Impian Kampung CerDig, Berbagi dan Menginspirasi!

This slideshow requires JavaScript.

Kilas Foto: Kegiatan belajar bersama antara relawan dengan anak-anak dan masyarakat di Kampung Gunung Batu. Kelak kami akan ‘menjuluki’ kampung ini dengan Kampung CerDig, Kampung Cerita Digital, tempat lahirnya cerita-cerita digital yang menginspirasi masyarakat luas untuk terus maju bersama-sama dengan semangat berbagi. Berbagi dan menginspirasi!
***
Kalau Anda main ke Bogor, mampir-mampirlah ke Kampung Gunung Batu, Desa Tangkil, Kecamatan Caringin. Dari Ciawi, Anda bisa naik bus, angkot, atau kendaraan Anda sendiri ke arah Sukabumi. Jangan sampai terlewat, berhentilah di Sempur, Desa Cinagara. Kemudian belok ke kiri, ke Timur, ikutilah jalan Desa Cinagara sampai ujung aspalnya di Desa Tangkil. Parkirlah kendaraan Anda di satu lahan kosong di sana. Dari tempat parkir itu, Anda bisa berjalan kaki mengikuti jalan setapak menuju Kampung Gunung Batu. Hati-hati jika tanah masih basah sehabis hujan, karena sudah pasti sangat becek dan licin. Tapi, pemandangannya cukup indah koq, rasa takut kadang hilang melihat indahnya sawah yang terbentang dan gunung-gunung yang menjulang.
Oh iya, jika Anda menggunakan kendaraan umum, dari Sempur Anda bisa menggunakan ojeg motor. Kalau musim panas, ojeg motor mau mengantarkan sampai ke kampung ini. Tapi kalau musim hujan, ojeg motor hanya dapat mengantar sampai batas aspal saja. Alasannya, tanahnya becek dan licin, bentangan alamnya juga berbukit-bukit, membuat ojeg takut jatuh dan tergelincir.
***
Emm, Anda blogger? Atau aktifis di jejaring sosial? Kalau Anda berkunjung ke daerah ini setahun yang lalu, dan Anda ingin selalu berseluncur di dunia maya kapan saja dan di mana saja, selain membawa laptop plus modemnya, atau blackberry, atau barangkali hanya henpon biasa yang di dalamnya terdapat fasilitas untuk fesbukan dan chatting, Anda tidak boleh lupa untuk mengisi baterainya penuh-penuh sebelum berkunjung ke kampung ini. Karena setahun yang lalu belum ada listrik yang masuk ke daerah ini.
Waktu pertama kalinya saya ke kampung ini pada akhir tahun 2007, saya merasa sangat terbatas dengan keadaan kampung yang tanpa listrik. Ingin menulis di laptop hanya bertahan satu-dua jam. Ingin berkomunikasi dengan henpon, baterainya hanya bertahan satu-dua hari. Selanjutnya, harus turun gunung, pindah ke kampung sebelah, isi ulang baterai dah… Continue reading

