Hari Ini, Satu Tahun Yang Lalu

Dalam hidup ini banyak hal yang tidak dapat kita duga dengan pasti. Rejeki, jodoh, dan ajal. Tapi, ketidakpastian akan hal itu justru membuat hidup menjadi begitu bergairah. Saya tidak dapat membayangkan orang yang dapat hidup dengan segala kepastian atas tiga hal itu. Ah, betapa membosankannya, tanpa rasa lelah dalam mencari, tanpa rasa bimbang dalam memilih, dan tanpa rasa takut akan datangnya waktu ajal yang begitu manusiawi.

Menjalani hidup dalam ketidakpastian itu sungguh mengasyikkan. Hari-hari seperti sebuah petualangan mengungkap misteri. Dan, siapa sangka seseorang dengan jarak yang begitu jauh dan tidak pernah saling mengenal pada tahun-tahun sebelumnya, kini mereka sedang memadu kasih, menjalin asmara, dan berharap dapat membangun keluarga bahagia dalam tali ikatan pernikahan. Begitu cepat, dan tidak pernah terduga. Hemm, betapa indahnya ketika kehidupan tetap menyimpan misterinya sendiri. Dan kita mesti mengungkap misteri hari esok hanya dengan satu cara, menjalaninya.

Seperti satu tahun yang lalu, kamu tidak pernah tahu pasti apakah kamu dapat menapaki Mahameru atau tidak. Tapi, kamu berhasil mengungkap ketidakpastian dengan terus menjalaninya. Dengan rasa lelah, dengan rasa bimbang, dengan rasa takut.

Hari ini, satu tahun yang lalu, kamu ingat? Continue reading

Karena Cinta Kita Bukan Cinta Angka Kemenangan

Alun-alun Sidoarjo tampak begitu indah sore itu. Orang-orang berlalu lalang dengan kegembiraan yang sama sekali lain. Pertandingan sepak bola antara Indonesia vs Malaysia tidak sepenuhnya menarik perhatian mereka yang lalu-lalang, hanya segelintir saja yang benar-benar duduk memperhatikan kotak kecil bernama televisi di tengah lapangan yang di sisinya tukang obat alternatif berteriak-teriak mencari perhatian. Saya sempat berprasangka buruk tentang tukang obat itu, sama seperti saat saya berprasangka buruk mengenai para politisi dan berita sepak bola kita hari-hari terakhir ini.

Tapi, sudahlah. Saya dan kamu hanya melintas saja, berjalan-jalan menghabiskan waktu berdua, saling berbagi cerita, dan tentu saja berusaha mengerti apa itu cinta. Di alun-alun, langit yang gelap ditantang gemerlap lampu-lampu kecil aneka warna. (Sayang, di luar sana sudah terlalu banyak kebohongan, kepura-puraan, juga kekerasan…)

Lalu, angin berhembus pelan. Rintik air begitu halus turun membasahi jalan dan rerumputan. Para pengamen datang bergantian, anak-anak, kaum muda, orang-orang tua. Di depan mereka, para pejabat dan tamu undangan duduk penuh bangga. Dijaga petugas keamanan yang resah, mengapa tidak juga ada gol lalu semua tertawa dan bergembira bersama, pejabat dan tamu undangan, para pedagang, pengamen yang anak-anak, yang muda, yang orang tua. (Sayang, sebisa mungkin kita curahkan cinta dan sayang kita di lingkungan kecil kita, rumah kita. Cinta yang sepenuhnya untuk kita, untuk anak-anak kita, untuk keluarga kecil kita, kelak. Dan kita mesti mendidik diri kita, dalam hubungan kita saat ini, untuk dapat saling jujur, sederhana, dan tanpa kepura-puraan, tulus dalam cinta…)

Setelah tendangan bola yang mesti dibalas tendangan terarah, menuju gawang yang entah akan masuk atau tidak, aku yang tersenyum kau balas dengan senyuman, berusaha mengerti arti tujuan hidup bersama. Lalu, semua pulang, sayang.. Ah, apalah artinya angka 3-0 malam itu, karena kita hanya ingin mengerti cinta, belajar jujur, sederhana, dan tanpa kepura-puraan. Tak perlu kecewa, karena lampu-lampu aneka warna tetap bersinar indah di bawah langit gelap, anak-anak tetap bermain, bergembira dan tertawa.

Pukul sembilan, detik jarum jam terus berputar. Lalu, kita duduk berdua, di atas roda dua, di atas roda yang berputar. Kita tidak begitu kecewa, karena cinta kita bukan cinta angka kemenangan dalam pertandingan. Cinta kita adalah saling berbagi dan menerima dengan jujur, sederhana, dan tanpa kepura-puraan, dalam kalah, dalam menang, dalam susah, dalam gembira. Bukankah begitu, sayang?

