[Sepatu Lars dan Batu Jalanan] : Di antara barisan kaki-kaki bersepatu lars, batu-batu jalanan berserakan di jalan yang basah seusai bentrokan yang tak tentu arah. Batu-batu jalanan memang tak pernah bisa dijadikan saksi atas segala tindak kekerasan yang terjadi di jalanan. Batu-batu jalanan hanya dapat dijadikan alat bukti dari kekerasan yang menggunakan sifat kerasnya.
Dalam bising yang menjadi hening, batu-batu jalanan seperti berteriak, “STOP KEKERASAN DAN KEMUNAFIKAN!!! AKU TAK INGIN HANCUR BERSAMA KALIAN!!!“.
Dari pengeras suara menara masjid, Sang Ustadz berkata: “Ingatlah, batu-batu yang ada di muka bumi ini akan dijadikan bahan bakar neraka yang akan mencuci manusia dari segala dosa…”.
Ah, sepatu lars, batu jalanan, dan neraka. Jalan hitam para penguasa.
Di dunia ini akan selalu ada kebaikan, demikian juga kejahatan. Yang baik belum tentu menang, dan yang jahat belum tentu kalah. Kita adalah serigala untuk diri kita sendiri. Selalu ada dendam yang harus dibalas, dan darah yang harus dibayar. Perang tidak akan pernah selesai… (Serigala Terakhir)
***
Ya, yang baik belum tentu menang, dan yang jahat belum tentu kalah. Sayangnya, kadang kita tidak pernah tahu lebih awal, yang mana yang baik dan yang jahat. Kita–bisa jadi–bimbang untuk berpihak, untuk bersikap. Tapi, di tengah kekacauan, saat muncul kehendak baik, rasanya kepada siapapun kita curahkan niat baik kita itu akan menjadi embun yang menyejukkan bagi siapapun. Bisa jadi pula, curahan kebaikan itu meleburkan dendam yang keras membatu. Seperti cerita saat itu.
Arsa hanya dapat berdiam diri saja dari atas jembatan itu, menyaksikan batu-batu melayang, parang-parang berkelebat, setelah bosan diacung-acungkan oleh beberapa orang untuk merobohkan tubuh dari lawan masing-masing.
Arsa hanya dapat berdiam diri saja, tidak dapat berbuat banyak. Orang-orang di bawah sana semakin kalap, dan terus saja saling menyerang. Dalam hati Arsa berkata, “Untuk apa? Untuk apa keributan itu mesti mereka lakukan?”
“Mati lu Cung! Mati lu Cung!” tiba-tiba seseorang melintas di depan Arsa dan berteriak dengan keras mengancam sambil mengejar seorang lainnya yang berseragam sama, putih abu-abu. Teriakan itu sangat berbekas dalam kepala Arsa. Arsa ingat betul, setelah teriakan itu golok berhasil melukai badan belakang orang yang dikejar tanpa senjata. Dengan luka di badan orang yang dikejar itu jatuh tersungkur, lalu rebah di aspal.
Arsa mengatakan sudah tak lagi bisa berdiam diri saat itu. Diambilnya balok untuk menghentikan aksi sadis di depan matanya. Tapi, sebelum Arsa bergerak membantu, datang serombongan lainnya dengan batu-batu di tangan. Batu-batu kembali melayang. Seorang yang menggunakan golok terkepung. Di lemparkannya golok yang ada di tangan, lalu ia lari sekencang-kencangnya masuk ke gang-gang perkampungan. Continue reading →
Hari biasa berkata bahwa setiap kali hujan turun, setiap kali itu pula ia dapat melihat wajah-wajah yang kecewa. Tapi, tidak sedikit juga ia lihat wajah-wajah yang tersenyum bahagia. Tersenyum bahagia? Entahlah, tersenyum bahagia atau tersenyum sinis atas kehadiran makhluk bernama hujan yang tak pernah diundangnya. Tapi, bukankah senyum lebih banyak berarti senang dan bahagia? Ah, entahlah. Kalau kalian sempat mampir di halte jalan itu ketika hujan turun, kalian pasti akan melihat bagaimana ragam wajah-wajah itu semua. Atau, jangan-jangan wajah kalian-lah yang diperhatikan Hari selama ini. Wajah yang kecewa di saat hujan turun, wajah yang bahagia di saat air membasahi pohon-pohon akasia dan menggenangi aspal yang makin hitam setelah dipanggang matahari siang tadi.
***
ORANG-ORANG yang lewat jalan itu memang orang-orang yang sibuk. Setiap orang memiliki rutinitas yang padat. Setiap hari-hari mereka selalu penuh dengan jadwal pertemuan dengan rekan bisnisnya. Karena waktu adalah uang, maka tidak boleh ada waktu yang terlewati dengan sia-sia. Apalagi hanya sekedar menunggu hujan reda sambil menikmati kopi hangat yang dijajakan Hari dengan sepeda onthel-nya yang khas.