Masjid dan Da’i Juga Perlu Mengkampanyekan Penanganan Sampah

***
Setiap hari kita memberikan pengaruh terhadap lingkungan dalam berbagai cara. Pengaruh yang pasti adalah sampah. Sampah merupakan konsekuensi dari adanya aktifitas manusia. Setiap waktu, selalu saja ada benda yang terbuang dan menjadi sampah. Yang perlu disadari, jumlah sampah sebanding dengan tingkat konsumsi kita terhadap barang (material) yang kita gunakan sehari-hari. Semakin tinggi tingkat konsumsi, semakin tinggi pula sampah yang kita hasilkan. Artinya, semakin besar pula peranan kita terhadap kerusakan lingkungan yang mungkin dihasilkan dari sampah tersebut.
Penanganan sampah dari aktivitas yang kita lakukan tentu tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada pemerintah saja. ”Sampah berasal dari masyarakat, maka masyarakat jugalah yang harus berupaya menyelesaikan masalahnya,” kata Ubaidillah, Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jakarta.
Namun demikian, tidak semua orang paham tentang cara menangani sampah. Pengetahuan dan kemauan untuk mengurangi sampah dan kearifan dalam mengelola sampah sudah seharusnya disentuh agar menjadi bagian dari kesadaran individu. Karena pada dasarnya jauh di dalam lubuk hati setiap manusia pasti tersirat keinginan untuk menjalani sebuah kehidupan yang lebih baik.
Peran Masjid dan Da’i
Di dalam diri umat Islam, banyak yang mengetahui bahwa ia adalah khalifah di muka bumi, tapi tak banyak yang tahu tentang apa yang seharusnya dilakukan terhadap bumi ini. Karena itulah masjid sangat berperan penting untuk membimbing jamaahnya sehingga tumbuh pengetahuan dan kesadaran yang akan membawa perubahan bagi lingkungan yang lebih baik. Serta mengokohkan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin.
Masjid merupakan sarana yang efektif dalam penyebaran akhlak Islam yang mulia. Selain itu, juga dapat menjadi sarana yang berkelanjutan dalam mendidik dan memberikan himbauan moral kepada jamaah untuk senantiasa berakhlak mulia, tidak konsumtif dan hidup boros, serta ramah terhadap lingkungan. Sehingga, bumi titipan Allah ini, bisa terus bersih, terawat, sehat serta terjaga kelestariannya.
Da’i yang memakmurkan masjid juga perlu menambah pengetahuan yang baik mengenai permasalahan umat ini. Yaitu pengelolaan sampah yang dapat meminimalisir kerusakan terhadap lingkungan sekitar. Di samping itu, da’i juga mesti terus-menerus mengembangkan pengetahuan dan kreatifitas agar sampah juga dapat menjadi berkah bagi umat di sekelilingnya. Allah Swt berfirman:
Janganlah merusak di muka bumi sesudah Allah memperbaikinya. Tapi serulah Ia dengan ketakutan dan kerinduan. Sungguh rahmat Allah dekat kepada orang yang berbuat kebaikan.” (Q.S. Al A’raf : 56)
Dengan demikian kesadaran akan lingkungan dan alam yang lestari adalah tanggungjawab moral setiap muslim. Kepedulian terhadap kelestarian lingkungan merupakan salah satu amanat Islam. Setiap muslim bertanggungjawab atas kelestarian alam dan sudah semestinya penggerak-penggerak di dalam diri umat Islam turut berkontribusi di dalam mengkampanyekan isu ini.
Mengembangkan Pengetahuan, Sampah dan Penanganannya
Beragam masalah di dunia terus berkembang dan berubah. Karena itu pengetahuan mengenai penanganannya perlu terus diikuti selama tidak bertentangan dengan aqidah Islam. Pengetahuan yang jelas akan membuat jelas pula sikap dan tindakan yang mesti kita lakukan. Begitupun dengan penanganan sampah ini.
Sampah adalah sisa suatu usaha atau kegiatan yang berwujud padat baik berupa zat organik maupun anorganik yang bersifat dapat terurai maupun tidak terurai dan dianggap sudah tidak berguna lagi sehingga dibuang ke lingkungan (Menteri Negara Lingkungan Hidup, 2003).
Sampah dapat berada pada setiap fase materi yaitu fase padat, cair, atau gas. Ketika dilepaskan dalam dua fase yaitu cair dan gas, terutama gas, sampah dapat dikatakan sebagai emisi. Emisi biasa dikaitkan dengan polusi. Bila sampah masuk ke dalam lingkungan (ke air, ke udara dan ke tanah) maka kualitas lingkungan akan menurun. Peristiwa masuknya sampah ke lingkungan inilah yang dikenal sebagai peristiwa pencemaran lingkungan.
Gede H. Cahyana (2006) mengatakan bahwa masalah sampah sebetulnya bisa diselesaikan dengan ‘tangan bersih’. Ini berkaitan dengan ilmu dan perilaku masyarakat. Patut diakui, tak semua orang paham bahwa sampah sebaiknya sesedikit mungkin dibuang ke tong sampah. Yang organik sebaiknya ditanam, yang anorganik jika tak bisa dimanfaatkan lagi silakan dibakar dan yang masih bernilai guna bisa dijual atau diberikan kepada pemulung.
Konsep tersebut terangkum dalam konsep 7R, yaitu reduce, reuse, recycle, recovery, replace, relocation, responsible. Reduce, mengurangi volume sampah atau disebut juga precycling merupakan langkah pertama untuk mencegah penimbunan sampah, yaitu memakai barang yang efisien sehingga tak banyak yang terbuang. Reuse, menggunakan kembali, berarti menghemat dan mengurangi sampah dengan cara menggunakan kembali barang-barang yang telah dipakai dengan menerapkan kreativitas. Intinya sekecil apapun itu, yang penting sampah tidak masuk ke tong sampah.
Selanjutnya adalah Recycle, mendaur ulang, juga sering disebut mendapatkan kembali sumberdaya (resource recovery), khususnya untuk sumberdaya alami. Mendaur ulang diartikan mengubah sampah menjadi produk baru, khususnya untuk barang-barang yang tidak dapat digunakan dalam waktu yang cukup lama, misalnya kertas, alumunium, gelas dan plastik. Langkah utama dari mendaur ulang ialah memisahkan sampah yang sejenis dalam satu kelompok. Kemudian sampah organik bisa dijadikan kompos, yang anorganik seperti kertas diolah menjadi bubur kertas lalu dijadikan kertas baru lagi dengan mutu yang lebih rendah, tapi tetap bermanfaat dengan harga murah.
Replace, gantilah bahan baku atau barang yang berpotensi terbuang sekali pakai dengan yang bisa digunakan berkali-kali. Misalnya, wadah belanjaan berupa tas sebagai ganti plastik kresek. Recovery, ambil yang masih berguna. Benda-benda berupa potongan besi, kabel, paku, baterei atau accu, bisa dikumpulkan lalu dijual ke tukang rongsok dan akan diolah atau dijual lagi ke pabriknya.
Relocation, tempat sampah yang tepat desain dan letaknya sehingga mudah diambil petugas. Pemilahan sampah oleh pemilik dan pemulung pun bisa dilakukan dengan mudah. Responsible, bertanggung jawab, baik rumah tangga, sarana peribadatan, petugas kebersihan, dan pegawai-pejabat pemerintah daerah. Rasa tanggung jawab inilah yang belum tampak, baik di tingkat rumah tangga maupun pemerintah daerah dan terkesan bekerja serampangan. Bekerja keras tapi tak cerdas sehingga terus berlarut-larut lantaran solusinya bersifat instan reaktif, bukan kreatif.
Penanganan sampah melalui konsep 7R itu bisa dimulai dari masjid yang dicontohkan oleh para da’i kepada umat di sekitarnya. Sehingga umat di dalam tingkat rumah tangganya dapat mencontoh dan menjadi suatu gerakan bersama umat Islam untuk lingkungan hidup yang lebih baik.
Setiap pilihan yang kita ambil mempengaruhi alam dan masyarakat. Seperti kata pepatah pencegahan penyakit akan lebih baik dari pada mengobatinya. Kata bijak ini juga bisa digunakan dalam strategi penanganan sampah yakni mencegah terbentuknya sampah lebih baik dari pada mengolah/memusnahkan sampah. Karena bagaimanapun mengolah/memusnahkan sampah pasti akan menghasilkan jenis sampah baru yang mungkin saja lebih berbahaya dari sampah yang dimusnahkan. Jadi mari mulai sekarang kita berbenah diri untuk hidup hemat dan mengurangi hal-hal yang bisa membentuk sampah. Sebagaimana yang telah dipesankan dalam Al Quran Surat Al A’raf ayat 31:
Janganlah kamu berlebih-lebihan (boros), sesungguhnya Allah tidak senang kepada orang yang suka berlebih-lebihan.