Impian Kampung CerDig, Berbagi dan Menginspirasi!

This slideshow requires JavaScript.

Kilas Foto: Kegiatan belajar bersama antara relawan dengan anak-anak dan masyarakat di Kampung Gunung Batu. Kelak kami akan ‘menjuluki’ kampung ini dengan Kampung CerDig, Kampung Cerita Digital, tempat lahirnya cerita-cerita digital yang menginspirasi masyarakat luas untuk terus maju bersama-sama dengan semangat berbagi. Berbagi dan menginspirasi!
***
Kalau Anda main ke Bogor, mampir-mampirlah ke Kampung Gunung Batu, Desa Tangkil, Kecamatan Caringin. Dari Ciawi, Anda bisa naik bus, angkot, atau kendaraan Anda sendiri ke arah Sukabumi. Jangan sampai terlewat, berhentilah di Sempur, Desa Cinagara. Kemudian belok ke kiri, ke Timur, ikutilah jalan Desa Cinagara sampai ujung aspalnya di Desa Tangkil. Parkirlah kendaraan Anda di satu lahan kosong di sana. Dari tempat parkir itu, Anda bisa berjalan kaki mengikuti jalan setapak menuju Kampung Gunung Batu. Hati-hati jika tanah masih basah sehabis hujan, karena sudah pasti sangat becek dan licin. Tapi, pemandangannya cukup indah koq, rasa takut kadang hilang melihat indahnya sawah yang terbentang dan gunung-gunung yang menjulang.
Oh iya, jika Anda menggunakan kendaraan umum, dari Sempur Anda bisa menggunakan ojeg motor. Kalau musim panas, ojeg motor mau mengantarkan sampai ke kampung ini. Tapi kalau musim hujan, ojeg motor hanya dapat mengantar sampai batas aspal saja. Alasannya, tanahnya becek dan licin, bentangan alamnya juga berbukit-bukit, membuat ojeg takut jatuh dan tergelincir.
***
Emm, Anda blogger? Atau aktifis di jejaring sosial? Kalau Anda berkunjung ke daerah ini setahun yang lalu, dan Anda ingin selalu berseluncur di dunia maya kapan saja dan di mana saja, selain membawa laptop plus modemnya, atau blackberry, atau barangkali hanya henpon biasa yang di dalamnya terdapat fasilitas untuk fesbukan dan chatting, Anda tidak boleh lupa untuk mengisi baterainya penuh-penuh sebelum berkunjung ke kampung ini. Karena setahun yang lalu belum ada listrik yang masuk ke daerah ini.
Waktu pertama kalinya saya ke kampung ini pada akhir tahun 2007, saya merasa sangat terbatas dengan keadaan kampung yang tanpa listrik. Ingin menulis di laptop hanya bertahan satu-dua jam. Ingin berkomunikasi dengan henpon, baterainya hanya bertahan satu-dua hari. Selanjutnya, harus turun gunung, pindah ke kampung sebelah, isi ulang baterai dah… Continue reading

Mengambil Hikmah dari Jamur

***
Kawan-kawan seperjalanan saya nampaknya sudah ‘kesal’ juga dengan sikap saya dalam pendakian siang itu. Setiap kali melihat jamur di sepanjang jalur menuju Puncak Pangrango, saya langsung mengarahkan kamera ke jamur yang menarik perhatian saya. Jeprat-jepret sana-sini dari berbagai penjuru seperti seorang fotografer professional (fiuhh.. masih jauh untuk dikatakan sebagai fotografer). Merebahkan badan, tengkurap, mencari posisi terbaik untuk mendapatkan gambar jamur yang kadang tersembunyi di dalam ruang pada batang pohon yang sudah lapuk, busuk dan rapuh.
***
SUDAH berkali-kali saya berlaku seperti itu. Itu berarti pula saya harus berkali-kali ditinggalkan kawan sependakian saya, sendiri, menikmati indah paras jamur warna-warni. Mungkin penjelasan saya kurang dipahami oleh kawan saya saat akan memulai perjalanan pada pagi harinya. Saya sudah katakan bahwa dalam pendakian hari itu saya sedang ingin memotret lebih banyak objek-objek yang selama ini luput dari perhatian kami saat melakukan pendakian.
Saat saya sampaikan hal itu, saya berharap kawan-kawan saya akan lebih peka memperhatikan apa-apa yang ada di lingkungan sekitar yang jarang kami perhatikan. Mungkin saja ada hewan yang jarang kami lihat, serangga-serangga kecil yang menarik, bunga-bunga yang indah, atau jamur-jamur yang beraneka warna. Untuk kemudian berhenti sejenak, mencari sisi indahnya, menikmatinya, lalu memotretnya. Sesuatu yang jarang kami lakukan. Berharap semoga akan menambah bumbu-bumbu cerita jika ada yang bertanya soal pendakian kami saat itu—memang selalu ada tanya dan cerita untuk setiap perjalanan kami, biasanya begitu!—.
Untunglah, meskipun tidak memahami keinginan saya, saat itu kawan-kawan saya tidak terlalu cerewet ketika saya tetap melakukan apa yang menjadi tujuan saya. Continue reading

