Seperempat Abad Tragedi Tanjung Priok, 12 September 1984

Bagi masyarakat dunia, September mengingatkan akan tragedi kemanusiaan 11 September. Dimana bagi sebagian orang barangkali masih mengasosiasikan aksi itu dengan aksi keji kelompok Islam ekstrem yang salah jalan. Mengaitkan antara September, tragedi kemanusiaan, dan Islam di Indonesia juga ada ingatan kolektif mengenai Tragedi Tanjung Priok yang terjadi tepat seperempat abad yang lalu atau tepat dua puluh lima tahun yang lalu. Bukan bermaksud untuk menguak luka lama bagi umat Islam Indonesia, tetapi ingatan ini penting untuk diingat dan menjadi pelajaran agar kita dapat berhati-hati dalam proses bernegara di negeri ini. Seperti kata Bung Karno, Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah!

Kisah*) mengenai tragedi ini dimulai pada Senin, 10 September 1984. Seorang oknum ABRI, Sersan Satu Hermanu yang diketahui non-Islam, mendatangi mushala As-Sa’adah untuk menyita pamflet berbau ‘SARA’. Namun tindakan Sersan Hermanu sangat menyinggung perasaan ummat Islam. Ia masuk ke dalam masjid tanpa melepas sepatu, menyiram dinding mushala dengan air got, bahkan menginjak Al-Qur’an. Warga marah dan motor Hermanu dibakar. Buntutnya, empat orang pengurus mushala diciduk Kodim. Upaya persuasif yang dilakukan ulama tidak mendapat respon dari aparat. Malah mereka memprovokasi dengan mempertontonkan salah seorang pengurus mushola yang ditahan itu, dengan tubuh penuh luka akibat siksaan.

Rabu, 12 September 1984. Mubaligh Abdul Qodir Djaelani membuat pernyataan yang menentang azas tunggal Pancasila. Malamnya, di Jalan Sindang, Tanjung Priok, diadakan tabligh. Ribuan orang berkumpul dengan semangat membara, disemangati khotbah dari Amir Biki, Syarifin Maloko, Yayan Hendrayana, dll. Tuntutan agar aparat melepas empat orang yang ditahan terdengar semakin keras. Amir Biki dalam khotbahnya berkata dengan suara bergetar, “Saya beritahu Kodim, bebaskan keempat orang yang ditahan itu sebelum jam sebelas malam. Jika tidak, saya takut akan terjadi banjir darah di Priok ini”. Mubaligh lain, Ustadz Yayan, bertanya pada jamaah, “Man anshori ilallah? Siapa sanggup menolong agama Allah ?” Dijawab oleh massa, “Nahnu Anshorullah! Kami siap menolong agama Allah!” Sampai jam sebelas malam tidak ada jawaban dari Kodim, malah tank dan pasukan didatangkan ke kawasan Priok. Akhirnya, lepas jam sebelas malam, massa mulai bergerak menuju markas Kodim. Ada yang membawa senjata tajam dan bahan bakar. Tetapi sebagian besar hanyalah berbekal asma’ Allah dan Al-Qur’an. Amir Biki berpesan, “Yang merusak bukan teman kita!”

Di Jalan Yos Sudarso massa dan tentara berhadapan. Tidak terlihat polisi satupun, padahal seharusnya mereka yang terlebih dahulu menangani (dikemudian hari diketahui, para polisi ternyata dilarang keluar dari markasnya oleh tentara). Massa sama sekali tidak beringas. Sebagian besar malah hanya duduk di jalan dan bertakbir. Tiba-tiba terdengar aba-aba mundur dari komandan tentara. Mereka mundur dua langkah, lalu … Tanpa peringatan terlebih dahulu, tentara mulai menembaki jamaah dan bergerak maju. Gelegar senapan terdengar bersahut-sahutan memecah kesunyian malam. Aliran listrik yang sudah dipadamkan sebelumnya membuat kilatan api dari moncong-moncong senjata terlihat mengerikan. Satu demi satu para syuhada tersungkur dengan darah membasahi bumi. Kemudian, datang konvoi truk militer dari arah pelabuhan, menerjang dan melindas massa yang tiarap di jalan. Dari atas truk, orang-orang berseragam hijau tanpa nurani gencar menembaki. Tentara bahkan masuk ke perkampungan dan menembak dengan membabi-buta. Tanjung Priok banjir darah.

