Jengah: Stop Pertikaian dan Kemunafikan!
Kita pun jengah dengarkan banyak alasan, kita bosan dengarkan cerita: dari isu Korupsi KPK vs Polri, Terorisme, dan seremoni janji wakil rakyat hari ini.
Terserah bagaimana hari ini dan entah bagaimana esok hari, tapi OPTIMISME tetap menjadi keharusan. Pada mereka yang ter’bangun’kan mesti berkarya dengan sungguh-sungguh menumpas bandit-bandit munafik di gedung megah dan keparat-keparat berseragam yang hanya bergerak untuk menggendutkan perutnya dan memuaskan kelaminnya saja.
Stop Pertikaian dan Kemunafikan!
Mengambil Hikmah Dari Carlito’s Way
seorang lelaki kelana di dunia batin
sudah akrab dengan gelap
yang menuntun ke pusat cahaya
hanya kepadanya ia akan menyerah
(Wiji Thukul, Seorang Lelaki Kelana di Dunia Batin, 1985)
Lelaki itu bernama Carlito Brigante. Ia mantan gangster yang pernah turut mengedarkan narkoba dan terkait dengan mafia-mafia besar. Ia mencoba bertobat setelah keluar dari penjara. Kekasihnya menjadi satu pendorong utama yang membuatnya ingin terus berada pada jalan pertobatannya itu. Hanya pada perempuan yang mengharapkannya menjadi baik itu Carlito menyerahkan mimpi-mimpinya. Namun demikian, jalan pertobatannya tidak berjalan mulus. Ada saja orang yang hadir dan mengingatkannya serta menawarkannya untuk kembali pada jalannya yang telah lalu.
Singkat cerita, di dalam kehidupan barunya ia berhutang budi pada seorang temannya yang pengacara, Dave Kleinfeld. Sang Pengacara yang pecandu itu menagih hutang budi kepada Carlito untuk menemaninya melakukan rencana jahat untuk membunuh seorang bos mafia beserta anaknya. Carlito mengikutinya untuk membalas budi tanpa mengetahui rencana jahat temannya itu. Rencana itu berhasil dilakukan dan dengan demikian impaslah sudah perkara hutang budi. Namun, kejahatan yang telah dilakukan itu telah disadari Carlito pasti akan terbalas.
Di akhir cerita, temannya yang pengacara mati dibunuh oleh anak dari bos mafia yang dibunuhnya. Dalam jalan pertobatannya bersama sang kekasih Carlito berhasil kabur dari mafia yang ingin membalas dendam. Akan tetapi, ia tetap hancur dikhianati oleh orang kepercayaannya di bisnis klub malam dan dibunuh oleh Benny Blanco, generasi baru pengedar heroin yang pernah disakitinya.
Dari kisah itu, saya mengingat pesan singkat yang dikirimkan oleh seorang teman yang saya hormati: Dosa itu seperti kuda memasuki lorong sempit yang gelap dan tak berujung. Semakin ke dalam, semakin sulit kuda itu untuk keluar. Ibn al Qayyim dalam ‘Udatushabirin.
Di samping hikmah itu, dalam pergaulan hidup pasti ada hubungan utang piutang dalam segala hal. Setiap manusia yang satu pasti membutuhkan manusia yang lain dan mengambil manfaat darinya dengan saling memberikan pengaruh baik positif maupun negatif. Dalam persahabatan pun kadang selalu ada budi baik yang perlu diingat dan dibalas. Oleh karena itu, dalam pergaulan hidup alangkah baiknya apabila kita memilih lingkungan yang baik untuk mendidik dan menjaga jalan hidup kita di jalan yang baik. Dan bila perlu memberikan pengaruh baik pada lingkungan yang dianggap buruk. Mengingat pesan singkat dari teman yang selalu berisi nasihat, saya merasa bersyukur memiliki teman yang mau mengamalkan ayat Qur’an untuk selalu nasihat-menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Semoga jalan-jalan kami ke depan diridhoi Allah SWT.
Bekerja Ikhlas Untuk Menggapai Kebahagiaan
waktu yang diisi keluh akan berisi keluh
waktu yang berkeringat karena kerja akan melahirkan
serdadu-serdadu kebijaksanaan
(Wiji Thukul, Sukmaku Merdeka)
Kerja. Saat kata itu diucapkan maka yang terbayang pada banyak orang yang saya temui adalah memperoleh upah besar dari kantor-kantor pemerintahan, perusahaan-perusahaan swasta, pabrik-pabrik, pusat kesehatan, dan lembaga pendidikan komersil. Bayangan itu bukan hanya milik mereka yang tinggal di perkotaan tetapi juga milik mereka yang saya temui di beberapa pelosok desa.
Untuk apa kita bekerja? Cobalah tanyakan pada diri kita sendiri dan juga kepada orang-orang yang Anda temui, bisa jadi jawaban yang paling banyak diungkapkan adalah untuk mendapatkan uang. Dalam sedikit canda: untuk sekedar mencari segenggam intan! Satu ungkapan untuk menggantikan kalimat lain yang kadang membosankan: mencari sesuap nasi! Dan itu semua ditujukan untuk kepentingan yang lebih tinggi: Menggapai Kebahagiaan.
Setiap orang memiliki pengalaman hidup, pikiran-pikiran, dan tujuan-tujuannya masing-masing. Karena latar belakang yang berbeda itu pandangan tentang kerja pun pasti akan berbeda-beda. Demikian pula dengan saya dan beberapa teman dekat.