Kalian tidak akan mendapati orang-orang di sana dalam keadaan diam. Semua serba bergerak cepat, bergerak dinamis. Dinamis? Tunggu, bukankah banyak yang bergerak cepat untuk rutinitas yang sama? Dan bukankah setiap gerak dengan rutinitas yang sama lebih tepat dikatakan sebagai gerak statis? Semua bergerak cepat, tapi statis? Bukankah begitu?
Ah, lagi-lagi entahlah. Yang jelas, jika kalian mampir di halte jalan itu tidak akan kalian dapati orang-orang dalam keadaan diam. Kalaupun diam, kalian akan lihat mereka khusyuk membaca buku-buku motivasinya, atau entah mengerjakan apa dengan laptop mini-nya, barangkali juga sibuk dengan henpon atau blackberry-nya.
Untuk yang terakhir itu, kalau tidak untuk kepentingan bisnis, ya sekedar untuk update status, berbagi cerita tentang rutinitas dan menuangkan segala keluh kesah di situs jejaring sosialnya. Sesibuk dan sekuat apapun manusia itu, bukankah perlu juga waktu untuk berbagi cerita? Jika dapat, juga berkeluh kesah? Continue reading →
Kilas Foto: Produk unggulan dari beberapa perusahaan sepeda motor ternama dalam ajang Jakarta Motor Cycle Show 2010, Jakarta Convention Center (JCC), 5 November 2010. Jakarta Motor Cycle Show 2010 akan berlangsung hingga 7 November.
Kilas Foto: Beberapa model dari perusahaan-perusahaan sepeda motor ternama bergaya di sisi sepeda motor unggulannya dalam ajang Jakarta Motor Cycle Show 2010 di Jakarta Convention Center (JCC), 5 November 2010. Para model atau Sales Promotion Girl (SPG) ini diharapkan oleh penanggung jawab stand dapat meningkatkan promo penjualan produk yang dipamerkan.
Kilas Foto: Beberapa elemen masyarakat, buruh dan mahasiswa melakukan aksi di depan Istana Negara. Kehadiran massa aksi dalam Gerakan 20 Oktober untuk mengkritisi satu tahun pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu Jilid 2, atau pemerintahan Presiden SBY yang ke 2. Aksi berlangsung hingga sore hari dan sempat terjadi kericuhan sehingga aparat keamanan beberapa kali menembakkan gas air mata dan water canon.
Hari ini tidak turun hujan. Tapi langit mendung juga seperti sore-sore sebelumnya. Di bawah langit yang mendung itu berjalanlah seorang laki-laki menuju Stasiun Gambir. Tepatnya di sisi barat Stasiun Gambir, di dekat Monas, di situ ada mushola. Setiap kali lewat, setiap kali itu pula saya melihat laki-laki itu bekerja, mengerjakan apa saja di sana. Saya semakin tidak asing dengan laki-laki yang sehabis bekerja senantiasa duduk di bawah pohon rindang, di dekat mushola itu. Sebut saja, Jali namanya.
“Ya, beginilah. Saya kerjakan apa yang bisa saya kerjakan. Asal bisa ngasih anak saya makan,” kata Jali.
Angin sore itu dingin juga. Pesan minuman yang menghangatkan. Kopi susu segelas, ditambah kacang kulit sebungkus untuk cemilan. “Join join kopi bang…” Kopi segelas diseruput berdua.
Sore yang mendung, angin yang dingin, kopi susu hangat, dan kacang kulit, rasanya masih kurang tanpa obrolan hangat. Si Jali pun akhirnya berbagi cerita.
Katanya, anaknya setahun ini sudah sekolah. Usianya tujuh tahun sudah. Anaknya perempuan, ia selalu sedih melihatnya kalau pulang ke rumah.
Anaknya ini cukup pengertian padanya. Pada apa yang ia kerjakan. Pada apa yang menjadi keterbatasannya. Anaknya ini tak pernah mengeluh. Soal seragam yang lusuh, soal sepatu yang bekas. Hanya senyum saja padanya setiap kali ia pulang dan menemuinya.
Setiap kali ia melihat senyum anaknya, setiap kali itu pula ia ingat pada ibu dari anaknya itu yang kini entah ke mana dalam kemiskinannya, dalam kekurangan hartanya. Entah kemana istrinya pergi. Katanya, pulang ke rumah ibunya, mertuanya yang juga miskin. Dari sana, istrinya pergi ke negeri seberang, jadi TKW. Kalau ditanya soal istrinya, ia kangen juga. Dan jadi merasa betapa bodohnya ia sebagai laki-laki yang tak mampu mencukupi kebutuhan keluarga.