Pemerintah dalam laporan resminya yang diwakili Panglima ABRI, Jenderal L. B. Moerdani, menyebutkan bahwa korban tewas ‘hanya’ 18 orang dan luka-luka 53 orang. Namun dari hasil investigasi tim pencari fakta, SONTAK (SOlidaritas Nasional untuk peristiwa TAnjung prioK), diperkirakan sekitar 400 orang tewas, belum terhitung yang luka-luka dan cacat. Sampai dua tahun setelah peristiwa pembantaian itu, suasana Tanjung Priok begitu mencekam. Siapapun yang menanyakan peristiwa 12 September, menanyakan anak atau kerabatnya yang hilang, akan berurusan dengan aparat.

Sebenarnya sejak beberapa bulan sebelum tragedi, suasana Tanjung Priok memang terasa panas. Tokoh-tokoh Islam menduga keras bahwa suasana panas itu memang sengaja direkayasa oleh oknum-oknum tertentu di pemerintahan yang memusuhi Islam. Kecurigaan terutama ditujukan terhadap salah satu Jenderal yang dianggap telah lama memusuhi ummat Islam, L. B. Moerdani. Suasana rekayasa ini terutama sekali dirasakan oleh ulama-ulama di luar Tanjung Priok. Sebab, di kawasan lain kota Jakarta sensor bagi para mubaligh sangat ketat. Namun entah kenapa, di Tanjung Priok yang merupakan basis Islam itu para mubaligh dapat bebas berbicara bahkan mengkritik pemerintah, sampai menolak azas tunggal Pancasila. Adanya rekayasa dan provokasi untuk memancing ummat Islam dapat diketahui dari beberapa peristiwa lain sebelum itu, misalnya dari pembangunan bioskop Tugu yang banyak memutar film ”maksiat” diseberang Masjid Al-Hidayah. Tokoh senior seperti M. Natsir dan Syafrudin Prawiranegara sebenarnya telah melarang ulama untuk datang ke Tanjung Priok agar tidak masuk ke dalam perangkap. Namun seruan ini rupanya tidak sampai kepada para mubaligh Priok. Dari cerita Syarifin Maloko, ketua SONTAK dan mubaligh yang terlibat langsung peristiwa 12 September, ia baru mendengar adanya larangan tersebut setelah berada di dalam penjara. Rekayasa dan pancingan ini tujuannya tak lain untuk memojokkan Islam dan ummatnya di Indonesia.

Dari kisah itu tentunya ada banyak pelajaran yang dapat diambil, terutama bagi ummat Islam Indonesia. Di era baru sekarang ini, ABRI atau TNI telah dibatasi wewenangnya dan kelompok aparat lainnya diberikan wewenang lebih pada beberapa hal. Persaingan para Jenderal, Korps, Angkatan, tentu tak ada hubungannya dengan kita. Tapi jika kita terlalu percaya dan tidak waspada, maka terima dan hadapilah semua permainannya…

*) Kisah ini dikutip dengan sedikit perubahan dari http://www.ummah.net/islam/nusantara/realita/priok.html

About these ads

6 thoughts on “Seperempat Abad Tragedi Tanjung Priok, 12 September 1984

  1. astagfirullah….. org2a itu pda kga sdr pa? pdhl sesama manusia. kalau senandai nya sya hdp di era itu sya rela mati atas agama ALLAH.. lgian msk msjd pke sepatu, di sirm pke air got, al-qur’an di injek. sumpah saat sya bca crita ini emosi sya langsung naik, untung sya kga drh tinggian…. cba klo sya drh tinggian….. astagfirullah….. arrrhhggg….

  2. Sungguh gila peristiwa itu, 400 orang tewas, sama parahnya dengan peristiwa Trisakti, Manggarai pada zaman Orba, jadi insyaAllah jika para oknum yang membunuh para mubaligh itu bisa diganjar dengan hukuman setara di mata Allah SWT, amin ya Robbal alamin…

  3. astagfirullah dasr manusia maunya menang sendiri padahal hidup di dunia hanya sekali……….mudah-mudahan allah memaafkan nya semua……amin

  4. Hampir sama dengan kejadian di Memali, Malaysia, bgaiamana pemerintah secara kejam dan zalim telah membunuh muslim dan muslimah hanya disebabkan perbezaan politik dan Mujahid Ustad Ibrahim Libya difitnah sebagai pengamal ajaran sesat dan sejarah negara juga menceritakan perihal yg sama. (kejadian memali berlaku pada November 1985)

  5. semoga ini tak terulang lagi ….? dan yg jadi korban selamat atu mati … di beri ketabahan buat keluarga nya , buat oknum …yang melaku kan nya …tunggu aja hukum tuhan …jk tak tersentuh hukum manusai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s