Teman-teman yang dipandang sholeh berpendapat bahwa kerja itu semata-mata untuk beribadah kepada Allah. Karena pada dasarnya hakekat hidup manusia memang hanya ditujukan untuk beribadah kepada Allah yang telah menciptakannya. Bagi mereka, kerja dapat di mana saja dan berupa usaha apapun entah itu menjadi karyawan, pedagang, petani, dan usaha-usaha lainnya yang produktif dan bernilai baik. Namun demikian, tetap terungkapkan soal mendapatkan uang. Uang sebagai alat tukar yang telah disepakati oleh suatu masyarakat tertentu perlu diperoleh untuk menghidupi diri dan keluarga secara terhormat di tengah-tengah masyarakat itu. Baginya, mempertahankan hidup dengan terhormat adalah ibadah. Memberikan nafkah dengan terhormat kepada keluarga adalah ibadah. Jelasnya, menghormati diri dan keluarga adalah juga untuk menghormati masyarakat di sekitarnya. Mengangkat derajat kemanusiaan ke taraf yang lebih sempurna sehingga akan menjauhkan diri dari kancah kebinatangan yang hina. Dengan begitu akan terciptalah masyarakat madani yang diridhoi Allah.
Tidak hanya itu, menurut beberapa yang lainnya yang juga dipandang sholeh setiap muslim mestilah menjadi kaya untuk menyempurnakan agamanya. Memang jika kita berbicara tentang Islam, maka akan muncul istilah Zakat dan Haji. Zakat hanya diwajibkan bagi mereka yang kaya. Zakat hanya dipungut dari mereka yang telah cukup hartanya menurut hitungan tertentu yang lebih dari cukup untuk hanya sekedar memenuhi kebutuhan pokok. Demikian pula dengan haji yang hanya diwajibkan bagi mereka yang mampu baik materil maupun non materil. Bagi muslim yang mampu menyempurnakan itu semua tentulah akan sangat berbahagia. Dan itu semua hanya dapat diperoleh dengan bekerja keras dan ikhlas disertai penuh pengharapan akan ridho Allah.
Saya menyimak pendapat itu. Beberapa yang lainnya melontarkan fakta-fakta. Banyak di antara umat Islam, terutama umat Islam Indonesia, yang jauh dari kekayaan lahiriah dan batiniah. Ada segolongan yang kaya raya namun belakangan diketahui dan diduga terlibat kasus-kasus korupsi. Yang miskin merasa rendah diri dan mengisi hari demi hari dengan keluh kesah. Yang kaya berdiri gagah dan terus menipu yang lemah. Bahkan, tipu menipu terjadi di antara yang miskin dan kaya. Sehingga hari demi hari seolah-olah hanya diisi oleh keluh kesah dan tipu menipu di antara sesama.
Seorang ulama, Musthofa Al Gholayani, dalam nasehatnya mengatakan bahwa sudah berapa banyak kita menyaksikan orang-orang yang bekerja/beramal tetapi tidak meninggalkan bekas yang baik. Dan tidak membawa efek yang positif bagi dirinya, ibarat orang berlayar tiada sampai ke batas, atau berjalan tidak sampai ke pulau idaman. Semangatnya hilang, daya dan kekuatannya berkurang hingga akhirnya kembali pulang dengan tangan hampa, rugi tenaga dan rugi harta. Penyebabnya adalah karena ikhlas tidak menjadi landasan berpijaknya, karena ia tidak mau berbuat melainkan untuk mengharap keuntungan dan suatu pamrih yang tak berharga. Jelasnya, jiwa ikhlas tidak menghidupkan setiap usahanya dan tidak merupakan ruh segala amalannya.
Orang-orang yang mau bekerja dengan didasari ikhlas, baik urusan pribadi, masyarakat dan agamanya, pasti akan mengundang daya tarik yang hebat, memperoleh surprise dan dukungan yang berarti, mendapatkan bantuan dan dorongan untuk mencapai cita-citanya. Dengan demikian maka semangatnya semakin berkobar, kemauannya semakin membakar, dan kesungguhannya semakin menyala-nyala. Dan ia akan tekun dengan pekerjaannya hingga tercapailah segala keinginannya. Sebaliknya, orang-orang yang bekerja tidak dengan ikhlas, bahkan setiap pekerjaannya dititikberatkan ke atas suatu keuntungan yang mengawang, maka cepat atau lambat, aibnya akan terbongkar juga dan orang-orang di kiri kanannya akan menghindar, teman-teman dekatnya akan melupakannya, pembantu maupun pengagum-pengagumnya akan tidak mengindahkan dirinya lagi. Karenanya, kemauan dan gairahnya semakin lemah dan akhirnya hati dan jiwanya dihinggapi penyakit putus asa. Maka segala rencananya macet, usahanya terhenti dan ia menderita kerugian besar, hidup merasa tanpa suatu harapan.
Orang yang bekerja ikhlas akan selalu dekat kepada kejujuran dan ketegasan sikap atas segala problema yang dihadapinya. Dengan keikhlasan itu pula seseorang terdidik untuk selalu bijaksana di dalam setiap pengambilan keputusan atas segala problema yang dihadapinya itu. Dengan begitu, ia menjadi manusia merdeka dan kebahagiaan akan selalu bersamanya. Bahagia sebagai manusia merdeka yang terus berkarya untuk memanusiakan manusia-manusia lain di sekelilingnya dan menyejahterakan alam lingkungan hidupnya. Karena, kebahagiaan menjadi sesuatu yang mustahil dapat diperoleh oleh seseorang yang berada pada masyarakat yang terjebak dalam kancah kebinatangan. Demikianlah sebaiknya kita bekerja untuk menggapai kebahagiaan yang sejati itu.
