Peristiwa 11 September 2001, yang menghancurkan menara kembar World Trade Center (WTC) dan sebagian Pentagon di Amerika Serikat, telah membawa dampak besar terhadap kehidupan masyarakat dunia. Al Qaeda dengan tokohnya, Osama bin Laden mengaku bertanggungjawab atas peristiwa itu. Al Qaeda disinyalir memiliki jaringan internasional bersama Jamaah Islamiyah. Sejak itu pula, terorisme selalu dikaitkan dengan gerakan Islam dan muncul istilah Islam Radikal, Ekstremis, Fundamentalis, dan lainnya. Karena jaringannya bersifat internasional, maka perang melawan teror ini harus melibatkan masyarakat dunia.
Yang menarik, sekalipun telah ada pengakuan dari Osama mengenai peristiwa 11 September, beberapa peneliti dan orang-orang yang menggeluti teori konspirasi, masih meragukan kebenarannya. Teori-teori mengenai rekayasa peristiwa itu pun telah banyak beredar. Beberapa peneliti muslim juga tertarik untuk menguak misteri peristiwa yang telah membawa dampak besar bagi umat Islam. Salah satu dari peneliti muslim itu adalah Dr. Muhammad Abdullah Sallomi.
Alhamdulillah, pada Senin 5 April 2010, saya dapat bertemu Dr. Sallomi. Siang hari itu, secara tiba-tiba Dr. Sallomi datang bersilaturahmi ke kantor MTDK PP Muhammadiyah Jakarta. Di MTDK, Dr. Sallomi diterima oleh wakil sekretaris MTDK, Risman Muchtar. Sebelumnya, Dr. Sallomi juga telah bersilaturahmi ke beberapa organisasi Islam lainnya di Indonesia.
Mengenai kedatangannya yang mendadak itu, Dr. Sallomi mengungkapkan bahwa tujuan kedatangannya antara lain untuk melihat kondisi Islam di Indonesia, terutama mengenai perkembangan organisasi Islam yang ada. Hal itu dilakukan terkait dengan penelitiannya mengenai korban-korban tak bersalah dari isu terorisme global, yang diantara korban-korban itu adalah organisasi Islam dengan dibekukannya dana-dana mereka. Di samping itu, ia juga sedang menyusun data tentang organisasi Islam yang ada di Asia. Salah satunya adalah Muhammadiyah.
Di dalam kunjungannya, Dr. Sallomi memberikan beberapa buah buku. Salah satunya adalah buku berjudul “Innocent Victims in the Global War on Terror”, diterbitkan oleh Penerbit Ghainaa pada 2006 lalu. Buku ini diterbitkan pertama kali dalam Bahasa Arab dan telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris, Perancis, dan Jerman. Buku ini merupakan hasil penelitiannya mengenai peristiwa 11 September dan dampaknya bagi organisasi-organisasi Islam di dunia. Perbincangan pun akhirnya banyak membahas tentang isi buku yang telah mendapat sambutan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) serta isu lain yang terkait.
Dr. Sallomi mengatakan bahwa organisasi Islam atau bisa juga disebut Non Government Organization (NGO) merupakan elemen ketiga di dalam suatu Negara yang telah banyak berkontribusi bagi pembangunan suatu Negara dan dakwah Islam. Menurutnya, kekuatan pembangunan dan dakwah Islam di banyak negara lebih banyak berada di tangan organisasi-organisasi Islam dan bukan pada pemerintah. Dalam bukunya, ia juga menyajikan contoh-contoh dan hasil kontribusi positif dari organisasi-organisasi Islam.
Mengenai peristiwa 11 September, Dr. Sallomi mengatakan bahwa dari kelompok yang memusuhi Islam mempunyai target pada tahun 2000 umat Islam berkurang dan Islam termarjinalkan. Namun, sampai tahun tersebut mereka tidak juga berhasil melemahkan Islam. Karena itu, peristiwa 11 September dimanfaatkan untuk melemahkan Islam dengan berbagai cara. Isu yang berhasil diusung adalah membangun imej buruk tentang Islam, yaitu mengidentikkan Islam dengan terorisme. Beberapa organisasi Islam pun banyak yang dituduh terkait dengan jaringan teroris.
Amerika Serikat dan negara-negara Barat membekukan dana organisasi Islam, dan Organisasi Amal Muslim, di bawah dalih bahwa mereka membiayai terorisme. Satu hal yang dapat dimengerti dengan sangat jelas, melalui studinya itu, bahwa salah satu tujuan Israel dan Amerika Serikat adalah untuk menutup semua keuangan NGO dan bantuan kemanusiaan kepada para korban dari “Perang Global Melawan Teror”, yang tidak lain adalah organisasi-organisasi Islam. Pembatasan ini merupakan bagian dari perang yang dilancarkan oleh Israel dan Amerika Serikat pada berbagai front. Mereka menyerang sebuah negara, penduduknya kelaparan, dan menunggu mereka untuk menyerah. Sementara organisasi-organisasi Islam dibuat tidak berdaya menghadapi situasi yang terjadi dengan dibekukannya dana-dana mereka.