Gaya Hidup Green-Kyai (Kyai Ramah Lingkungan)

***

Saya dan Yudi (salah seorang wartawan majalah Islam) masih mengeluhkan panas matahari yang menyengat. Badan kami sudah basah kuyup dengan keringat yang terus mengalir. Sementara kami tetap mengeluh, orang tua bersepeda melintas di samping kami. Pakaiannya serba putih, membawa payung dan bungkusan plastik yang entah apa isinya.
Keluhan berubah dan menyerempet ke arah pergunjingan (memang waktu itu kami telah membahas soal infotainment yang menggila). Tentunya pergunjingan yang positif mengenai orang tua yang lewat tadi. Pikiran-pikiran saya mengenai orang itu adalah sebagai berikut.
Pertama, soal sepeda. Sebutlah ia Kyai atau Ulama di perkotaan, jarang yang saya lihat mengendarai sepeda di tengah kota. Jika ia telah terkenal, walau hanya di tingkat RT, kadang minta dijemput dengan minimal menggunakan sepeda motor. Sementara orang yang berpakaian ala Ulama ini mengendarai sepeda di tengah teriknya panas matahari di sekitar silang Monas. Partisipan aksi di Mahkamah Konstitusi dari ormas-ormas Islam saja yang saat itu sedang melakukan aksi (UU Penodaan Agama) tidak ada yang terlihat menggunakan sepeda. Kalau dikaitkan dengan isu global warming, tentunya ulama yang satu ini sudah mengkampanyekan soal gaya hidup yang ramah lingkungan, bersepeda. Dengan bersepeda tentunya akan mengurangi emisi dibandingkan dengan menggunakan kendaraan bermotor pada jarak yang relatif tidak begitu jauh.
Kedua, soal payung. Bukan hanya soal sedia payung sebelum hujan. Payung ini juga dapat digunakan untuk mengurangi panas atau cahaya matahari yang menyengat. Sehingga tidak lagi perlu hanya mengeluh soal panas yang memang nyata rasanya. Daripada akan muncul keluhan-keluhan, rasanya lebih baik diredam dengan solusi membawa payung. Di samping juga cuaca yang memang tidak menentu. Jadi, saat panas tidak mengeluh dan saat hujan pun tidak perlu mengeluh. Tinggal klik, payung terbentang hatipun tenang.
Ketiga, soal pakaian putih-putih. Pakaian serba putih ini sangat sederhana namun penuh makna. Warna putih dikatakan oleh ahli fisika dapat ‘menangkal’ panas sinar matahari. Oleh anak kimia, penggunaan warna putih juga dikatakan sebagai gaya hidup yang ramah lingkungan, karena dapat meminimalisir penggunaan zat pewarna bagi kain yang limbahnya akan berdampak pada lingkungan.
Keempat, soal bungkusan plastik. Saya coba berprasangka baik. Barangkali isinya adalah bekal perjalanan. Hidup hemat dapat mengurangi pencemaran. Karena pencemaran lingkungan, misalnya sampah, berbanding lurus dengan jumlah konsumsi warganya. Semakin tinggi konsumsi maka semakin tinggi pula sampah yang dihasilkan. Namun demikian, plastik hitam itu memang tidak direkomendasikan untuk membungkus makanan. Tapi secara subtansi, yaitu hidup hematnya inilah yang perlu ditiru.
Dari keempat hal itu, saya menyebutnya sebagai Green-Kyai, label yang belum tentu ia senangi. Label itu tentunya bukan untuk membatasi dirinya tetapi sekedar untuk memudahkan saya mengingat orang yang begitu banyak hikmah yang dapat diambil darinya, kezuhudannya, memalingkan dirinya dari kemapanan duniawi yang tidak banyak dimengerti oleh kebanyakan orang.
Dengan kezuhudannya ia lebih memilih sepeda dibandingkan dengan sedan mewah yang barangkali mudah untuk dibelinya. Dengan kezuhudannya ia lebih memilih pakaian putih sederhana dibandingkan dengan pakaian mewah penuh warna yang barangkali sangat kecil baginya untuk membeli berpotong-potong pakaian mewah. Dengan kezuhudannya ia lebih memilih hidup hemat dibandingkan dengan berboros-boros yang dapat menambah beban bagi kelestarian lingkungannya.
Wassalamu’alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh Pak Kyai…

Aksi Usai, Petugas Kebersihan Beraksi

AKSI DIWARNAI  BAKAR FOTO

Partisipan aksi 28 Januari 2010 yang tergabung dalam Jaringan Pemuda Penggerak (Jamper) bersama Forum Komunikasi Muda-Mudi Depok (FKMD) dan Gerakan Mahasiswa Nasionalis Indonesia (GMNI) melakukan aksi pembakaran foto Boediono-Sri Mulyani yang dianggap bertanggung jawab atas skandal Bank Century.

.

SAMPAH DI TENGAH AKSI

Sampah-sampah bekas nasi bungkus dan air minum kemasan mulai terlihat di tengah-tengah partisipan aksi yang di rangkaian tubuh mereka tertulis: SBY-BUDIONO GAGAL 100%. Pemerintah telah gagal untuk menempatkan mereka di berbagai lapangan pekerjaan sehingga mereka turun ke jalan.

.

SAMPAH BERSERAKAN

Usai aksi, sampah mulai terlihat jelas. Sementara jalur kendaraan bermotor sudah mulai dibuka pada pukul 5 sore. Beberapa petugas kebersihan berpakaian bebas juga sudah mulai menyapu jalan di tengah-tengah arus lalu lintas yang mulai ramai.

.

ANAK BUAH JENDERAL SAMPAH BERAKSI

Di depan barikade polisi berpakaian lengkap dengan ‘Barracuda’nya yang bertugas melindungi Istana Negara, Petugas Kebersihan berseragam putih mulai melakukan pembersihan sampah di tengah-tengah aksi yang masih berlangsung. Di belakang petugas sampah tertulis S.O.R. SOR atau PT Sarana Organtama Resik adalah perusahaan yang bergerak pada bidang kebersihan. PT SOR merupakan perusahaan milik Letjen (Purn.) Achmad Kemal Idris yang kemudian dikenal sebagai “Jenderal Sampah”.

.

AKSI ANAK BUAH JENDERAL SAMPAH DI TENGAH AKSI 28 JANUARI 2010

Bahwa setiap orang punya pandangan masing-masing.

Bahwa setiap orang punya mimpinya masing-masing.

Bahwa setiap orang punya perannya masing-masing.

Untuk satu hal: hari-hari esok yang lebih baik!