Hari Kunjung Perpustakaan: Membangun Kedekatan antara Perpustakaan dengan Masyarakat
”Hari Kunjung Perpustakaan, ada ya kak? Hehe, aku yang mahasiswa Ilmu Perpustakaan ajah baru tahu lho kak…”
Ya, sebagian besar masyarakat Indonesia barangkali tidak banyak yang mengetahui bahwa 14 September adalah Hari Kunjung Perpustakaan. Adanya Hari Kunjung Perpustakaan ini dapat dikatakan memiliki tujuan untuk membangun kedekatan antara perpustakaan dengan masyarakat, menciptakan masyarakat yang gemar membaca dan mencerdaskan kehidupan bangsa.
Berbicara mengenai kedekatan antara masyarakat dengan perpustakaan memang masih banyak yang perlu dibenahi. Hingga saat ini, minat masyarakat untuk berkunjung ke perpustakaan masih dikatakan rendah. Rendahnya minat berkunjung ke perpustakaan hampir selalu dikaitkan dengan rendahnya minat baca masyarakat. Namun demikian, perlu dipertanyakan pula bagaimana dengan perpustakaannya sendiri, apakah memang penting untuk sering dikunjungi?
Fungsi Perpustakaan dan Peran Pustakawan
Baiklah, kesampingkan dahulu pertanyaan tersebut. Kita masuk pada fungsi perpustakaan sebagai tempat belajar sepanjang hayat bagi masyarakat di sekitarnya. Perpustakaan merupakan tempat bagi masyarakat untuk belajar secara mandiri dalam menjawab permasalahan kehidupan dan mengembangkan kualitas hidupnya. Perpustakaan sebagai tempat belajar sudah dipahami berbeda dengan sekolah. Perpustakaan sebagai sarana belajar non formal membebaskan peserta belajar dalam memenuhi kebutuhannya akan pengetahuan, sedangkan sekolah tentunya telah mempunyai kurikulum untuk peserta belajar.
Dari perbedaan di atas, tentulah disadari pula bahwa dalam mencerdaskan masyarakat di sekitarnya pustakawan bukanlah guru yang memerankan peran utama dalam mentransfer pengetahuan kepada peserta belajar. Akan tetapi, pustakawan dapat menjadi fasilitator dalam proses belajar. Dimana pustakawan dapat menumbuhkan dorongan dalam diri peserta belajar/masyarakat keinginan untuk melakukan proses penemuan sepanjang hidupnya terhadap apa saja yang memang dibutuhkannya untuk diketahui.
Jika peran pustakawan sebagai fasilitator dalam proses belajar bagi masyarakat disepakati, selanjutnya di dalam penyelenggaraan perpustakaan peserta belajar/masyarakat juga perlu dilibatkan. Hal ini dikarenakan berdirinya perpustakaan tidak terlepas dari keinginan masyarakat dalam melakukan proses penemuan sepanjang hidupnya terhadap apa saja yang memang dibutuhkannya untuk diketahui. Dengan demikian, peran pustakawan adalah menjaga dan memfasilitasi kebutuhan dan keinginan masyarakat tersebut. Pengadaan buku-buku atau koleksi pun dapat dipecahkan bersama-sama antara pustakawan dengan masyarakat melalui kajian bersama mengenai apa-apa yang dibutuhkan itu.
Sederhananya, perpustakaan perlu dikelola secara partisipatif oleh masyarakat dengan adanya fasilitasi dari pustakawan. Hal ini dikarenakan oleh latar belakang keberadaannya sebagai sarana belajar secara mandiri dan sepanjang hayat bagi masyarakat. Kalau ini dapat diterima dan dijalankan dengan baik, maka permasalahan seperti rendahnya kunjungan masyarakat ke perpustakaan bisa jadi dapat terpecahkan. Karena barangkali pula rendahnya tingkat kunjungan masyarakat ke perpustakaan lebih disebabkan oleh penyelenggaraan perpustakaan yang terlalu kaku dan tidak adanya keselarasan antara kehadiran perpustakaan (baik keberadaannya sendiri dan koleksi yang ada) dengan kebutuhan dan keinginan masyarakat. Atau dalam bahasa yang lebih lugas, perpustakaan seperti itu memang tidak penting untuk sering-sering dikunjungi. Ini berarti pula bahwa rendahnya kunjungan masyarakat ke perpustakaan tidak selalu harus disimpulkan bahwa minat baca/belajar masyarakat itu rendah.
Mengembangkan Kemampuan Pustakawan
Pustakawan juga merupakan bagian dari masyarakat belajar yang perlu terus-menerus belajar dan berinovasi bersama-sama masyarakat untuk maju dan mengembangkan pengetahuannya. Karena tidak jarang pustakawan kadang justru mandeg dalam belajar atau mengembangkan pengetahuan dan tertinggal dari masyarakatnya. Karena itu, pengetahuan yang penting bagi pustakawan salah satunya adalah kemampuan untuk memenuhi kebutuhan informasi bagi diri dan masyarakat terkait dengan kebutuhannya dalam menghadapi berbagai tantangan. Artinya, pustakawan juga perlu mengembangkan diri dalam pengetahuan menggunakan sumber-sumber informasi yang cepat dan tepat.
Pengembangan perpustakaan dengan partisipasi masyarakat juga tidak dapat terlepas dari kemampuan pustakawan dalam melakukan fasilitasi kepada masyarakat. Di dalam memfasilitasi masyarakat tentunya seorang pustakawan perlu mengembangkan kemampuannya dalam berkomunikasi dengan masyarakat. Di samping itu juga perlu kemampuan menganalisa yang baik tentang berbagai hal yang terkait dengan permasalahan masyarakat belajarnya. Dengan demikian, diharapkan dapat terbangun kedekatan antara perpustakaan dengan masyarakat di sekelilingnya. Dan pustakawan tidak lagi digambarkan seperti gambaran masyarakat awam pada tahun-tahun yang lampau dimana pustakawan selalu diasosiasikan sebagai penjaga buku yang kaku di dalam ruangan berdebu, pendiam, dan tidak ramah.