Padahal, The 9/11 Commission Report bab ketujuh mengungkapkan penekanan eksplisit bahwa tuduhan terhadap amal Islam tidak hanya palsu tapi inexistent. Dilihat dari laporan ini, jelaslah bahwa pemerintah AS tidak memiliki bukti apapun atas tuduhan itu. Tuduhan yang hanya didasarkan pada laporan yang tidak memiliki fakta apapun atau peristiwa yang dapat mendakwa mereka. Padahal, dunia hukum di manapun mengenal aturan: ”tidak bersalah sampai terbukti bersalah.”
Dr. Sallomi juga mengungkapkan bahwa Israel merupakan negara yang hidup dari dana-dana bantuan yang cukup besar. Bahkan, Israel merupakan salah satu negara yang memiliki pendapatan dari dana bantuan yang lebih besar dibandingkan dengan pajak dalam negerinya sendiri. Ini menjadi tidak adil ketika pasca peristiwa 11 September dana-dana bantuan kemanusiaan kepada organisasi Islam di Palestina, misalnya Hamas, dibekukan sebagai bagian dari langkah Amerika Serikat dan Israel melawan terorisme. Oleh karena itu, adalah wajar apabila banyak yang menilai bahwa isu terorisme yang terus dihembuskan pasca peristiwa 11 September merupakan rekayasa internasional yang ingin menghambat pembangunan dan dakwah Islam. (fms)
Category Archives: Buku
Menyentuh Yang Niskala
Buku ini diterjemahkan dengan baik oleh seorang pendaki gunung dan pemanjat tebing serta jurnalis yang cukup saya segani, Adi Seno. Karena saya pikir buku ini layak dibaca oleh mereka yang dekat dengan saya, maka tidak ada salahnya apabila saya hadirkan pula di dalam blog ini tulisan yang juga telah dihadirkan oleh penerbit di situs lainnya. Sekedar untuk menambah akses pencarian informasi dan juga membantu promosi. Bukan promosi bukunya, tetapi kisah yang disampaikannya. Salam!
Pada Juni 1985 Joe Simpson dan Simon Yates, dua pendaki muda namun berpengalaman asal Inggris, mendaki Dinding Barat Siula Grande yang perawan di pedalaman Pegunungan Andes, Peru.
Tak lama setelah mencapai puncak setinggi 6.300 meter di atas permukaan laut itu, mereka terperosok ke jurang. Sedemikian gawat situasi yang mereka hadapi berdua sampai-sampai Simon harus mengambil keputusan makan buah simalakama: pilih potong tali penahan tubuh Joe atau mati bersama. Simon Yates pun akhirnya memutuskan tali penahan sehingga tubuh Joe meluncur ke jurang yang tak terlihat dasarnya.
Simon berhasil turun dan selamat sampai di kemah-induk dalam kondisi tubuh lelah, jemari terserang radang beku, dan dicengkeram perasaan bersalah selama tiga hari di dalam kemah. Simon mengira Joe sudah tewas.
Pada dinihari menjelang pulang, Simon menemukan Joe terbaring di dekat perkemahan dalam kondisi kaki kanan remuk. Sungguh susah masuk di akal, Joe ternyata berhasil keluar dari jurang dan merangkak turun 1.000 meter sampai ke kemah-induk, tanpa makanan dan menembus badai-salju.
Buku ini tidak sekadar memamerkan perjuangan seorang pendaki gunung keluar dari suasana hidup-mati, tapi juga penderitaan dan keteguhan hati sampai tandas.
Ditulis dalam bahasa yang memukau, tak heran bila buku ini menerima Boardman Tasker Award 1988. Boardman Tasker Award adalah penghargaan untuk kisah pendakian gunung yang bernilai sastra. Buku ini kemudian diangkat ke layar-lebar dengan sutradara Kevin McDonald. Pada 2004 film ini memperoleh BAFTA Award.
“Kisah yang cemerlang, gamblang, mencekam, dan mendebarkan tentang petualangan mereka yang mengerikan… Ditulis dengan amat menawan.”
- Sunday Express
“Buku tentang pendakian gunung yang sungguh klasik… Kisah tentang penderitaan dan ketabahan yang benar-benar mengagumkan.”
- Sunday Times
Pengarang : Joe Simpson | Penerbit : Gramedia
Kategori : – Novel Terjemahan
Berburu Nyali di Tebing Emas

Penulis : Dadang Sukandar
Penerbit : Penerbit ANDI, 2006
Jumlah halaman : v+89
Selalu ada kisah menarik dibalik suatu kegiatan. Dadang Sukandar seorang pegiat olah raga alam bebas menuturkan pengalamannya lewat buku mungilnya. Dadang, yang merupakan Jebolan MAPALA UI serta pencinta Alamnya SMU 13 ini banyak menceritakan pengalamannya yang berkaitan dengan aktifitas alam bebas.
Buku ini tidak seperti menggurui, buku ini pun tidak seperti Diktat Kegiatan Alam bebas yang menjemukan. Lebih jauh, buku ini merupakan catatan perjalanan suatu kegiatan. Sesekali terselip pengalaman yang patut kita renungkan.
Meskipun buku ini berlatar belakang petualang alam, buku ini juga banyak mengulas pengalaman di kota dan pedesaan. Singkatnya, buku ini penting dibaca bagi para pegiat alam bebas, agar dapat memaknai setiap kegiatan dan perjalanannya.
Source: plassoke.blogjurnalistikonlain.com