Tanamlah Pohon Sebelum Pohon Tertanam di Atas Kita

Pesan-pesan mengenai isu lingkungan hidup dan perubahan gaya hidup yang harmonis dengan alam nampaknya semakin kreatif saja. Seperti judul di atas misalnya, “Tanamlah pohon sebelum pohon tertanam di atas kita”.
Kalimat ajakan itu dilontarkan Rizky Afriono (Ketua BKP Mapala UI 2009) untuk membantu memasarkan pohon dalam rangka penggalangan dana bagi kegiatan salah satu divisi di Mapala UI. Ajakan tersebut tentunya mengingatkan kita, terutama umat Islam, pada kalimat lain tentang sholat, yaitu “Sholatlah kamu sebelum kamu disholatkan”.
Dalam penyampaian secara langsung, pesan singkat di atas terkesan hanya guyonan dari seorang Rizky yang memang senang berguyon. Akan tetapi, bagi saya pesan itu ternyata memiliki makna yang cukup dalam terkait dengan gerak hidup dan kematian. Bahwa setiap yang hidup pasti mati. Namun, kematian seseorang bukanlah akhir dari kehidupan itu sendiri. Ada sistem dalam alam dan gerak kehidupan. Kita, setelah mati, akan bergerak pada kehidupan baru menuju humus dan barangkali abu atau bahkan uap air dalam cahaya di kabut pekat senja membara. Kita akan menjadi makanan dari tetumbuhan yang mewarnai alam semesta dengan batang, daun, dan bunga yang aneka warna.
Seorang budayawan dalam tulisannya yang menyindir halus pernah berujar: “kematian adalah hal yang sangat serius, karenanya hidup harus dijalani dengan serius pula”. Maka setiap langkah yang diambil haruslah langkah serius yang terbaik untuk mendekat pada kondisi kematian yang sebaik-baiknya. Apakah kita hanya berakhir dengan rerumputan atau tanah gersang di atas kita, atau dengan tetumbuhan aneka warna yang menggerakkan kita pada bentuk lain di alam semesta.
Dalam hidup, tentunya akan banyak ragam pilihan di depan kita sebelum langkah-langkah pertama dimulai. Pilihan pertama akan selalu secara berantai mempengaruhi pilihan-pilihan selanjutnya. Banyak pepatah untuk menjelaskan hal ini, salah satunya yaitu: “Siapa menabur angin akan menuai badai”. Sederhana saja, ada hukum sebab akibat dalam semesta. Yang dapat langsung dan tertunda.
Keputusan mengenai pilihan terbaik hanya akan mungkin dapat diperoleh dengan memanfaatkan informasi-informasi yang terbaik pula. Dan saat pilihan telah ditetapkan, barangkali perlulah dikutip pendapat salah seorang sahabat, Wardi: “Jika kita konsisten terhadap sesuatu, maka sesuatu itu akan memberikan kehidupan kepada kita”. Ya, kembali lagi kepada kehidupan. “Bahwa hidup haruslah di tempuh/Menolong, tertolong/Bahwa ketertindasan selayaknya disudahi….” (Butet Manurung).
Akhirnya, ada hidup sebelum mati, ada gerak yang tak pernah Henti. Gerak manusia pun pada dasarnya memiliki kerinduan akan kesempurnaan, akan kebahagiaan yang tak henti-hentinya. Maka serukanlah terus upaya-upaya untuk terciptanya ruang hidup yang lebih baik, dalam Alam, Budaya, dan Kemanusiaan kita. Sederhana saja, harmonis secara vertikal (“Sholatlah kamu sebelum kamu disholatkan”) dan horizontal (“Tanamlah pohon sebelum pohon tertanam di atas kita”).

Sekedar Gaya Hidup yang Ramah Lingkungan?

I don’t know what’s worth fighting for
Or why I have to scream
I don’t know why I instigate
And say what I don’t mean
I don’t know how I got this way
I’ll never be alright
So, breaking the habit
I’m breaking the habit
Tonight

-Breaking The Habit, Linkin Park-
***
Tersebutlah di negeri antah berantah semua warganya tiba-tiba saja dikejutkan oleh kabar berita bahwa bumi sedang sekarat. Pemanasan global dan perubahan iklim dikabarkan mengancam bumi. Berita ini disertai bukti bencana yang menimpa negeri, banjir rob, angin puting beliung, suhu udara yang sangat panas di kota. Warga negeri antah berantah itu pun mencoba mengurangi sakit yang diderita sang bumi. Mereka berusaha memperbaiki gaya hidupnya agar lebih ramah terhadap lingkungan di sekitarnya.
Berita itu sampai juga menembus dinding-dinding kampus negeri antah berantah. Sang professor mulai meneliti tentang teknologi yang ramah bagi lingkungan. Rektornya berupaya memikirkan alternatif “Kampus Hijau” yang dapat mendukung peningkatan kualitas lingkungan hidup dan pendidikan. Si Baplang yang aktivis gerakan mahasiswa juga ikut berubah haluan, tema yang diusungnya kini: Selamatkan Lingkungan! Sambil terus menekan pemerintah negeri antah berantah itu agar dapat membuat kebijakan yang memperhatikan kelestarian lingkungan. Bergabunglah ia dalam apa yang disebut Ormas, LSM atau NGO. Jadilah warna bendera yang dikibarkannya merah-hijau sekaligus atau benar-benar hanya dominan warna hijau dan putih.
Mahasiswa lainnya berusaha mengkampanyekan gaya hidup hijau dengan cara yang lebih populer. Dalam setiap eventnya mereka membuat stiker, pin, kaos, gelang, spanduk, baliho dan berbagai aksesoris yang memuat pesan perubahan gaya hidup. Tidak jarang mereka menyertakan artis-artis ternama pula. Prinsipnya, manusia antah berantah itu diharapkan mau mendengarkan sang idolanya untuk merubah gaya hidup.
Namun, tidak sedikit juga warga negeri antah berantah yang skeptis atas berita itu. Si Berang bilang itu isu negara maju untuk mengekalkan pasarnya di negeri antah berantah yang sedang berkembang dan memiliki banyak hutang. Alternatif teknologi ramah lingkungan perlu diterapkan dan itu harus dibeli dari negara maju. Yang tentu akan mengekalkan hutang negara berkembang. Dengan demikian ‘ketertundukan’nya pun akan kekal. Bukan hanya itu, fashion negeri antah berantah itupun akan mengekor pada negara maju yang mencekokinya dengan berita pemanasan ‘gombal’. Fashion yang ramah lingkungan? Apalah … (pertanyaan atau pernyataan sinis nih?)
Lain Si Berang, lain pula Si Ilalang. Si Ilalang lebih mempertanyakan gaya kampanye lingkungan hidup yang tidak ramah pada lingkungan. Si Ilalang yang mahasiswa ‘Kampus Hijau’ itu mengkritik pembuatan stiker, pin, kaos, spanduk, baliho, dllnya yang dilakukan secara masal. Masalahnya habis event kampanye lingkungan kadang habis pula manfaatnya. Sementara bahan yang digunakan sangat jauh dari apa yang dikatakan ramah lingkungan. Tidak pula ada usaha mengalihfungsikan, misalnya baliho untuk jadi sesuatu yang lain yang kembali memiliki nilai guna. Senada dengan Si Berang, Si Ilalang juga bilang mahasiswa yang ikut-ikutan kampanye lingkungan itu fashionnya ngekor banget ke negeri maju di ‘barat’. Konsumsinya juga malah meningkat, terutama terhadap fashion yang berbau tema ‘go green’. Gonta-ganti fashion, ada yang baru dengan bahasan baru, Beli Ah! Halah… capek deh, kata Si Ilalang.
Ada lagi Si Goblek, dia lebih mengkritik gaya personal. Katanya ada temennya, sebut saja Japri yang mahasiswa sosial itu, yang suka kampanye lingkungan itu, munafik! Pake kertas gak hemat, ngerokok di sembarang tempat, makannya selalu minta dibungkus (si Japri ini anak kost katanya), ada sepeda di kampus malah milih naek motor atau mobil pribadi (suka ngebut lagi, gak ramah sosial banget!), kaos-kaosnya yang bertema ‘go green’ aja nyucinya di laundry. Lo tahu kan gimana tuh bahan kimia yang dipake di laundry. Bah, pale lu pedud ngomong lingkungan!