Seperempat Abad Tragedi Tanjung Priok, 12 September 1984
Bagi masyarakat dunia, September mengingatkan akan tragedi kemanusiaan 11 September. Dimana bagi sebagian orang barangkali masih mengasosiasikan aksi itu dengan aksi keji kelompok Islam ekstrem yang salah jalan. Mengaitkan antara September, tragedi kemanusiaan, dan Islam di Indonesia juga ada ingatan kolektif mengenai Tragedi Tanjung Priok yang terjadi tepat seperempat abad yang lalu atau tepat dua puluh lima tahun yang lalu. Bukan bermaksud untuk menguak luka lama bagi umat Islam Indonesia, tetapi ingatan ini penting untuk diingat dan menjadi pelajaran agar kita dapat berhati-hati dalam proses bernegara di negeri ini. Seperti kata Bung Karno, Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah!
Kisah*) mengenai tragedi ini dimulai pada Senin, 10 September 1984. Seorang oknum ABRI, Sersan Satu Hermanu yang diketahui non-Islam, mendatangi mushala As-Sa’adah untuk menyita pamflet berbau ‘SARA’. Namun tindakan Sersan Hermanu sangat menyinggung perasaan ummat Islam. Ia masuk ke dalam masjid tanpa melepas sepatu, menyiram dinding mushala dengan air got, bahkan menginjak Al-Qur’an. Warga marah dan motor Hermanu dibakar. Buntutnya, empat orang pengurus mushala diciduk Kodim. Upaya persuasif yang dilakukan ulama tidak mendapat respon dari aparat. Malah mereka memprovokasi dengan mempertontonkan salah seorang pengurus mushola yang ditahan itu, dengan tubuh penuh luka akibat siksaan.
Rabu, 12 September 1984. Mubaligh Abdul Qodir Djaelani membuat pernyataan yang menentang azas tunggal Pancasila. Malamnya, di Jalan Sindang, Tanjung Priok, diadakan tabligh. Ribuan orang berkumpul dengan semangat membara, disemangati khotbah dari Amir Biki, Syarifin Maloko, Yayan Hendrayana, dll. Tuntutan agar aparat melepas empat orang yang ditahan terdengar semakin keras. Amir Biki dalam khotbahnya berkata dengan suara bergetar, “Saya beritahu Kodim, bebaskan keempat orang yang ditahan itu sebelum jam sebelas malam. Jika tidak, saya takut akan terjadi banjir darah di Priok ini”. Mubaligh lain, Ustadz Yayan, bertanya pada jamaah, “Man anshori ilallah? Siapa sanggup menolong agama Allah ?” Dijawab oleh massa, “Nahnu Anshorullah! Kami siap menolong agama Allah!” Sampai jam sebelas malam tidak ada jawaban dari Kodim, malah tank dan pasukan didatangkan ke kawasan Priok. Akhirnya, lepas jam sebelas malam, massa mulai bergerak menuju markas Kodim. Ada yang membawa senjata tajam dan bahan bakar. Tetapi sebagian besar hanyalah berbekal asma’ Allah dan Al-Qur’an. Amir Biki berpesan, “Yang merusak bukan teman kita!”
Di Jalan Yos Sudarso massa dan tentara berhadapan. Tidak terlihat polisi satupun, padahal seharusnya mereka yang terlebih dahulu menangani (dikemudian hari diketahui, para polisi ternyata dilarang keluar dari markasnya oleh tentara). Massa sama sekali tidak beringas. Sebagian besar malah hanya duduk di jalan dan bertakbir. Tiba-tiba terdengar aba-aba mundur dari komandan tentara. Mereka mundur dua langkah, lalu … Tanpa peringatan terlebih dahulu, tentara mulai menembaki jamaah dan bergerak maju. Gelegar senapan terdengar bersahut-sahutan memecah kesunyian malam. Aliran listrik yang sudah dipadamkan sebelumnya membuat kilatan api dari moncong-moncong senjata terlihat mengerikan. Satu demi satu para syuhada tersungkur dengan darah membasahi bumi. Kemudian, datang konvoi truk militer dari arah pelabuhan, menerjang dan melindas massa yang tiarap di jalan. Dari atas truk, orang-orang berseragam hijau tanpa nurani gencar menembaki. Tentara bahkan masuk ke perkampungan dan menembak dengan membabi-buta. Tanjung Priok banjir darah.
Pemerintah dalam laporan resminya yang diwakili Panglima ABRI, Jenderal L. B. Moerdani, menyebutkan bahwa korban tewas ‘hanya’ 18 orang dan luka-luka 53 orang. Namun dari hasil investigasi tim pencari fakta, SONTAK (SOlidaritas Nasional untuk peristiwa TAnjung prioK), diperkirakan sekitar 400 orang tewas, belum terhitung yang luka-luka dan cacat. Sampai dua tahun setelah peristiwa pembantaian itu, suasana Tanjung Priok begitu mencekam. Siapapun yang menanyakan peristiwa 12 September, menanyakan anak atau kerabatnya yang hilang, akan berurusan dengan aparat.