Menghadapi Ketakutan

***
Dinda selalu menegakkan pandangannya setiap kali saya menengok ke belakang, dalam pendakian ke Semeru, yang juga merupakan pendakian gunung pertamanya. Di sepanjang jalan menuju Kalimati, saya tidak mendengar satu pun keluhan dari dirinya soal rasa lelah dan juga rasa takut yang biasa menyelinap dalam hati seorang perempuan, barangkali juga dalam hati setiap laki-laki dan perempuan, di saat malam gelap datang di tengah-tengah hutan yang tinggi dan jauh dari keramaian. Hanya kami bertiga diselimuti hembusan angin yang dingin dan sepi.
***
SETIAP kali saya menengok ke belakang, saya selalu disuguhkan dengan senyumnya, yang barangkali pada beberapa jalan terjal mendaki terkesan dipaksakan agar dapat memberikan dorongan semangat kepada sahabat seperjalanannya. Di depannya, saya jadi tidak ingin membuatnya kecewa. Mungkin inilah satu-satunya ketakutan saya saat itu, tidak ingin membuat dia dan juga sahabatnya kecewa. Semangat saya yang hampir redup kembali terang dalam gelapnya malam karena percikan api semangatnya yang begitu besar.
Setelah hari itu, saya jadi mengaguminya, terlebih setelah berjalan bersama menuju Mahameru. Semangat untuk mencapai keinginannya cukup kuat. Ketika dia-barangkali-sudah lelah, dia berjalan di belakang, menunduk sejenak, namun tanpa keluh. Tidak rebah ke tanah, tidak pasrah menyerah. Saya kagum melihat gairah semangat seperti itu.
Saat saya katakan, “Barangkali kita tak akan sampai ke puncak”, dia juga enggan menyerah. Kami akhirnya sampai puncak, dengan menyadari segala resiko bahaya yang mungkin datang, karena saat itu sudah pukul 10 pagi, dan selalu kami dengar pada jam-jam itu racun yang menakutkan para pendaki bisa saja muncul. Tapi toh kami sampai ke puncak, pukul 10 pagi, di saat langit benar-benar cerah dan puncak-puncak gunung lainnya terlihat biru kehijau-hijauan seperti safir yang berkilauan di bawah sinar matahari yang cerah. Continue reading

Hujan Di Halte Jalan Itu

***
Hari biasa berkata bahwa setiap kali hujan turun, setiap kali itu pula ia dapat melihat wajah-wajah yang kecewa. Tapi, tidak sedikit juga ia lihat wajah-wajah yang tersenyum bahagia. Tersenyum bahagia? Entahlah, tersenyum bahagia atau tersenyum sinis atas kehadiran makhluk bernama hujan yang tak pernah diundangnya. Tapi, bukankah senyum lebih banyak berarti senang dan bahagia? Ah, entahlah. Kalau kalian sempat mampir di halte jalan itu ketika hujan turun, kalian pasti akan melihat bagaimana ragam wajah-wajah itu semua. Atau, jangan-jangan wajah kalian-lah yang diperhatikan Hari selama ini. Wajah yang kecewa di saat hujan turun, wajah yang bahagia di saat air membasahi pohon-pohon akasia dan menggenangi aspal yang makin hitam setelah dipanggang matahari siang tadi.
***
ORANG-ORANG yang lewat jalan itu memang orang-orang yang sibuk. Setiap orang memiliki rutinitas yang padat. Setiap hari-hari mereka selalu penuh dengan jadwal pertemuan dengan rekan bisnisnya. Karena waktu adalah uang, maka tidak boleh ada waktu yang terlewati dengan sia-sia. Apalagi hanya sekedar menunggu hujan reda sambil menikmati kopi hangat yang dijajakan Hari dengan sepeda onthel-nya yang khas.
Kalian tidak akan mendapati orang-orang di sana dalam keadaan diam. Semua serba bergerak cepat, bergerak dinamis. Dinamis? Tunggu, bukankah banyak yang bergerak cepat untuk rutinitas yang sama? Dan bukankah setiap gerak dengan rutinitas yang sama lebih tepat dikatakan sebagai gerak statis? Semua bergerak cepat, tapi statis? Bukankah begitu?
Ah, lagi-lagi entahlah. Yang jelas, jika kalian mampir di halte jalan itu tidak akan kalian dapati orang-orang dalam keadaan diam. Kalaupun diam, kalian akan lihat mereka khusyuk membaca buku-buku motivasinya, atau entah mengerjakan apa dengan laptop mini-nya, barangkali juga sibuk dengan henpon atau blackberry­-nya.
Untuk yang terakhir itu, kalau tidak untuk kepentingan bisnis, ya sekedar untuk update status, berbagi cerita tentang rutinitas dan menuangkan segala keluh kesah di situs jejaring sosialnya. Sesibuk dan sekuat apapun manusia itu, bukankah perlu juga waktu untuk berbagi cerita? Jika dapat, juga berkeluh kesah? Continue reading