Mitos, Kearifan Lokal, dan Pengelolaan Lingkungan

“Minggu (28/12), Pak Karsad, sang juru kunci Gunung Slamet via jalur utara menerima kami di rumahnya yang kini mulai bertembok. Pria dengan bibir sumbing tersebut hanya mengangguk-angguk mendengar niatan yang disampaikan Dadang Sukandar, pemimpin perjalanan kali ini. “Saya hanya menitipkan kemenyan putih, agar dibakar di batas hutan Gunung Penjara dan asapnya diusapkan di muka tiap peserta, setelah sebelumnya membaca surat Al Ikhlas sebanyak tiga kali,” ucapnya datar, di pelataran rumahnya, tepat sebelum kami berangkat. Tak ambil pusing dengan tata cara yang dianjurkan, beberapa anggota tim menolak melakukan ritual tersebut saat berada di batas hutan. Abdu Robbi, yang bergaya muslim klotokan menganggap ritual tersebut tergolong musyrik. Sementara Oktora Hartanto dan beberapa teman yang beragama tapi minim menjalankan ibadah, hanya menganggap hal tersebut angin lalu.”

Sulung Prasetyo, menuliskan paragraf di atas dalam tulisannya yang berjudul Pendakian Mapala UI: Puncak Gunung Slamet via Penjara (1) yang dimuat di Sinar Harapan pada tanggal 5 Januari 2009. Paragraf di atas setidaknya dapat mewakili sikap kita ketika dihadapkan pada ritual yang lahir dari keyakinan suatu masyarakat tertentu terhadap cerita-cerita yang tidak mempunyai kebenaran historis. Mitos.

Ah… mitos! Nggak logis. Sebagian kita, seperti Oktora dalam paragraf di atas, seringkali mengabaikannya seperti angin lalu. Namun, mitos juga terlahir dari buah pikir, tegasnya sebut saja sebagai hasil dari imajinasi konstruktif suatu masyarakat yang terkait erat dengan hubungan antara manusia dan lingkungan alam sekitarnya. Ada tujuan di dalam proses pembentukannya. Tujuan yang juga tidak terlepas dari hubungan erat antara masyarakat dengan lingkungan alam sekitarnya itu.

Sebagai hasil dari imajinasi konstruktif, mitos menjadi bagian dari sistem pengetahuan dan sekaligus sistem kepercayaan masyarakat. Sistem pengetahuan yang dimiliki suatu masyarakat tentu akan berpengaruh pula pada cara-cara pengelolaan lingkungan alamnya dan sistem-sistem lainnya dalam sistem budaya yang dimiliki. Pada masyarakat tertentu, kini sistem pengetahuan itu dikenal sebagai “kearifan lokal” oleh masyarakat modern karena perannya yang selaras dengan kepentingan pelestarian lingkungan.

Ritual yang dianjurkan Pak Karsad kepada tim pendaki gunung di atas misalnya, dapat dikatakan sebagai bagian dari kearifan lokal masyarakat di kaki Gunung Penjara dalam menjaga kelestarian hutannya. Penghormatan kepada gunung dan hutan sebagai ruang yang diyakini mempertemukan dunia nyata dengan dunia gaib ternyata menciptakan cara berperilaku yang tidak jauh dengan prinsip konservasi. Gunung dengan hutan dan sungai di dalamnya harus dijaga agar masyarakat tidak terkena malapetaka akibat kemarahan ‘sang penguasa’ makhluk-makhluk penunggu hutan.

Jika dikaitkan dengan kepentingan konservasi secara modern, gunung dengan hutannya adalah wilayah tangkapan air yang menjadi hulu dari sungai-sungai yang mengalir ke daerah sekitarnya. Hutan juga menjadi salah satu penyuplai terbesar oksigen bagi makhluk hidup di sekitarnya yang juga dapat mempengaruhi cuaca dan iklim secara global. Apabila hutan rusak, sebagai konsekuensi logisnya rusak pula lah sungai, tanah, dan udara yang juga akan berdampak buruk bagi kehidupan manusia. Untuk itulah gunung dan hutan perlu dilestarikan dan tidak boleh diganggu dari kegiatan manusia secara berlebih. Gunung dan hutan lantas dilindungi dengan penetapan sebagai Cagar Alam, Cagar Biosfer, ataupun Taman Nasional. Tujuannya tidak lain adalah untuk menciptakan lingkungan hidup yang lestari dengan daya dukung yang baik terhadap kehidupan manusia.

Di nusantara ini, masyarakat yang cukup berhasil terkait dengan konteks kearifan lokal dan pengelolaan lingkungan dan sumber daya alam salah satunya dapat kita lihat pada masyarakat di Kampung Cipta Gelar, Desa Sirna Rasa, Kecamatan Cisolok, Sukabumi. Atau terkenal dengan sebutan Kasepuhan Cipta Gelar. Kasepuhan Cipta Gelar sendiri merupakan bagian dari Kesatuan Adat Banten Kidul yang berada di sekitar perbatasan kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS).