Sebenarnya sejak beberapa bulan sebelum tragedi, suasana Tanjung Priok memang terasa panas. Tokoh-tokoh Islam menduga keras bahwa suasana panas itu memang sengaja direkayasa oleh oknum-oknum tertentu di pemerintahan yang memusuhi Islam. Kecurigaan terutama ditujukan terhadap salah satu Jenderal yang dianggap telah lama memusuhi ummat Islam, L. B. Moerdani. Suasana rekayasa ini terutama sekali dirasakan oleh ulama-ulama di luar Tanjung Priok. Sebab, di kawasan lain kota Jakarta sensor bagi para mubaligh sangat ketat. Namun entah kenapa, di Tanjung Priok yang merupakan basis Islam itu para mubaligh dapat bebas berbicara bahkan mengkritik pemerintah, sampai menolak azas tunggal Pancasila. Adanya rekayasa dan provokasi untuk memancing ummat Islam dapat diketahui dari beberapa peristiwa lain sebelum itu, misalnya dari pembangunan bioskop Tugu yang banyak memutar film ”maksiat” diseberang Masjid Al-Hidayah. Tokoh senior seperti M. Natsir dan Syafrudin Prawiranegara sebenarnya telah melarang ulama untuk datang ke Tanjung Priok agar tidak masuk ke dalam perangkap. Namun seruan ini rupanya tidak sampai kepada para mubaligh Priok. Dari cerita Syarifin Maloko, ketua SONTAK dan mubaligh yang terlibat langsung peristiwa 12 September, ia baru mendengar adanya larangan tersebut setelah berada di dalam penjara. Rekayasa dan pancingan ini tujuannya tak lain untuk memojokkan Islam dan ummatnya di Indonesia.
Dari kisah itu tentunya ada banyak pelajaran yang dapat diambil, terutama bagi ummat Islam Indonesia. Di era baru sekarang ini, ABRI atau TNI telah dibatasi wewenangnya dan kelompok aparat lainnya diberikan wewenang lebih pada beberapa hal. Persaingan para Jenderal, Korps, Angkatan, tentu tak ada hubungannya dengan kita. Tapi jika kita terlalu percaya dan tidak waspada, maka terima dan hadapilah semua permainannya…
*) Kisah ini dikutip dengan sedikit perubahan dari http://www.ummah.net/islam/nusantara/realita/priok.html
Lingkaran Setan Terorisme
Pada tahun-tahun awal milenium ke tiga, 11 September mengingatkan manusia dunia pada sebuah tragedi kemanusiaan, Terorisme. Terorisme pun pada tahun-tahun selanjutnya selalu diasosiasikan pada aksi segolongan muslim “garis keras” yang dianggap “salah jalan” karena mengingkari demokrasi dan kemanusiaan. Karenanya bagi sebagian orang muncul pandangan adanya skenario memerangi dan menghancurkan kaum muslimin dunia yang pada akhirnya memunculkan anggapan pula bahwa perang yang dikumandangkan Bush di Afgan dan Irak adalah perang agama. Apalagi Bush pernah berujar soal perang suci dan poros setan.
Terlepas dari isu perang suci, cara-cara penyelesaian terhadap kasus-kasus terorisme hampir selalu dilakukan dengan mengedepankan cara-cara kekerasan sistematis yang jelas-jelas mengingkari demokrasi dan kemanusiaan itu sendiri. Padahal, hampir semua pemikir bersepakat bahwa masalah utama dari aksi-aksi terorisme adalah ketidakadilan global yang selama ini telah diterapkan oleh negara-negara barat. Dengan demikian, cara-cara kekerasan sistematis oleh suatu negara dalam menanggulangi terorisme tentunya tidak menyentuh akar masalah yang ada, yaitu masalah ketidakadilan global dan pemiskinan.
Cara-cara kekerasan hampir selalu dipastikan akan melahirkan aksi-aksi kekerasan pula. Di akhir film “The Kingdom” misalnya, digambarkan adanya kesadaran bahwa cara-cara kekerasan (yaitu penumpasan kelompok teroris oleh agen Amerika di Saudi) pada akhirnya menyisakan dendam pada keturunan mereka yang ”ditumpas”. Aksi penumpasan yang dilihat oleh keturunan kelompok “teroris” ini bisa jadi merupakan pendidikan dini dari aparat negara dan agen-agen asing dalam menjelaskan makna kata penindasan dan kekerasan bagi kerabat dan keturunan kelompok ”teroris”. Dengan demikian, akan terbentuk lingkaran setan kekerasan dan terorisme antara terorisme kelompok orang dengan kelompok lain/negara dengan terorisme negara kepada sekelompok orang yang dianggap teroris. Dalam akhir film itu ada pesan dari mereka yang terbunuh bahwa kemenangan di antara salah satunya, yaitu negara ataupun teroris itu adalah dengan menumpas habis salah satunya. Dengan demikian, barangkali selesailah semua…
Di Indonesia, pasca teror bom JW Marriot Jilid 2 tersusun drama reality menarik mengenai perburuan terorisme yang terekspos secara vulgar di media televisi. Perburuan teroris oleh aparat negara terkesan sebagai aksi terorisme balasan yang membabi buta. Terutama terkait dengan “penangkapan” di Temanggung. Sementara itu, aksi ”penumpasan” di Jati Asih (Bekasi) masih misteri. Yang jelas mereka yang ”dianggap” teroris berhasil ditumpas dengan beberapa barang bukti yang ’ditemukan’. Terlepas dari isu pelanggaran HAM yang dilakukan aparat, aksi-aksi tersebut telah menunjukkan kepada masyarakat luas bahwa negara dengan aparatnya juga bisa melakukan teror kepada para teroris. Selain itu, juga mengisyaratkan bahwa kekerasan dan pembunuhan kepada mereka yang ”dianggap” teroris adalah benar. Oleh karena itu, tidak heran apabila masyarakat selanjutnya saling curiga dan bertindak berlebihan terhadap mereka yang ”dianggap” teroris atau dekat dengan teroris. Namun demikian, untunglah aksi berlebihan itu tidak berujung seperti aksi-aksi penumpasan PKI. Dan semoga tidak menimbulkan dendam yang mendalam bagi keturunan dan kerabat dari mereka yang ditangkap dan ditumpas tanpa pengadilan.