Qurban Menjangan

 
***
Seiring dengan terbenamnya matahari maka rezim cahaya merah di ufuk barat perlahan-lahan digulingkan tirani hitam kelabu. Ahmad menyaksikan sedikit permainan kekuasaan Tuhan yang cukup menawan itu, pergantian warna langit dari merah keemasan menuju hitam kelabu, senjakala. Usai senjakala, pada gelap malam yang sempurna, biasanya muncul berjuta bintang yang terlihat berwarna biru. Tapi, tetap saja bulan yang sendiri kadang lebih indah dengan cahaya kuningnya.
***
AHMAD biasa menyaksikan semua itu dari atas bukit yang tak jauh dari belakang rumahnya. Matanya kadang-kadang terasa sakit setelah menyaksikan keindahan cahaya senja. Ah, bukankah memang keindahan dan rasa sakit sering datang bergilir bagi penduduk kampung. Entah yang mana yang akan datang lebih dahulu, tak pernah terlalu mereka risaukan, tak pernah terlalu disikapi berlebihan. Sebagaimana mereka tak pernah mengeluh lelah ketika mesti mengolah tanah berbulan-bulan, dan tak juga terlalu bergembira ketika masa panen tiba. Semua disikapi sewajarnya saja, sederhana saja. Karena itu pula Ahmad tak pernah mengeluh soal sakit matanya.
Setelah puas menyaksikan rutinitas alam di sore hari yang selalu diiringi dengan suara bedug yang bergema ke seluruh penjuru kampung, Ahmad segera bergegas menuruni bukit. Disusurinya jalan setapak menuju masjid tempat ia biasa mengerjakan sholat Maghrib dan Isya berjamaah. Waktu sholat berjamaah bagi Ahmad adalah waktu yang sangat menyenangkan. Selain ramai dengan penduduk kampung yang berkumpul setelah seharian berada di ladang dan sawah, usai sholat berjamaah ia juga dapat bermain-main dengan teman sebayanya. Tetapi, seringkali anak-anak bermain-main tanpa tahu waktu. Membuat orang-orang tua menjadi jengkel karena merasa kekhusyukan ibadahnya terganggu oleh canda yang dibuat oleh anak-anak saat sholat sedang berlangsung.
Sebelum sampai masjid, di bawah bukit di tepi sawah yang diolah oleh guru mengajinya, Ahmad berhenti untuk menyucikan dirinya dengan air segar yang mengucur dari potongan bambu yang ditancapkan di tanah, di dinding parit yang lebih tinggi di sisi timur persawahan. Ahmad lebih senang berwudhu di tempat itu daripada di masjid. Menurutnya, airnya lebih jernih dan lebih menyejukkan dibandingkan dengan air yang terdapat di masjid yang kadang sudah bercampur lumpur dan buangan air kumur para jamaah yang berwudhu di sana. Selain itu, ia bisa lebih bebas karena berada di ruang terbuka dan tak ada orang-orang tua yang akan segera mengusirnya kalau ia justru asyik bermain-main air bersama teman-temannya saat berwudhu. Continue reading

Pe-photo-an di Jakarta Motor Cycle Show 2010 (2)

This slideshow requires JavaScript.

Kilas Foto: Produk unggulan dari beberapa perusahaan sepeda motor ternama dalam ajang Jakarta Motor Cycle Show 2010, Jakarta Convention Center (JCC), 5 November 2010. Jakarta Motor Cycle Show 2010 akan berlangsung hingga 7 November.

Pe-photo-an di Jakarta Motor Cycle Show 2010

This slideshow requires JavaScript.

Kilas Foto: Beberapa model dari perusahaan-perusahaan sepeda motor ternama bergaya di sisi sepeda motor unggulannya dalam ajang Jakarta Motor Cycle Show 2010 di Jakarta Convention Center (JCC), 5 November 2010. Para model atau Sales Promotion Girl (SPG) ini diharapkan oleh penanggung jawab stand dapat meningkatkan promo penjualan produk yang dipamerkan.