Kearifan dalam Pengelolaan Pertanian

Kasepuhan Cipta Gelar yang dibentuk atas dasar wangsit yang diperoleh Abah Anom ini tidak bisa dilepaskan dari Upacara Seren Taun. Upacara Seren Taun yang diadakan oleh Kesatuan Adat Banten Kidul menjadi salah satu upacara adat yang paling diminati sebagai bagian dari wisata budaya bagi masyarakat modern. Upacara ini merupakan upacara tahunan yang diadakan sebagai bentuk rasa syukur warga kasepuhan atas hasil panen yang diperoleh.

Pada dasarnya, sistem pertanian yang dijalankan oleh masyarakat kasepuhan tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan oleh masyarakat petani lainnya yang bersandar pada pandangan ‘rasional barat’. Untuk menyuburkan tanaman padi mereka juga menggunakan pupuk kimia dan lain sebagainya. Bedanya adalah soal waktu tanam. Masyarakat kasepuhan hanya menanam padi satu kali dalam setahun. Panen yang dihasilkan disimpan dalam lumbung-lumbung padi dan dimanfaatkan untuk bekal selama satu tahun ke depan hingga panen selanjutnya. Tidak ada eksploitasi berlebihan terhadap tanah sebagai sumber daya alam utama. Tidak ada pula monopoli. Mereka mencoba berbagi ‘ruang’ dan ‘waktu’ dengan makhluk lain dalam kehidupannya. Mereka percaya bahwa setiap makhluk di dunia ini ada ruang dan hak hidupnya masing-masing. Termasuk juga bagi hama.

“Pada saat giliran hama memerlukan ruang untuk hidup maka pada setiap petak sawah itu jangan digunakan untuk tanaman padi, nanti padinya habis diranjah hama itu.” Begitulah kira-kira pemahaman masyarakat kasepuhan yang telah diterjemahkan oleh Kusnaka Adimihardja dalam tulisannya yang berjudul Swadaya dan Kolaboratif Komuniti Adat dalam Melestarikan Lingkungan dan Sumber Daya Alam. Mengenal dan menempatkan segala sesuatunya pada ruang dan waktu yang sesuai ini penting agar tidak ada yang terganggu dan menimbulkan ‘kekacauan’. Atau dalam bahasa yang lebih ilmiah kita sebut sebagai disequilibrum lingkungan. Semua itu mereka lakukan sesuai dengan tatali paranti karuhun, tata cara nenek moyang yang disampaikan secara turun-temurun.

Tidak berlebih-lebihan dan menjaga keharmonisan hubungan dalam ruang dan waktu dengan yang lain adalah pandangan hidup yang diyakini mendekatkan masyarakat kasepuhan pada ketentraman dan kemakmuran. Bersikap wajar dan seimbang, itulah sikap yang ditanamkan dalam beberapa ungkapan yang ada, seperti ungkapan hareup teuing bisi ti jongkok, tukang teuing bisi ti jengkang (terlalu ke depan bisa tersungkur, terlalu ke belakang bisa terjengkang) dan dahar tamba lapar, nginum tamba hanaang (makan sekedar menghilangkan lapar, minum sekedar menghilangkan rasa haus). Semua pandangan hidup itu tampak jelas dari kegiatan pertanian yang tidak berlebihan dalam pola tanam dan penggunaan pestisida serta memperhatikan keseimbangan ekosistem alami. Dalam pengelolaan hasil pertanian juga demikian. Ada lumbung-lumbung padi yang dikelola bersama-sama dan dikeluarkan sesuai kebutuhan saja. Oleh karena itu, tidak heran ketika masyarakat Indonesia di beberapa wilayah menghadapi krisis pangan beberapa tahun lalu, masyarakat kasepuhan tetap tenang dalam kemandiriannya mengelola sumber daya alam beserta hasilnya dengan berbekal pada tatali paranti karuhun sebagai pedoman hidupnya.

Kearifan dalam Pengelolaan Hutan

Masyarakat kasepuhan, karena letak geografisnya, memiliki kaitan erat dengan ekosistem wilayah Gunung Halimun. Kedekatan hubungan ini sudah tentu berpengaruh pada sistem pengetahuan masyarakat kasepuhan terhadap pengelolaan hutan dan penggolongan lahan hutan untuk mendukung kehidupannya. Penggolongan hutan yang ada dalam masyarakat kasepuhan yang dijabarkan oleh Kusnaka Adimihardja dalam tulisan yang sama di atas yaitu:

Leuweng Kolot, atau biasa juga mereka sebut “leuweng geledegan” atau “hutan tua” yaitu jenis hutan yang masih lebat, ditumbuhi berbagai jenis tanaman atau pohon besar dan kecil. Ciri-ciri jenis hutan tersebut pepohonannya rimbun, kerapatan pohon sangat tinggi, dan berbagai jenis binatang masih hidup di dalamnya. Di sekitar Desa Sirna Rasa, di mana kampung gede berada, sebagai tempat pusat upacara warga kasepuhan, jenis hutan sebagaimana dikemukakan di atas, terdapat di kawasan Cagar Alam Gunung Halimun (sekarang Taman Nasional Gunung Halimun Salak).
Leuweng Sempalan, adalah suatu jenis hutan yang dapat dieksploitasi manusia secara luas. Pada jenis hutan ini manusia boleh membuka huma atau ladang, menggembalakan ternak (kerbau, kambing, dan domba), mengambil kayu bakar, dan lain-lain. Di wilayah Desa Sirna Rasa jenis hutan ini biasa pula di sebut leuweng bukaan, hutan yang dapat dieksploitasi yang terletak tidak jauh dari tempat pemukiman.

Leuweng titipan, adalah suatu jenis hutan yang diakui oleh semua warga kasepuhan sebagai suatu jenis hutan keramat. Jenis hutan ini tidak boleh dieksploitasi manusia, kecuali atas ijin sesepuh girang. Penggunaan hutan tersebut dimungkinkan apabila telah diterima semacam “wangsit” atau “ilapat” dari nenek moyang mereka melalui sesepuh girang. Di kalangan warga kasepuhan, Gunung Ciawitali dan Gunung Cibareno dipercayai sebagai leuweng titipan.

