Sabtu, 14 Maret 2009
Pukul 22.20 WIB. Langit cukup cerah malam ini. Saya rindu suasana malam di Jakarta. Ada keinginan untuk berwisata keliling Jakarta seperti masa kanak-kanak dahulu. Dengan suasana yang berbeda tentunya: Malam.
Tanpa perencanaan yang pasti, saya memutuskan untuk berangkat saja bersama empat orang teman yang ada di sekretariat Mapala UI. Ya, kami akan berkeliling Jakarta sampai pagi!
Dari Kampus UI Depok, saya terus memacu kendaraan saya melintasi daerah Kuningan. Sempat ingin mampir di Pasar Festival. Tapi, kendaraan terus saya pacu dan baru berhenti di silang Monas.

Monas dari kejauhan memang tampak menawan. Kami memutuskan untuk berhenti di tempat ini. Masuk ke taman-taman di sekitarnya. Menikmati kopi hangat. Duduk-duduk di hamparan rumput hijau. Juga berbincang-bincang soal banyak hal. Dari penggusuran dan logika falus-nya monas, ruang terbuka hijau, hingga politik kampus dan pemilu 2009.

Mentok di perbincangan soal politik dan pemilu 2009, Ipul, yang dari Mapala Londa – Bima Nusa Tenggara Barat, mengingatkan kami soal tempat bernama Kompleks Wisata Kota Tua. Langsung saja kami berangkat melewati ‘warung’ eskrim Ragusa yang sudah tutup. Melintasi Taman Menteng dan Harmoni. Lalu berhenti di depan Virgin Bar, salah satu bangunan tua yang sederet dengan bangunan PT Kerta Niaga di salah satu sisi Museum Sejarah Jakarta.

Cukup ‘riuh’ juga tempat ini. Lebih riuh ketimbang di Monas tadi. Ada berbagai komunitas berkumpul di pelataran parkir Museum Sejarah Jakarta. Diantaranya ada komunitas motor, skater, sepeda, dll. Maklum, malam minggu.
Di tempat ini kami terus berkeliling. Menikmati ‘entah apa’ di balik dinding gedung-gedung tua peninggalan kolonial Belanda. Ada kekaguman. Ada keingintahuan. Ada pula rasa bosan yang menggerakkan kami untuk pergi.

Sepanjang jalan Hayam Wuruk, ada perempuan-perempuan yang berpakaian super seksi. Mereka menawarkan diri untuk melakukan pelayanan seks. Ada rasa senang saat sekilas melihat keindahan tubuh-tubuh mereka. Tapi, perasaan miris lebih mendominasi. Perempuan tentu bukan hanya tubuh, bukan hanya payudara dan vagina. Hubungan laki-laki dan perempuan bukan hanya soal seks! Bukan juga hanya soal uang belaka bukan?
Minggu, 15 Maret 2009
Pukul 00.58 WIB. Malam semakin larut. Hari telah berganti. Di Bundaran Hotel Indonesia kami berhenti lagi. Duduk-duduk di sekitar kolam air mancur tugu selamat datang. Mengingat saat-saat berdemonstrasi. Mengartikan simbol-simbol dari nama dan bangunan yang ada. Ada perasaan damai di tempat ini. Seperti tercipta oase di tengah tandusnya ‘keheningan’ kota.

Setelah puas dengan ‘damai’, kami lanjut ke Taman Ismail Marzuki dan terus ke FK UI Salemba. Hanya sebentar saja kami di kedua tempat itu. Sekalian pulang, kami mampir di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Sempat akan diusir Satpam. Tapi, dengan penjelasan yang baik soal tujuan kami yaitu keinginan untuk memperlihatkan kepada teman dari daerah NTB mengenai tempat makam para pahlawan yang bisa jadi dibanggakannya, akhirnya kami diijinkan untuk melihat-lihat dan berfoto ria. Dengan pengawasan satpam tentu.

Rasa lapar dan dingin membuat kami terus bergerak untuk mencari tempat makan. Kebetulan di depan TMP Kalibata banyak warung tenda. Kami mampir di salah satu warung dan memilih roti bakar untuk mengganjal rasa lapar kami. Ya… pada akhirnya kami sadar, bahwa malam itu dingin. Dan dingin begitu menyebalkan dalam lapar. Berapa banyak orang di sekeliling kita yang menghabiskan dinginnya malam dalam rasa lapar?
utara, selatan, barat, pusat tapi kurang satu area lagi, wisata malam di Jakarta Timur hehehe