Penyelesaian masalah terorisme dengan jalan teror dan kekerasan oleh negara tentunya tidak dapat dibiarkan berjalan begitu saja. Karena bila itu dibiarkan akan mengekalkan lingkaran setan teror dan kekerasan. Perlu ada upaya untuk memotong lingkaran setan itu dan menggantikannya dengan alternatif penyelesaian yang lebih menyentuh akar masalah, yaitu penanggulangan kemiskinan/pemiskinan dan ketidakadilan. Bangunlah Jiwanya, Bangunlah Badannya. Cerdaskan rakyat dan ciptakan kesejahteraan umum. Perangi korupsi dan berikan keadilan bagi semua! Jika tidak, mengutip Iwan Fals: BUBARKAN SAJA NEGARA!
Andragogi: Sebuah Konsep Teoritik*
Kita hidup dalam suatu abad yang penuh dengan perubahan-perubahan cepat, suatu abad penemuan-penemuan baru dalam ilmu pengetahuan, teori-teori dan metoda serta permasalahan baru dan pemecahannya. Alvin Toffler telah memperingatkan kita bahwa peningkatan dan kemajemukan kehidupan abad kita ini telah pula meningkatkan dan menghasilkan banyak kegoncangan budaya dan pemilikan yang luar biasa. Oleh karena itu, kita harus menemukan suatu cara untuk meningkatkan kemampuan kita dalam memilih secara cepat dan tepat yang benar-benar menjadi keinginan dan kebutuhan kita. Kita harus belajar bagaimana membuat berbagai keputusan dan melaksanakannya, dalam kaitannya dengan orang-orang lain yang dipengaruhi oleh keputusan itu. Keadaan ini telah melahirkan pertanyaan akan tujuan pendidikan dalam rangka pengembangan sumberdaya manusiawi kita.
PERUBAHAN TUJUAN PENDIDIKAN
Umumnya teori pendidikan didasarkan pada anggapan bahwa tujuan utama pendidikan adalah mengalihkan keseluruhan pengetahuan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Asumsi ini menyiratkan dua hal, yakni: (1) bahwa jumlah pengetahuan cukup sedikit untuk dikelola secara menyeluruh oleh sistem pendidikan; dan (2) bahwa kecepatan perubahan yang terjadi dalam tata-budaya atau masyarakat cukup lamban sehingga memungkinkan untuk menyimpan pengetahuan dalam kemasan tertentu serta menyampaikannya sebelum pengetahuan itu sendiri berubah. Kedua keadaan tersebut sudah tak berlaku lagi di abad modern saat ini. Sekarang kita hidup dalam jaman peledakan pengetahuan yang menimbulkan perubahan-perubahan sedemikian cepat. Kecepatan dan banyaknya perubahan dalam masyarakat tersebut telah menimbulkan pertanyaan yang meragukan “teori pengalihan pengetahuan” melalui pendidikan.
Daripada sekedar mengalihkan semua yang kita ketahui, maka barangkali tujuan kita yang sesungguhnya adalah menumbuhkan dorongan dalam diri peserta didik keinginan untuk melakukan proses penemuan sepanjang hidupnya terhadap apa saja yang memang dibutuhkannya untuk diketahui.
Jika rumusan terakhir ini disetujui, maka ada dua konsekuensi yang akan menyertainya. Pertama, pendidikan tidak lagi merupakan sebuah kegiatan yang terutama diperuntukkan bagi kanak-kanak. Kedua, tanggung jawab untuk menetapkan apa yang harus diajarkan dan yang akan dipelajari beralih dari tangan guru ke tangan murid. Pendidikan, sebagai suatu proses seumur hidup, dengan demikian akan mampu memenuhi kebutuhan kita dan pengalaman kita yang juga terus berubah.
Penyadaran dan Pembebasan: Perkenalan Singkat dengan Filsafat Pendidikan Paulo Freire
Sekedar Pengantar Sebelum Membaca: Pembacaan Puisi dari W.S Rendra, Universitas Indonesia 1977
Ahli-ahli ilmu sosial, terutama pada pendidik, akhir-akhir ini banyak mengutip dan mengkaji buah pikiran dan hasil karya Paulo Freire. Dua buah bukunya, yakni Pendidikan Kaum Tertindas (Pedagogy of Opressed, Penguin Books, 1978; edisi Indonesia diterbitkan oleh LP3ES, 1985), dan Gerakan Kebudayaan untuk Kemerdekaan (Cultural Action for Freedom, Penguin Books, 1977), adalah dua buah karya Freire yang paling sering dikutip sehingga telah menjadi bacaan klasik dalam kepustakaan ilmu sosial saat ini. Kedua buku tersebut menjadi bahan dasar makalah singkat ini.
Kekuatan yang menjadi daya tarik utama Freire adalah kejujurannya untuk menyatakan, tanpa tedeng aling-aling, kondisi kemanusiaan kita saat ini yang telah sedemikian rupa rapuhnya dimana kita sendiri justru sering bersikap tidak manusiawi menghadapinya. Sama seperti rekan-rekannya para pemikir pembaharu Amerika Latin, Freire telah lahir dan tampil dengan suara lantang menyatakan sikapnya terhadap kenyataan sosial yang ada, dan gaya seperti itu umumnya memang selalu menarik.