Kalau kita perhatikan, penggolongan hutan oleh masyarakat kasepuhan hampir sama halnya dengan konsep pengelolaan dan penggolongan hutan secara modern dalam konsep Taman Nasional. Di dalam konsep taman nasional, kita mengenal apa yang disebut sebagai Zona Inti, Zona Penyangga, dan Zona Pemanfaatan. Zona Inti dalam konsep masyarakat kasepuhan adalah leuweng kolot dengan ciri yang sama dan tidak boleh dieksploitasi oleh manusia. Zona Penyangga dapat dikatakan sama fungsinya dengan leuweng titipan yang juga tidak boleh digunakan karena kepentingannya untuk menyangga Zona Inti. Dapat digunakan hanya apabila sudah ada ijin dari yang berwenang. Namun, pada dasarnya kedua jenis hutan ini harus dijaga kelestariannya dan tetap terlindung dari ketamakan manusia agar kehidupan di sekitar kawasan dapat tetap seimbang. Sedangkan Zona Pemanfaatan dapat kita samakan pula dengan leuweng sempalan. Di mana masyarakat sekitar dapat memanfaatkannya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Sistem pengetahuan yang ada pada masyarakat kasepuhan di atas, atau kita sebut sebagai “kearifan lokal” itu, ternyata dapat sejalan dengan prinsip konservasi dan upaya pelestarian lingkungan yang dikelola secara modern. Sistem pengetahuan pada masyarakat tradisional itu tidak lagi dipandang melulu hanya mencipta ketakutan kosong tanpa makna. Di Indonesia, dengan kekayaan yang serupa pada beberapa daerah, sudah seharusnya mengkaji kembali nilai-nilai budaya yang dapat digunakan untuk dapat merangkak maju dan mandiri.

Kabar Pelestarian Lingkungan Hidup: 7

Penguatan Kapasitas Masyarakat: TOT Keorganisasian Masyarakat,  Pembentukan Kelompok Tani, dan Aksi Penanaman Pohon
***
Masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan merupakan tulang punggung bagi terjaganya kelestarian sumber daya alam yang akan memberikan dampak positif terhadap masyarakat itu sendiri dan tentunya juga kita, masyarakat di daerah hilir. Untuk itu, langkah penguatan kelembagaan masyarakat sangat perlu dilakukan guna menunjang peningkatan SDM kelompok masyarakat yang ada menuju kelompok yang mandiri. Konsep penguatan kelembagaan ini adalah suatu sistem bagaimana membangun dan meningkatkan peran, partisipasi dan tanggungjawab masyarakat dengan dukungan para pihak untuk mendukung rencana aksi dari program yang telah direncakan secara terpadu dan berkelanjutan.
Di Kampung Cibeling, melalui fasilitasi dari ESP-USAID, masyarakat telah membentuk Kelompok Swadaya Masyarakat Cinagara Asri. Sementara di Kampung Gunung Batu, melalui fasilitasi dari Mapala UI, telah terbentuk Kelompok Tani Garuda Ngupuk pada 29 Nopember 2008.
Waktu Pelaksanaan
Kegiatan ini dilaksanakan antara 17 Agustus 2008 s.d. 30 Nopember 2008. Pelaksanaan kegiatan dilakukan pada hari Sabtu dan Minggu (akhir pekan). Setiap bulannya hanya dua pekan sekali. Total waktu pelaksanaan adalah 7 pekan atau 14 hari di lapangan yaitu Kampung Gunung Batu, Desa Tangkil, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor.
Tujuan
•    Terbentuknya Kelompok Masyarakat yang secara berkelanjutan dapat mendukung pelaksanaan strategi dan rencana aksi program desa konservasi;
•    Terjalinnya komunikasi yang lebih erat antara kelompok masyarakat dengan pihak mapala UI dalam mengarahkan dan mengembangkan program kerja desa konservasi.
Jumlah Peserta
Peserta keseluruhan dari penduduk Kampung Gunung Batu berjumlah 13 orang yang mewakili tiga sub-kampung yaitu Kampung Gunung Batu Timur, Kampung Gunung Batu Barat, dan Kampung Gunung Batu Utara. Jumlah KK di Kampung Gunung batu sendiri ada 69 KK. Dengan demikian diharapkan 1 orang perwakilan dapat menyampaikan hasil pertemuan kepada 5-6 orang kepala KK lainnya. Continue reading

