penyangga, dan Zona Pemanfaatan. Zona Inti dalam konsep masyarakat kasepuhan adalah leuweng kolot dengan ciri yang sama dan tidak boleh dieksploitasi oleh manusia. Zona Penyangga dapat dikatakan sama fungsinya dengan leuweng titipan yang juga tidak boleh digunakan karena kepentingannya untuk menyangga Zona Inti. Dapat digunakan hanya apabila sudah ada ijin dari yang berwenang. Namun, pada dasarnya kedua jenis hutan ini harus dijaga kelestariannya dan tetap terlindung dari ketamakan manusia agar kehidupan di sekitar kawasan dapat tetap seimbang. Sedangkan Zona Pemanfaatan dapat kita samakan pula dengan leuweng sempalan. Di mana masyarakat sekitar dapat memanfaatkannya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Sistem pengetahuan yang ada pada masyarakat kasepuhan di atas, atau kita sebut sebagai “kearifan lokal” itu, ternyata dapat sejalan dengan prinsip konservasi dan upaya pelestarian lingkungan yang dikelola secara modern. Sistem pengetahuan pada masyarakat tradisional itu tidak lagi dipandang melulu hanya mencipta ketakutan kosong tanpa makna. Di Indonesia, dengan kekayaan yang serupa pada beberapa daerah, sudah seharusnya mengkaji kembali nilai-nilai budaya yang dapat digunakan untuk dapat merangkak maju dan mandiri.
Kabar Pelestarian Lingkungan Hidup: 7
Di Kampung Cibeling, melalui fasilitasi dari ESP-USAID, masyarakat telah membentuk Kelompok Swadaya Masyarakat Cinagara Asri. Sementara di Kampung Gunung Batu, melalui fasilitasi dari Mapala UI, telah terbentuk Kelompok Tani Garuda Ngupuk pada 29 Nopember 2008.
• Terjalinnya komunikasi yang lebih erat antara kelompok masyarakat dengan pihak mapala UI dalam mengarahkan dan mengembangkan program kerja desa konservasi.
Kabar Pelestarian Lingkungan Hidup: 6
Beberapa kegiatan yang direncanakan yaitu TOT Keorganisasian Masyarakat dan Pembentukan Kelompok Tani dengan diselingi aksi penanaman pohon untuk lebih menegaskan tujuan pelestarian lingkungan dari pembentukan kelompok tani.
Kabar Pelestarian Lingkungan Hidup: 5
Desa Cinagara dan Desa Tangkil ditetapkan sebagai sasaran program berdasarkan pengamatan dari peta TNGGP. Kedua desa ini berbatasan langsung dengan TNGGP dan diantara keduanya mengalir Daerah Aliran Sungai Cinagara yang menjadi salah satu hulu dari Sungai Cisadane. Dua hal itulah yang menjadi alasan utama pemilihan lokasi. Alasan lainnya adalah jaraknya yang tidak begitu jauh dari Depok sehingga pengamatan dan pengawasan program selanjutnya bisa lebih mudah.
• Data yang lengkap mengenai keadaan desa; dan
• Terbentuknya Rancangan program khusus untuk Kampung Cibeling, Desa Cinagara dan Kampung Gunung Batu, Desa Tangkil Kecamatan Caringin Bogor.
• Bpk. Asep;
• Bpk. Aman;
• Fadil;
• Mulyati; dan
• Rustandi.
Sedangkan peserta dari Kampung Gunung Batu yaitu:
• Bpk. Adang Kurniawan;
• Bpk. Upen;
• Pandi;
• Bpk. Ujang Marujang; dan
• Daim Hamdiah.
Dalam tahap ini juga dibantu pendokumentasiannya oleh dua mahasiswa Broadcast UI yaitu Adit dan Ucok.