Tapi, setiap kali ia termenung di rumah, anaknya selalu menghiburnya. Ia jadi semakin merasa bersalah. Mengapa ia tak mampu membahagiakannya?
Langit semakin gelap. Cerita Jali terhenti. Sambil memisahkan kacang dari kulitnya, kami menengok ke televisi. Dua biji kacang masuk ke mulut saya. Di sudut warung, di televisi yang tak pernah dimatikan itu, politikus berbicara seenak mulutnya saja. Sementara di Makassar sana, demonstrasi mahasiswa diwarnai bentrok dengan polisi, dan demonstrasi pun semakin menjadi-jadi. Presiden ditolak hadir di wilayahnya sendiri? Emm, alangkah lucunya negeri ini..
Ya, besok setahun sudah pemerintahan berjalan di bawah kepemimpinan SBY yang kedua. Ada yang kecewa, ingin mengadakan aksi massa. Tapi, di sini, saya tetap mendengarkan Jali melanjutkan ceritanya. Sambil terus menyeruput kopi susu hingga habis.
Fool to cry-nya Rolling Stones, kembali menemani saya merumuskan perencanaan-perencanaan. Membuat langkah-langkah kecil untuk mewujudkan impian. Agar hidup tak cuma habis selesai di kuburan.
Dengarkan saya Bung Jali… Fool to cry! Apa yang mesti kita tangisi, malam ini?
[Suasana malam akhir pekan di kawasan Kota Tua, Jakarta] Meskipun namanya Kota Tua, saban malam Minggu justru anak-anak muda dari berbagai penjuru kota Jakarta dan sekitarnya datang meramaikan tempat ini.
Ada yang sekedar jalan-jalan sambil bergandengan tangan, nongkrong-nongkrong bareng teman, berfoto-foto ria di gedung-gedung tua buat fesbukan, main skate board di pembatas-pembatas parkiran, sepedaan keliling kawasan, bermusik ‘nggak karuan, atau lihat atraksi yang kadang rutin ditampilkan, serta bermacam lain tujuan.
Kalau yang lebih serius lagi ada juga yang menyelami sejarahnya dengan berwisata malam di museum-museum yang ada, misalnya di museum Bank Mandiri. Continue reading →
Pekerja pembuat dodol mengaduk dodol yang sudah mengental. Produksi dodol betawi sudah sulit sekali untuk ditemui. Para pembuat dodol betawi biasanya meningkatkan kegiatan produksinya hanya pada waktu menjelang lebaran. Seperti yang dilakukan oleh Ibu Nining, pembuat dan penjual dodol di Kebagusan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.
***
Sewaktu saya kecil, saat keluarga saya masih tinggal di daerah Jati Padang Pasar Minggu, Jakarta Selatan, setiap bulan Ramadhan menjelang lebaran, saya bisa ikut sibuk menyaksikan proses pembuatan dodol betawi. Dodol betawi bagi saya bukan sekedar tepung ketan yang dicampur dengan gula merah dan santan kelapa. Tetapi lebih dari itu. Dodol betawi menyimpan kenangan akan ikatan kebersamaan yang kini saya rasakan sangat berkurang.
Dulu, biasanya yang rutin membuat dodol adalah keluarga Mak Encah, kakak dari bapak saya. Sedikitnya ia membuat satu kuali yang bisa jadi cukup untuk dibagikan kepada keluarga besar baik saudara kandung, besan, dan sepupu serta tetangga saat lebaran tiba.
Saya masih ingat, di halaman rumah Mak Encah yang dulunya lebar, kami berkumpul bersama. Orang-orang perempuan ada yang memarut kelapa, ada yang menyalakan kayu bakar. Ada pula yang mengiris-iris gula merah. Dan ada pula yang mangayak tepung ketan. Di halaman itu bukan hanya keluarga, tetapi juga tetangga yang dekat berkumpul bersama.
Kalau adonan sudah dicampur di dalam kuali, di atas api yang terus menyala selama kurang lebih sepuluh jam, di situlah giliran orang-orang laki turun tangan. Continue reading →
22 Agustus 2010. Minggu sore menjelang senja. Matahari merah senja di ufuk barat Jakarta dapat menjadi teman yang baik untuk bernostalgia tentang kita dan Jakarta, tentang cinta dan karya.
***
Reguk semangat hari. Jika dapat jangan lupakan itu Diponegoro, duduk-duduklah di Taman Suropati. Sambil mengingat-ingat siapa itu yang berjuang dengan pedang dan kuda, dengan jubah dan sorban. Begitulah. Dalam putaran sejarah, memang selalu ada kekalahan, ada pula kemenangan, dan ada pula waktu untuk permenungan. Bila sudut kamar begitu menyesakkan, jangan lupakan taman-taman hijau kotamu, kawan. Continue reading →