Kabar Pelestarian Lingkungan Hidup: 6

Lika-Liku Pelaksanaan Program Tahap 2
***
Tahap kedua diadakan setelah rapat triwulan Mapala UI. Ada berbagai masukan soal isu keberlanjutan. Salah satunya dengan mengembangkan potensi yang ada pada masyarakat itu sendiri dan menggalang dukungan dari berbagai  pihak untuk upaya-upaya pelestarian lingkungan. Dan upaya untuk menjamin keberlanjutan dari program yang telah disusun adalah dengan mengorganisir masyarakat dan memberikan keterampilan untuk membantu jalannya program.
Beberapa kegiatan yang direncanakan yaitu TOT Keorganisasian Masyarakat dan Pembentukan Kelompok Tani dengan diselingi aksi penanaman pohon untuk lebih menegaskan tujuan pelestarian lingkungan dari pembentukan kelompok tani.
Kegiatan-kegiatan Pra Pelaksanaan Tahap 2
Temu Mapala Se-Jabodetabeka
Ditjen PHKA Departemen Kehutanan, ESP-USAID bersama Yayasan Prakarsa mempunyai rencana untuk memamerkan sekaligus mencanangkan program Model Desa Konservasi pada hari Rabu, 7 Mei 2008. Dalam keterkaitannya dengan kegiatan di desa konservasi, khususnya di Desa Cinagara dan Desa Tangkil yang juga turut dipamerkan, Mapala UI merasa perlu untuk turut serta dalam kegiatan itu. Mapala UI pun masuk membantu kepanitiaan untuk dokumentasi acara.
Event yang melibatkan berbagai pihak yang berkepentingan dalam pelestarian TNGGP dan taman nasional lainnya ini rasanya sayang kalau dilewatkan begitu saja. Mapala pun mencoba untuk membuat side-event dalam kegiatan ini. Membawa jaringan Mapala Se-Jabodetabeka dalam isu lingkungan rasanya jarang ada dalam pikiran anak-anak Mapala UI saat ini. Untuk mengisi kekosongan itu, kami pun menggandeng jaringan PID Mapala se-Jabodetabeka, salah satu produk dari TWKM Mapala se-Indonesia, untuk turut serta dalam kegiatan itu.
Saat menemui kawan-kawan PID Mapala Se-Jabodetabeka, mereka ternyata sedang mengadakan Rapat Triwulan untuk membahas kegiatan selama kepengurusan tahun ini. Hadir juga disana kawan-kawan Mapala UI yang lain yaitu Rekso dan Ojan yang sedang mengajukan program bersama Mapala Jakarta untuk pelatihan penanggulangan bencana, khususnya banjir Jakarta. Dalam pertemuan tersebut, Mapala se-Jabodetabeka itu sepertinya masih kebingungan mengenai kegiatan-kegiatan ke depannya. Hanya ada rencana aksi saja, entah hari bumi atau hari lingkungan, konsepnya pun belum ada sama sekali.
Kami mencoba mengisi kekosongan. Tanggal 5 Mei 2008 direncanakan akan diadakan rapat lanjutan di Mateksapala Poltekkes Jakarta II. Kami pun menyiapkan seluruh konsep yang telah dibahas di Mapala UI sebelumnya. Kami masuk dalam forum itu dengan cara yang cukup dapat diterima semua pihak. Kami tawarkan program-program mapala kepada mereka. Dan dengan berbagai argumen yang kami kira memang benar-benar mengena dengan ‘hati nurani’ mapala yang hadir, kami terus mencoba menarik kembali seluruh perhatian kawan-kawan saat itu untuk sepenuhnya mendukung program yang kami ajukan. Kami undang mereka agar hadir dalam acara di Departemen Kehutanan. Mereka pun sepakat.
Acara di Departemen Kehutanan dilaksanakan pada tanggal 7 Mei 2008, di Ruang Irjen Dephut, Gedung Manggala Wanabakti Blok I Lantai 10, Jakarta, pada Pukul 14.00-1630 WIB. Acara tersebut kami bungkus dengan nama “Temu Mapala se-Jabodetabeka: Peningkatan Peran Universitas dan Mahasiswa Dalam Pengembangan Desa Konservasi di Daerah Penyangga Taman Nasional”. Tujuannya tidak lain adalah menindaklanjuti pertemuan-pertemuan sebelumnya dan meningkatkan kerjasama antar Mapala Se-Jabodetabeka dalam melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat, terutama yang terkait dengan permasalahan lingkungan hidup di Jabodetabeka dan sekitar kawasan TNGGP dan TNGHS sebagai tempat bermain utama Mapala di Jabodetabeka.
Alhamdulillah, Acara Temu Mapala Se-Jabodetabeka sudah terlaksana dengan segala keterbatasannya. Acara yang dihadiri oleh Bpk. Bambang Sukmananto dari Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGP) dan Bpk. Bambang Suprianto dari Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) serta tidak kurang dari 40 orang Mapala dari 20 Universitas ini telah menjadi awal yang cukup baik untuk membangun jaringan kerja bersama Mapala yang ada di Jabodetabeka. Hasil dari pertemuan lanjutan ini sendiri cukup mencerahkan beberapa anak Mapala dari beberapa universitas yang berbeda. Beberapa orang berniat memotori kegiatan-kegiatan bersama yang terkait dengan kegiatan Lingkungan Hidup dan pengembangan masyarakat daerah penyangga Taman Nasional di Bogor. Rencana tindak lanjut dari pertemuan ini adalah aksi lingkungan hidup tanggal 5 Juni 2008, bersih gunung gede pangrango, dan pengembangan desa konservasi di daerah TNGGP dan TNGHS dengan waktu dan tempat yang disesuaikan dengan hasil riset/yang dikehendaki Mapala UI setelah melalui mekanisme persetujuan PID Mapala se-Jabodetabeka. Continue reading

Kabar Pelestarian Lingkungan Hidup: 5

Pelaksanaan Program Tahap 1: Pengkajian Desa Secara Partisipatif
***
Pelaksanaan program pada tahap ini adalah upaya untuk merumuskan beberapa program berdasarkan kondisi daerah yang menjadi sasaran kegiatan. Hal ini menjadi penting demi keberhasilan dari tujuan program yaitu kawasan TNGGP yang lestari. Di samping juga menciptakan masyarakat yang memiliki kualitas hidup yang lebih baik sehingga menjadi subjek utama dalam pelestarian lingkungannya sendiri.
Waktu dan Lokasi Kegiatan
Kegiatan ini dilaksanakan pada 9 Februari 2008 s.d. 16 Maret 2008. Pelaksanaan kegiatan dilakukan pada hari Sabtu dan Minggu (akhir pekan). Total waktu pelaksanaan adalah 6 pekan atau 12 hari di lapangan yaitu Desa Cinagara dan Desa Tangkil, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor.
Desa Cinagara dan Desa Tangkil ditetapkan sebagai sasaran program berdasarkan pengamatan dari peta TNGGP. Kedua desa ini berbatasan langsung dengan TNGGP dan diantara keduanya mengalir Daerah Aliran Sungai Cinagara yang menjadi salah satu hulu dari Sungai Cisadane. Dua hal itulah yang menjadi alasan utama pemilihan lokasi. Alasan lainnya adalah jaraknya yang tidak begitu jauh dari Depok sehingga pengamatan dan pengawasan program selanjutnya bisa lebih mudah.
Tujuan
Tujuan utama dari tahap ini yaitu:
•    Data yang lengkap mengenai keadaan desa; dan
•    Terbentuknya Rancangan program  khusus untuk Kampung Cibeling, Desa Cinagara dan Kampung Gunung Batu, Desa Tangkil Kecamatan Caringin Bogor.
Jumlah Peserta
Peserta dari Mapala UI yang ikut dalam tahap ini adalah Afif dan Ade Sulaeman. Peserta dari penduduk Kampung Cibeling yaitu:
•    Bpk. Asep;
•    Bpk. Aman;
•    Fadil;
•    Mulyati; dan
•    Rustandi.
Sedangkan peserta dari Kampung Gunung Batu yaitu:
•    Bpk. Adang Kurniawan;
•    Bpk. Upen;
•    Pandi;
•    Bpk. Ujang Marujang; dan
•    Daim Hamdiah.
Dalam tahap ini juga dibantu pendokumentasiannya oleh dua mahasiswa Broadcast UI yaitu Adit dan Ucok.