Tetapi kekuatan Freire yang sesungguhnya terletak pada kekuatan pemikiran yang menukik langsung pada pokok-pokok persoalan dengan bahasa pengucapan yang sederhana, sehingga para pemerhati filsafat tingkat pemula atau orang awam sekalipun akan cukup mudah untuk memahaminya. Freire mempu menjabarkan pemikiran-pemikiran filsafat yang bertakik-takik (sophisticated) ke dalam aktualisasi masalah-masalah kehidupan keseharian serta tuntutan-tuntutan praktis abad mutakhir saat ini, terutama dalam bidang pendidikan dalam kaitannya dengan seluruh ikhtiar pembangunan nasional yang menjadi “cultural focus” dunia kita saat ini. Berbeda dengan banyak pendahulunya, Freire tidak berhenti dan selesai pada besaran-besaran pemikiran dan perdebatan terminologis yang tidak perlu, tetapi langsung menerapkan dan melakukan gagasannya sendiri dalam suatu rangkaian program aksi yang cukup luas, terutama di Chili dan di negara kelahirannya sendiri di Brazilia. Inilah kekuatan Freire, yang pada tingkat tertentu mungkin saja menjadi kelemahannya sekaligus.
MANUSIA DAN DUNIA: PUSAT MASALAH
Filsafat Freire bertolak dari kenyataan bahwa di dunia ini ada sebagian manusia yang menderita sedemikian rupa sementara sebagian lainnya menikmati jerih payah orang lain, justru dengan cara-cara yang tidak adil. Dalam kenyataannya, kelompok manusia yang pertama adalah bagian mayoritas umat manusia, sementara kelompok yang kedua adalah bagian minoritas umat manusia. Dari segi jumlah ini saja keadaan tersebut sudah memperlihatkan adanya kondisi yang tidak berimbang, yang tidak adil. Inilah yang disebut oleh Freire sebagai ”situasi penindasan”.
Bagi Freire, penindasan, apapun namanya dan apapun alasannya, adalah tidak manusiawi, sesuatu yang menafikan harkat kemanusiaan (dehumanisasi). Dehumanisasi ini bersifat mendua, dalam pengertian terjadi atas diri mayoritas kaum tertindas dan juga atas diri minoritas kaum penindas. Keduanya menyalahi kodrat manusia sejati. Mayoritas kaum tertindas menjadi tidak manusiawi karena hak-hak asasi mereka dinistakan, karena mereka dibuat tidak berdaya dan dibenamkan dalam “kebudayaan bisu” (submerged in The Culture of Silence).1 Adapun minoritas kaum penindas menjadi tidak manusiawi karena telah mendustai hakekat keberadaan dan hati nurani sendiri dengan memaksakan penindasan bagi manusia sesamanya.
Karena itu tidak ada pilihan lain, ikhtiar memanusiakan kembali manusia (humanisasi) adalah pilihan mutlak. Humanisasi adalah satu-satunya pilihan bagi kemanusiaan, karena walaupun dehumanisasi adalah kenyataan yang terjadi sepanjang sejarah peradaban manusia dan tetap merupakan suatu kemungkinan ontologis di masa mendatang, namun ia bukanlah suatu keharusan sejarah. Secara dialektis, suatu kenyataan tidaklah mesti menjadi suatu keharusan. Jika kenyataan menjadi suatu keharusan, maka menjadi tugas manusia untuk mengubahnya agar sesuai dengan apa yang seharusnya. Inilah fitrah manusia sejati (the man’s ontological vocation).
Bagi Freire, fitrah manusia sejati adalah menjadi pelaku atau subyek, bukan penderita atau obyek. Panggilan manusia sejati adalah menjadi pelaku yang sadar, yang bertindak mengatasi dunia serta realitas yang menindas atau yang mungkin menindasnya. Dunia dan realitas atau realitas dunia ini bukan “sesuatu yang ada dengan sendirinya”, dan karena itu “harus diterima menurut apa adanya” sebagai suatu takdir atau semacam nasib yang tak terelakkan, semacam mitos. Manusia harus menggeluti dunia dan realitas dengan penuh sikap kritis dan daya-cipta, dan hal itu berarti atau mengandaikan perlunya sikap orientatif yang merupakan pengembangan bahasa pikiran (thought of language), yakni bahwa pada hakekatnya manusia mampu memahami keberadaan dirinya dan lingkungan dunianya yang dengan bekal pikiran dan tindakan “praxis”2-nya ia merubah dunia dan realitas. Karena itulah manusia berbeda dengan binatang yang hanya digerakkan oleh naluri. Manusia juga memiliki naluri, tapi juga memiliki kesadaran (consciousness). Manusia memiliki kepribadian, eksistensi. Ini tidak berarti manusia tidak memiliki keterbatasan, tetapi dengan fitrah kemanusiaannya seseorang harus mampu mengatasi situasi-situasi batas (limit-situations) yang mengekangnya. Jika seseorang yang menyerah pasrah pada situasi batas itu, apalagi tanpa ikhtiar dan kesadaran sama sekali, maka sesungguhnya ia tidak manusiawi lagi. Seseorang yang manusiawi harus menjadi pencipta (the creator) sejarahnya sendiri. Dan, karena seseorang hidup di dunia dengan orang-orang lain sebagai umat manusia, maka kenyataan “ada bersama” (being together) itu harus dijalani dalam proses “menjadi” (becoming) yang tak pernah selesai. Ini bukan sekedar adaptasi, tapi integrasi untuk menjadi manusia seutuhnya.
Manusia adalah penguasa atas dirinya, menjadi bebas. Ini adalah tujuan akhir dari upaya humanisasinya Freire. Humanisasi, karenanya adalah juga berarti pemerdekaan atau pembebasan manusia dari situasi-situasi batas yang menindas di luar kehendaknya. Kaum tertindas harus memerdekakan dan membebaskan diri mereka sendiri dari penindasan yang tidak manusiawi sekaligus membebaskan kaum penindas mereka dari penjara hati nurani yang tidak jujur melakukan penindasan. Jika masih ada perkecualian, maka kemerdekaan dan kebebasan sejati tidak akan pernah tercapai secara penuh dan bermakna.
LATIHAN: Menyekolahkan Kembali Masyarakat?*
Oleh: Russ Dilts
“Anda melatih binatang, Anda mendidik manusia!”
Begitu ucap pepatah lama. Tetapi, binatang tidak biasa mengikuti lokakarya atau penataran, sementara kita sibuk dalam banyak kegiatan yang umumnya disebut sebagai kegiatan latihan (training). Bagi kaum awam, arti kata latihan biasanya diartikan sebagai kegiatan latihan berolah raga atau kegiatan fisik lainnya. Bagi kaum terpelajar, terutama yang berkecimpung dalam kegiatan pengembangan masyarakat, kegiatan latihan diartikan sebagai suatu inti proses pengembangan sumber daya manusia. Bagi kalangan lainnya lagi, perbedaan pengertian antara latihan dengan pendidikan sering dikaburkan, atau malah digabungkan saja menjadi “pendidikan dan latihan” (diklat). Secara umum, latihan lebih diartikan sebagai suatu kegiatan yang menunjang berbagai fungsi atau peranan tertentu dalam masyarakat, seperti para perwira yang menerima latihan militer, atau para pegawai yang disuruh mengikuti “latihan jabatan” (on the job training).
DIMANA-MANA LATIHAN
Setiap orang dalam hidupnya pernah melatih atau dilatih. Bayi-bayi (orang Barat) dilatih “ber-WC” (toilet training), biarawan Budha melakukan latihan spiritual, para pejabat memberi dan menerima latihan kepemimpinan, para petugas lapangan mengikuti latihan penyuluhan, dan sebagainya.
Latihan merupakan suatu usaha yang besar dan luas, karena itu perlu mendapatkan perhatian kita. Sementara di Indonesia kini terdapat lebih dari sejuta pelajar beramai-ramai berebut tempat masuk ke berbagai perguruan tinggi, sementara itu pula akan terdapat lebih banyak lagi orang dewasa yang akan mengikuti berbagai jenis latihan. Di pabrik-pabrik dan perusahaan-perusahaan, latihan-latihan pra-jabatan, manajemen, penyegaran tugas-tugas, dan latihan jabatan, masih terus berlangsung. Pada lembaga-lembaga pembangunan dan pemerintahan, komponen latihan selalu masuk dalam setiap proyek yang diusulkan. Lembaga swasta menawarkan banyak latihan khusus, sementara kantor-kantor dan birokrasi menyelenggarakan latihan “peningkatan” (up-grading), serta media massa melaksanakan latihan jarak jauh. Kita semua pun terjangkau oleh kegiatan latihan: orang-orang yang “putus sekolah” memperoleh latihan ketrampilan; para calon transmigran mendapatkan latihan pertanian; para ibu rumah tangga memperoleh latihan jahit-menjahit dan cara merawat bayi; para petani terlantar memperoleh latihan pemasaran; para pemuka masyarakat menerima latihan kepemimpinan; para bekas narapidana mengikuti latihan penyesuaian diri kembali ke masyarakat; kader-kader desa dilatih teknik-teknik pengembangan masyarakat; dan, last but no least, para pelatih atau pemandu latihan sekalipun masih tetap mengikuti “latihan untuk pelatih”. Demikian seterusnya.
Sajak Sebatang Lisong
Teks “Sajak Sebatang Lisong”:
menghisap sebatang lisong
melihat Indonesia Raya
mendengar 130 juta rakyat
dan di langit
dua tiga cukung mengangkang
berak di atas kepala mereka
matahari terbit
fajar tiba
dan aku melihat delapan juta kanak – kanak
tanpa pendidikan
aku bertanya
tetapi pertanyaan – pertanyaanku
membentur meja kekuasaan yang macet
dan papantulis – papantulis para pendidik
yang terlepas dari persoalan kehidupan
delapan juta kanak – kanak
menghadapi satu jalan panjang
tanpa pilihan
tanpa pepohonan
tanpa dangau persinggahan
tanpa ada bayangan ujungnya
……………………..
menghisap udara
yang disemprot deodorant
aku melihat sarjana – sarjana menganggur
berpeluh di jalan raya
aku melihat wanita bunting
antri uang pensiunan
dan di langit
para teknokrat berkata :
bahwa bangsa kita adalah malas
bahwa bangsa mesti dibangun
mesti di up-grade
disesuaikan dengan teknologi yang diimpor
gunung – gunung menjulang
langit pesta warna di dalam senjakala
dan aku melihat
protes – protes yang terpendam
terhimpit di bawah tilam
aku bertanya
tetapi pertanyaanku
membentur jidat penyair – penyair salon
yang bersajak tentang anggur dan rembulan
sementara ketidak adilan terjadi disampingnya
dan delapan juta kanak – kanak tanpa pendidikan
termangu – mangu di kaki dewi kesenian
bunga – bunga bangsa tahun depan
berkunang – kunang pandang matanya
di bawah iklan berlampu neon
berjuta – juta harapan ibu dan bapak
menjadi gemalau suara yang kacau
menjadi karang di bawah muka samodra
……………………………
kita mesti berhenti membeli rumus – rumus asing
diktat – diktat hanya boleh memberi metode
tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan
kita mesti keluar ke jalan raya
keluar ke desa – desa
mencatat sendiri semua gejala
dan menghayati persoalan yang nyata
inilah sajakku
pamplet masa darurat
apakah artinya kesenian
bila terpisah dari derita lingkungan
apakah artinya berpikir
bila terpisah dari masalah kehidupan
WS RENDRA
(Agustus 1977 )
* ) “Sajak Sebatang Lisong” dipersembahkan Rendra buat mahasiswa ITB dan dibacakan pada 17 Agustus 1977, sekaligus menjadi salah satu adegan film “Yang Muda Yang Bercinta” karya (alm) Syumandjaja.
* ) Diambil dari sumber-sumber terbuka di Internet



